Love After Agreement

Love After Agreement
Bab 75


__ADS_3

Malam hari di rumah Tuan Dean, saat beliau sedang mengerjakan beberapa pekerjaan kantornya di ruang kerja, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu ruangannya.


"Masuk!" perintah Tuan Dean tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas-kertas yang menumpuk di atas meja.


"Tuan, saya membawa berita penting," ucap orang itu setelah ia masuk dan berdiri di depan meja kerja sang majikan.


Tuan Dean mengalihkan pandangannya, ia menatap pria yang kini sedang berdiri di hadapannya. Dia adalah anak buah yang ia perintahkan untuk mencari keberadaan Rainer bernama Aris, dia sudah kembali dengan membawa berita.


"Katakan!" jawab Tuan Dean dengan tegas.


Aris mengambil sesuatu dari dalam saku jas dan menyerahkannya pada Tuan Dean. "Kami sudah mendapatkan alamat rumah gadis yang sedang bersama Tuan Muda. Mereka bukan asli orang sini, tapi mereka sudah membantu Tuan Muda untuk bersembunyi dan menjaganya."


Tuan Dean segera bangkit dari duduknya saat mendengar penuturan pria yang kini sedang berada di depannya. "Katakan sekali lagi! Kamu benar-benar menemukan anakku?"


"Iya, Tuan. Sekarang beliau sedang ada di rumah gadis itu yang beralamat di jalan A, dekat pasar tradisional," jawab Aris dengan tegas.


Tuan Dean bernafas lega, ia merasa batu yang selama ini menghimpit dadanya tiba-tiba hilang seketika. Perasaan bersalah yang selama ini benderanya, seakan menguap seketika saat Aris mengatakan jika dia sudah menemukan keberadaan sang anak.


"Terima kasih, Tuhan," ucapnya sambil menengadahkan tangannya.


"Siapkan kepergian kita besok, aku akan mengajak istriku dan Filia untuk menjemputnya." Tuan Dean segera memerintahkan bawahannya itu untuk menyiapkan keperluannya besok. Aku sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengannya, batinnya sambil menerawang jauh.


"Baik, Tuan. Saya pamit undur diri," jawab Aris sebelum ia berlalu meninggalkan ruang majikannya.


Tuan Dean hanya mengangguk pelan sebagai jawaban dari ucapan sang anak buah.


Setelah kepergian Aris, Tuan Dean kembali termenung. Selama ini dirinya hidup enak dengan nyaman, tapi tidak dengan Rainer. Anak itu harus menghadapi kejamnya dunia sendirian, semenjak mamanya meninggal sesaat setelah ia dilahirkan, Rainer di rawat di panti asuhan di pinggir kota. Ia tidak pernah mengetahui sedikit pun tentang keberadaan jika dirinya masih mempunyai keluarga. Andai saat itu Bellina tidak mengungkitnya, sampai kapan pun Tuan Dean tidak akan pernah mengetahui tentang Rainer.


Maafkan Papa, Rain. Papa tidak pernah mengetahui keberadaanmu dan Papa juga terlambat menyadarinya. Maafkan Papa karena sudah menelantarkanmu, Nak. Tuan Dean membatin sambil menyembunyikan matanya yang sudah mulai berair dibalik kedua telapak tangannya.


Tak lama setelah pintu ruangannya tertutup, Nyonya Rini datang dan menghampiri Tuan Dean yang masih menutup wajah dengan kedua tangannya, hingga ia tidak menyadari kedatangan sang istri.


"Pa, apa Aris sudah membawa kabar tentang keberadaan Rainer?" tanya Nyonya Rini saat ia sudah duduk di kursi depan meja kerja suaminya.


Tuan Dean menurunkan tangan dari wajahnya dan mengangguk pelan. "Iya, Ma. Rainer sudah ditemukan, Aris juga memberikan alamat rumah tempat Rainer berada." Tuan Dean memberikan secarik kertas yang tadi ia terima dari anak buahnya.


Nyonya Rini mengernyitkan keningnya setelah ia membaca alamat rumah yang diberikan sang suami. "Bukankah alamat ini yang berada dekat dengan pasar tradisional itu, Pa?"


"Iya, Ma. Rainer tinggal di sana bersama seorang perempuan dan Kakeknya."

__ADS_1


Nyonya Rini mengangguk samar. "Oh, baiklah. Aku mengerti. Kapan kamu akan menjemputnya?"


"Besok. Aku sudah meminta Aris untuk menyiapkan semua keperluannya. Kamu mau, 'kan, ikut bersamaku untuk menjemputnya?" tanya Tuan Dean dengan wajah penuh harap menatap sang istri.


"Tentu. Aku akan ikut bersamamu," jawab Nyonya Rini sambil tersenyum hangat.


"Terima kasih, Ma. Kamu memang istriku yang terbaik," ucap Tuan Dean langsung berdiri dan memeluk sang istri yang masih duduk.


"Sama-sama, Pa."


***


Keesokkan paginya, Disya, Abah Ija dan Rainer sedang duduk bersantai di atas bale-bale di depan rumahnya, mereka baru saja pulang dari pasar setelah menjual beberapa ayam.


"Bah, tumben ada mobil masuk kawasan sini?" tanya Disya yang baru menyadari jika ada mobil masuk ke gang depan rumahnya.


"Mana, Dis?" tanya Abah Ija yang belum melihat mobil itu.


"Itu." Disya menunjuk arah mobil yang mulai tampak bagian depannya.


"Oh iya, 'ya. Tumben sekali."


Tak lama kemudian, mobil itu pun berhenti tepat di depan rumah mereka, sehingga membuat Disya dan juga Abah Ija langsung berdiri untuk menyambut seseorang yang hendak turun dari mobil.


