Love After Agreement

Love After Agreement
Bab 9


__ADS_3

Filia kini menatap tinggi gedung di depannya, ia tidak menyangka jika suaminya Gryson adalah seorang pemilik dari gedung yang berada di hadapannya. Bahkan terlihat lebih kaya dari papah, gumam Filia dalam hatinya. Dengan langkah pelan dan sedikit ragu, Filia mulai memasuki area lobby, ia segera menghampiri meja resepsionis untuk menanyakan ruangan kerja Gryson.


"Permisi, Kak. Maaf mau tanya, ruangan Tuan Gryson ada di lantai berapa?" tanya Filia dengan sopan.


Resepsionis itu menatap Filia dari ujung kepala sampai dengan ujung kaki, Filia yang di tatap intens oleh resepsionis itu merasa tidak nyaman.


"Kak, apa ada yang salah dengan penampilan saya?" tanya Filia setelah beberapa saat resepsionis itu tidak menjawab dan malah terus menatapnya.


"Akh, Hmmm, maaf. Apa sebelumnya sudah ada janji?" tanya resepsionis itu yang ber-nametag Laila.


"Saya datang karena disuruh oleh Tuan Gryson untuk membawakan makan siang," jawab Filia sembari memperlihatkan tempat makanan yang ia bawa.


"Kalau boleh tahu, dengan nona siapa saya sedang berbicara?" tanya Laila.


"Nama saya–"


"Rupanya kau sudah datang, kenapa tidak langsung naik aja ke atas?" tanya Gryson, saat ia melihat Filia yang sedang berdiri di depan meja resepsionis dan menghentikan perkataan Filia yang akan menyebutkan namanya.


"Maaf, Tu–mmmh, Mas Grys, aku tidak mengetahui lantai berapa ruangan mu berada dan berniat untuk menanyakannya terlebih dulu," jawab Filia.


Resepsionis itu terus memperhatikan interaksi antara Gryson dan Filia, mungkin Gryson tidak menyadarinya, tapi Filia menyadarinya dan hal itu membuatnya sangat tidak nyaman.


"Mmmh, Mas Grys, sebaiknya kita langsung naik aja ke lantai atas," ajak Filia yang sudah tidak tahan dengan tatapan Laila.


Gryson sedikit merasa sedikit heran dengan bahasa tubuh yang Filia perlihatkan, lantaran sangat kentara seperti orang yang tidak nyaman.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Gryson dengan khawatir.


"Ti–tidak ada, aku ... aku hanya merasa pegal saja karena sudah memakai hak yang cukup tinggi." Filia memberikan alasan seperti itu dengan menundukkan kepalanya.


Gryson pun mengerti dan segera mengajak Filia untuk berjalan ke arah lift khusus yang akan mengantar langsung ke lantai tempat ruangannya berada.


"Baiklah, ayo kita segera naik saja," ucap Gryson.


Mereka pun mulai melangkah menuju lift yang Gryson maksud, sementara itu Laila terus memperhatikannya hingga akhirnya Gryson dan Filia memasuki lift itu.


"Mas, kenapa resepsionis tadi terus memperhatikan ku, ya? Dia membuat ku tidak nyaman," akunya.


Gryson sedikit mengerutkan keningnya mendengar pengakuan Filia.

__ADS_1


"Benarkah? Mungkin hanya perasaan mu saja?" tanya Gryson memastikan.


"Iya. Maka dari itu aku kurang nyaman tadi," jawab Filia.


Setelah beberapa saat, lift itu pun berhenti tepat di lantai tiga puluh, tak ada ruangan lain di sana, hanya terdapat dua pintu dan meja sekretaris saja.


"Ayo," ajak Gryson sembari menarik pelan tangan Filia.


Sedangkan Filia hanya menurut saja karena tangannya sudah digenggam oleh suaminya itu. Filia menatap takjub pada ruangan Gryson, ia berjalan melewati meja dan sofa yang ada di sana menuju kaca besar yang menjadi dinding gedung itu.


"Wow, menakjubkan," gumam Filia. Ayah Filia memang mempunyai perusahaan sendiri, tapi perusahaannya tidak sebesar milik Gryson dan juga gedung yang hanya terdiri dari lima lantai.


Gryson mengikuti arah pandangan Filia yang menetap keluar gedung itu, dia menghampiri Filia dan berdiri disampingnya.


"Apa kau menyukai ketinggian?" tanya Gryson yang melihat Filia masih menatap ke arah luar.


"Iya, aku sangat menyukai pemandangan di sini," jawab Filia tanpa mengalihkan pandangannya.


Gryson tersenyum mendengar jawaban Filia.


"Kau boleh datang kemari kapan pun kau mau," ucap Gryson dengan tatapan tajamnya.


"Terimakasih, tapi itu tidak perlu," jawab Filia.


