Love After Agreement

Love After Agreement
Bab 55


__ADS_3

Pagi ini di apartemen Filia terasa lebih sibuk. Meskipun ia tinggal sendiri dan bisa bebas sarapan kapanpun, tapi pagi ini ia harus segera menyiapkan sarapan untuknya dan juga sang suami yang sebentar lagi akan segera tiba.


Wanita muda itu terus mondar-mandir dan sibuk merapikan dapur yang baru saja ia pakai. Setelah selesai merapikan semuanya dan menata makanannya, Filia segera berjalan cepat menuju kamarnya untuk membersihkan diri.


"Tumben sekali Mas Grys tidak sarapan di rumah?" tanyanya pelan yang entah pada siapa.


Tak berapa lama setelah Filia selesai memakai baju, ia mendengar seseorang yang membuka pintu unit apartemennya.


"Sayang, apa kamu sedang berada di dalam?" Gryson menatap sekeliling apartemen yang terasa sunyi.


"Aku di sini, Mas." Filia menyahuti pertanyaan suaminya tanpa keluar dari kamar. Ia masih belum selesai dengan kegiatannya.


Gryson tersenyum saat mendengar sahutan sang istri, ia pun segera melangkah mendekati kamar yang Filia tempati. Di apartemen itu terdapat dua kamar tidur dan salah satunya dipakai oleh Filia, sedangkan kamar satunya lagi dibiarkan kosong.


"Kufikir kamu sedang keluar, sayang," ucap Gryson yang sudah berdiri di belakang sang istri.


Filia menengadah dan menatap wajah suaminya yang berada di belakangnya. "Memangnya aku mau ke mana, Mas? Semua keperluanku sudah kamu sediakan di sini. Dan lagi pula ini masih terlalu pagi untuk keluar."


Gryson tersenyum dan mengecup sekilas kening sang istri. "Iya, kamu benar. Ini masih terlalu pagi untuk keluar rumah, tapi dua wanita ulat bulu itu sudah datang ke rumah dan menghancurkan pagiku yang tenang."


Filia mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan sang suami yang mengatai dua wanita ulat bulu. "Maksudmu siapa, Mas?"


"Siapa lagi jika bukan Clara dan Bellina," ucap Gryson dengan wajah yang sudah di tekuk kesal.


Filia membulatkan matanya saat mendengar nama Clara disebut oleh sang suami. "Mas, apa maksudmu Clara juga menyukaimu?"


"Hmmm, entah sejak kapan. Aku tidak tahu pastinya dan sekarang gadis itu sedang bersaing dengan sepupumu untuk mendapatkan perhatian Mama," jawab Gryson.


"Ya sudah, biarkan saja mereka berbuat seperti apapun yang mereka inginkan. Yang penting sekarang kamu ada di sini bersamaku dan hanya ada aku dalam hatimu." Filia memeluk Gryson yang sudah terlihat kesal.


Gryson tersenyum mendengar ucapan Filia, ia juga balas memeluk sang istri dan balik bertanya, "Apakah di hatimu juga ada aku?"


Filia menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami saat mendengar pertanyaan darinya, ia mengangguk pelan di sana, wajahnya sudah terasa panas karena merasa gugup dan malu. "A–aku juga mencintaimu, Mas. Cuma ada kamu dalam hatiku."

__ADS_1


"Benarkah? Kenapa tidak menatapku secara langsung?" tanya Greyson sambil menggoda Filia yang masih memeluknya.


"Aku malu," jawab Filia dengan suara pelan dan hampir tidak terdengar.


Gryson menarik pelan tubuhnya agar terlepas dari pelukan, ia menyentuh dagu sang istri, bisa ia lihat saat ini Filia sangat gugup dan malu karena wajahnya sudah memerah. Perlahan Gryson mulai menunduk dan mendekati wajah Filia, ia menatap lekat mata sang istri. Mata yang selalu memancarkan ketenangan dan kedamaian untuknya.


"Aku juga mencintaimu," ucap Gryson tepat sebelum ia mencium lembut bibir istrinya.


Filia menyambut hangat ciuman Gryson, ia mulai mengalungkan tangan di lehernya, sedangkan tangan Gryson pun tidak tinggal diam, ia memegangi tengkuk Filia untuk menahannya. Sebelah tangannya lagi ia pakai untuk memeluk pinggang istrinya. Percumbuan mereka berlangsung beberapa menit, sebelum Filia melepaskannya karena sudah kehabisan nafas. Ia teringat jika Gryson harus berangkat kerja.


"Mas, bukankah kamu harus cepat sarapan dan ke kantor?" tanya Filia menghentikan aksi sang suami yang semakin menjadi.


Gryson menghentikan tangannya saat mendengar pertanyaan Filia. "Akh, iya. Aku hampir melupakan hal itu. Andai saja pagi ini tidak ada meeting mungkin aku bisa menemanimu sebentar."