Tuan Dean dan Nyonya Rini tersenyum ramah dan segera menghampiri pemilik rumah yang sedang berdiri menyambut kedatangan mereka.


"Permisi, Kek. Apa benar ini rumah Kakek Ija?" tanya Tuan Dean ramah.


"B–benar. Maaf, Tuan dan Nyonya ini siapa dan ada perlu apa datang kemari?" tanya Abah Ija dengan wajah bingungnya.


"Perkenalkan, saya Dean dan ini istri saya, Rini. kedatangan kami kemari untuk menjemput Rainer. Kami adalah orang tuanya," jawab Tuan Dean.


Abah Ija terlihat was-was dan tidak percaya dengan ucapan Tuan Dean.


"Benarkah? Tapi, bagaimana bisa Anda mengaku sebagai kedua orang tuanya begitu saja, sedangkan Rainer sendiri tidak menanggapi kedatangan kalian berdua?"


Tuan Dean terlihat sedikit gelisah, ia sadar jika Abah Ija tidak langsung mempercayai ucapannya. "Maaf, Kek. Ceritanya panjang. Jika Kakek berkenan untuk mendengarkan, saya akan menceritakannya."


Abah Ija beberapa kali menganggukan kepalanya sebelum ia mempersilakan kedua tamu itu untuk masuk ke rumahnya.

__ADS_1


"Baiklah, sebaiknya kita berbicara di dalam saja."


"Tentu. Terima kasih, Kek," ucap Tuan Dean.


Mereka pun akhirnya masuk ke rumah sederhana itu dan duduk bersama di atas sofa yang tersedia di sana. Berbeda halnya dengan Nyonya Rini, ia memilih untuk menghampiri pria muda di atas bale-bale sambil memainkan mainan ditangannya.


Apa dia anak Mas Dean? Mereka memang sangat mirip, batin Nyonya Rini tanpa mengalihkan perhatiannya dari Rainer.


Disya menyadari tatapan Nyonya Rini yang terarah pada Rainer. "Maaf, Nyonya. Dia tidak bermaksud untuk tidak sopan, tapi karena dia sedikit ...."


"Tidak apa-apa, aku mengerti." Nyonya Rini langsung menghentikan ucapan Disya yang hendak mengatakan kekurangan Rainer. Ia tidak tega harus mendengar orang lain mengucapkan apa yang menjadi kekurangan anak suaminya.


Di dalam rumah, Tuan Dean mulai menceritakan semua asal usul Rainer pada Abah Ija. Sedangkan Nyonya Rini memilih untuk ikut duduk di atas bale-bale di samping Rainer. Disya sendiri masuk ke dapur untuk menyiapkan minuman untuk kedua tamu dan abahnya. Ia meninggalkan Nyonya Rini bersama Rainer.


"Halo anak tampan ...." Nyonya Rini mencoba untuk mengajak Rainer berkomunikasi.


Rainer terlihat diam dan menghentikan gerakan tangannya, tapi ia juga tidak menatap Nyonya Rini yang sedang disampingnya. Nyonya Rini bisa langsung melihat ekspresi wajah Rainer yang ketakutan, pria itu seketika menjauhkan tubuhnya dari jangkauan Nyonya Rini, ia juga menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya sembari menggumamkan kata-kata yang tidak jelas.


Disya segera menghampiri Nyonya Rini dan Rainer setelah ia menyimpan minuman di atas meja depan Tuan Dean dan Abah Ija.


"Rainer kenapa, Nyonya?" tanya Disya dengan khawatir.


"Saya tidak tahu, Dek. Barusan saya hanya mencoba untuk menyapanya saja, tapi dia langsung bereaksi seperti orang yang ketakutan," jawab Nyonya Rini tak kalah panik.


"Oh, begitu. Gak apa-apa, Nyonya. Dia emang kadang bersikap kayak gini," ucap Disya sambil mengusap punggung Rainer untuk menenangkannya.


Nyonya Rini tertegun setelah mendengar ucapan Disya, ia tidak menyangka jika trauma yang dialami oleh Rainer segitu dalamnya, sehingga membuat dia takut berkomunikasi dengan orang lain.


Ya Tuhan, Nak. Ternyata trauma mu tidak seringan yang aku kira, semoga saja suatu saat nanti kamu sembuh dan kembali normal layaknya pria lain, batin Nyonya Rini sambil menatap sendu Rainer.


Tuan Dean melihat wajah sang istri yang terlihat sendu saat menatap sang anak, ia tahu kegundahan yang sedang dialami oleh istrinya. Tuan Dean menghampiri ketiga orang itu setelah sempat meminta izin pada Bah Ija.


"Kenapa, Ma?" tanya Tuan Dean saat ia sudah berdiri di samping Nyonya Rini.


"Bagaimana cara membujuk Rainer untuk ikut bersama kita, Pa? Kita tidak mungkin membiarkan dia untuk tinggal di sini bersama Disya dan Kakek Ija," tanya Nyonya Rini tanpa mengalihkan pandangannya dari Reiner yang sedang ditenangkan oleh Disya.


Tuan Dean mendesah kasar saat mendengar pertanyaan sang istri, dia pun ikut bingung karena melihat reaksi Rainer, anaknya seperti orang ketakutan saat melihat orang yang tidak dikenalnya.


Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya ia pun memutuskan untuk berbicara langsung dengan Abah Ija.

__ADS_1


"Maaf sebelumnya, Kek. Apa Kakek akan mengijinkan jika Disya menemani dan menjaga Rainer di rumah saya? Hanya untuk beberapa saat saja. Biarkan Disya membantu istri saya untuk merawatnya," ucap Tuan Dean, ia sangat berharap jika Abah Ija akan mengijinkan Disya untuk ikut bersamanya.


__ADS_2