"Apa karena surat perjanjian itu? Kau boleh membatalkannya kapanpun kau mau," ujar Gryson. Karena itu adalah harapan yang sangat diinginkan olehnya.


Filia menggelengkan kepalanya, "Tidak perlu, itu sudah menjadi keputusan ku."


Gryson menghembuskan nafasnya kasar, sungguh ia sangat ingin jika Filia juga menganggap pernikahan mereka adalah sebuah takdir dan bukan untuk main-main.


"Terserah kau saja, aku akan ikuti semua keinginanmu," ucap Gryson.


Filia tidak lagi menanggapi ucapan suaminya, ia berjalan mengitari meja dan segera menyiapkan makan siang untuk mereka berdua.


"Sebaiknya Mas Grys cepat makan siang," ucap Filia mencoba untuk mengalihkan pembicaraan mereka.


Gryson menyadari hal itu, tapi ia tidak ingin memaksa Filia untuk menerima keinginannya. Ia percaya jika Filia suatu saat nanti pasti akan membalas perasaannya.


"Baiklah, ayo kita makan bersama," ajak Gryson yang diangguki oleh Filia. Akhirnya mereka pun makan siang bersama dalam keheningan. Makanan yang Filia bawa kini sudah habis, setelah membereskan kembali tempat makanan itu, Filia ingin cepat pulang dan kembali ke apartemen.

__ADS_1


"Mas, setelah ini, aku pamit pulang duluan ya," ijin Filia.


Gryson menarik nafasnya dan menghembuskan secara perlahan, ia masih ingin Filia tetap tinggal di sana, ia ingin Filia pulang bersamanya nanti sore.


"Lia, jika aku memintamu untuk tetap tinggal di sini, apa kau mau menurutinya?" tanya Gryson seraya menatap matanya langsung.


Lagi-lagi Filia tidak bisa menolak keinginan Gryson, dia kembali menganggukkan kepalanya.


"Apa kau keberatan?" tanya Gryson yang melihat Filia hanya terdiam.


"Tidak, baiklah. Aku akan menunggumu di sini sampai Mas pulang," jawab Filia menyanggupi permintaan suaminya, tidak lupa ia juga memberikan senyuman manis yang membingkai wajahnya.


Gryson sempat terpana melihat senyuman manis istrinya, lantaran baru kali ini ia melihat Filia tersenyum hangat padanya.


Ya Tuhan, andai dia mempunyai niat yang sama dengan ku, pasti aku tidak akan menyia-nyiakannya, batin Gryson.


Ya, dia memang sudah memutuskan untuk menjalani pernikahannya dengan niat menikah sekali, seumur hidup. Dia sudah berjanji pada dirinya, akan selalu memperlakukan teman hidupnya dengan sebaik mungkin Dia percaya, jika cinta akan hadir dengan seiring berjalannya waktu.


"Mas, kamu kenapa?" tanya Filia dengan heran yang melihat Gryson terus menatapnya.


"Kamu cantik," jawab Gryson spontan, bahkan dia sendiri merasa malu dengan jawabannya dan langsung mengalihkan pandangannya ke penjuru ruangan itu.


Lain halnya dengan Filia, pipinya sudah kembali memanas saat mendengar jawaban spontan Gryson. Keduanya sangat canggung atas kejadian itu. Filia yang mulai menggigiti bibir bawahnya karena merasa canggung, dan Gryson yang terpancing dengan tindakan Filia.


"Berhentilah menggigiti bibir mu seperti itu," ucap Gryson mengulurkan tangannya untuk mengusap bibir bawah Filia, perlahan ia mendekatkan jarak diantara keduanya dan mulai saling berhadapan, Gryson menarik tengkuk Filia.


Awalnya hanya saling bersentuhan, tapi karena merasa tidak ada penolakan, Gryson memberanikan diri untuk mencium bibir istrinya. Filia mulai terbawa arus permainan suaminya, mereka sama-sama di rundung n**su. Sebelum akhirnya suara ketukan pintu menyadarkan aksi mereka.


Tok... tok... tok...


Dasar pengganggu, umpat Gryson dalam hatinya.


Gryson segera bangkit, begitupun dengan Filia yang wajahnya sudah sangat memerah bak kepiting rebus.


Ya Tuhan, apa yang baru saja aku lakukan? batin Filia.


Dia benar-benar merasa malu saat ini.


"Se–sebaiknya kamu beristirahat di kamar," ucap Gryson sembari menunjuk pada pintu yang berada di sudut ruang kerjanya.

__ADS_1


"Aku ada meeting sebentar siang ini. Maaf karena akan membuatmu menunggu," sambung Gryson yang segera diangguki oleh Filia. Setelah itu, ia pun meninggalkan Filia di ruangannya.


__ADS_2