Filia terkekeh geli melihat raut wajah Gryson yang sedikit kecewa. Ia kembali merapikan kemeja suaminya yang sudah sedikit berantakan akibat ulahnya. "Kamu bisa kemari kapanpun, Mas."


"Hmmm, iya juga, ya? Bagaimana jika malam ini aku menginap di sini?"


"Tentu, di sini juga tempatmu pulang."


"Wah, sekarang kamu sudah pandai memasak, ya?" tanya Gryson saat ia melihat ada beberapa hidangan yang tersaji di atas meja makan.


"Aku hanya sedang berusaha untuk menyenangkanmu, semoga kamu menyukainya, Mas," jawab Filia. Mereka pun menikmati pagi itu dengan sarapan bersama.


***


Di rumah Gryson, Nyonya Mona tengah menahan sakit kepala karena kesal pada dua wanita yang sejak pagi sudah mengganggunya. Bellina dan Clara saling memojokkan satu sama lain dan saling berebut perhatian dari Nyonya Mona juga.


"Tante, silakan coba masakanku," ucap Bellina sambil menyerahkan makanan yang baru saja ia pindahkan dari kotak yang di bawanya.


"Jangan makanya itu, Tante. Bisa saja makanan itu tidak higienis dan mengandung kuman. Tante makan ini saja, ini masakan Mamaku, lho. Rasanya lezat dan tidak tertandingi." Clara ikut menyerahkan makanan yang dibawanya dan menyingkirkan makanan Bellina dari hadapan Nyonya Mona.


"Apa kamu bilang? Makanan ini higienis, aku berani menjaminnya. Mungkinkah makananmu yang mengandung racun?" tanya Bellina yang tidak terima jika Clara mengatai makanannya tidak higienis.

__ADS_1


Tanpa sadar, Clara menggebrak meja makan sehingga membuat Nyonya Mona dan Bellina terkejut.


"Makananku tidak beracun, jal*ng!" ucap Clara sambil berteriak pada Bellina.


Nyonya muda sudah tidak tahan lagi dengan perdebatan yang terjadi antara Clara dan Bellina, ia bangkit dari duduknya dan menarik tangan kedua wanita muda itu.


"Lho, Tante kenapa?" tanya Clara saat Nyonya Mona mencekal tangannya.


"Iya, Tante. Ada apa?" Belina ikut bertanya saat tangannya juga dicekal oleh Nyonya Mona.


Nyonya Mona tidak menjawab pertanyaan dari kedua wanita itu. Ia menggusur Clara dan Bellina menuju pintu rumah dan mengusir kedua wanita muda itu.


"Jangan pernah menginjakkan kaki kalian lagi di sini, jika hanya membuat keributan dan juga membuatku pusing!" Ia menutup pintunya dengan kasar dan mengacuhkan kedua wanita yang terus menggedor pintu rumahnya.


"Ini semua gara-gara kamu!" tuduh Bellina tepat di depan wajah Clara.


Clara menepis tangan Bellina yang ada di hadapannya. "Jangan menuduhku. Lihat juga dirimu, kamu tidak lebih baik dariku, jal*ng!"


Bellina melangkah dan mendekati Clara, sepagi ini dia sudah berkali-kali dikatai jal*ng olehnya. Tanpa diduga, Bellina mendorong tubuh Clara hingga tersungkur dan jatuh mengenai salah satu sudut tiang, kening Clara terluka karena ulahnya.


"Bellina jal*ng! Berani kamu melakukan hal ini padaku? Aku tidak akan tinggal diam!" teriak Clara memegang keningnya yang terasa ngilu.


"Benarkah? Silakan saja jika kamu berani adukan pada Mamamu. Aku melakukan hal itu karena kamu yang terlebih dulu memulainya!" sanggah Bellina.


Nyonya Mona yang mendengar keributan masih terjadi di depan rumahnya segera menghampiri mereka mereka.


"Kalian masih di sini?" tanya Nyonya Mona tidak suka. "Ya Tuhan, Clara ... keningmu kenapa?" tanya Nyonya mana lagi yang baru sadar saat melihat kening Clara yang terluka.


Clara langsung menghampiri Nyonya Mona dan memeluknya, ia menangis di pelukan itu. "Tante, Bellina sudah mendorongku hingga ku terjatuh dan membentur tiang itu."


Nyonya Mona menggeleng pelan saat mendengar aduan dari Clara. Jika bukan karena Mama Clara adalah teman dekatnya, Nyonya Monas sangat enggan berurusan dengan gadis centil itu.


"Sudah, tidak apa-apa. Ayo, tante akan membantu untuk mengobati lukamu," ucap Nyonya Mona pada Clara, mereka meninggalkan Bellina yang masih berdiri mematung di sana.

__ADS_1


"S*al! Lihat saja kamu Clara. Aku tidak akan tinggal diam melihat kamu bersikap seperti itu padaku!" Bellina pergi dari rumah Nyonya Mona dengan perasaan yang marah dan juga kesal.


__ADS_2