
Setelah pulang kerja, Gryson dan Filia benar-benar mengunjungi rumah kedua orang tua istrinya. Tidak lupa, mereka juga membawa makanan yang sebelumnya sudah dipesankan Gryson pada chef andalannya, ia membawa makanan itu sebagai bingkisan.
Di sinilah ia saat ini, berdiri menatap rumah yang selama delapan belas tahun ia tinggali, begitu banyak kenangan yang tersimpan di dalamnya. Meskipun ia baru beberapa hari meninggalkan rumah itu, tapi ia merasa sangat merindukannya, termasuk ia juga merindukanmu kedua orang tuanya.
Dengan semangat dan senyuman yang terpancar dari wajahnya, ia menggenggam tangan suaminya, melangkah mendekati pintu itu untuk mengetuknya terlebih dahulu.
Tok ... tok ... tok ....
Jantung Filia berdebar kencang takala menanti mamanya yang membukakan pintu. Hingga beberapa saat kemudian, barulah pintu itu terbuka.
Ceklek ....
Bukan mama atau pun papanya yang membukakan pintu, melainkan Bellina yang membukanya.
"Filia, loe kenapa ada di sini?" tanya Bellina dengan mimik terkejut, ia tidak menyangka jika Filia akan mengunjungi rumah orang tuanya hari ini.
Filia tidak kalah terkejutnya dengan Bellina, ia tidak menyangka jika sepupunya itu sedang berada di rumah orang tuanya.
"Harusnya aku yang bertanya, kenapa kamu ada di sini? Di mana Mama dan Papaku?"
"Mmmh, mereka ... mereka–"
"Sayang, siapa yang datang kenapa tidak diajak masuk?" suara Mama Rini terdengar dari dalam dan menghentikan ucapan Bellina.
Filia menatap tajam sepupunya, bagaimana bisa mamanya memanggil Bellina dengan panggilan sayang? Seingatnya dulu mamanya tidak pernah memanggil Belina dengan sebutan 'Sayang'.
Tanpa menunggu lama lagi, Filia langsung menerobos masuk ke dalam rumahnya diikuti sang suami di belakangnya, sedangkan Bellina mengekor di belakang Gryson.
__ADS_1
"Mama, Papa, Lia datang." sapa Filia yang melihat mama dan papanya sedang duduk bersantai di sofa.
Mendengar suara anaknya, Nyonya Rini dan Tuan Dean langsung berdiri tegak dan menatap anak serta menantunya.
"Ka–kamu? Kenapa kamu datang kemari?" tanya Nyonya Rini pada sang anak, Filia.
Nyonya Rini dan Tuan Dean terlihat gugup sekaligus cemas melihat kedatangan anaknya.
Ya Tuhan, kenapa Filia datang di saat seperti ini? batin Nyonya Rini cemas menatap suaminya.
Filia sendiri merasa sakit hati mendengar pertanyaan orang tuanya, ia kira Mama Rini hanya akan memarahinya jika sedang menelpon saja. Meskipun begitu ia tetap menampilkan senyuman hangat pada kedua orang tuanya, sedangkan kedua orang tuanya menatap dingin sang anak.
Gryson sendiri merasa heran pada kedua mertuanya, ia tidak menyangka jika ternyata sikap mereka akan seperti itu pada istrinya.
"Lia hanya rindu Mama dan Papa, jadi Lia mengunjungi kalian. Kebetulan juga Mas Grys sedang tidak sibuk, jadi dia bisa mengantarkanku kemari," jawab Filia.
"Oh." Mama Rini hanya menjawabnya dengan singkat, tanpa melihat sang anak.
"Bagaimana kabar kalian? Maaf, karena baru sempat berkunjung hari ini," ucap Gryson.
"Kami baik, kalian duduklah." Tuan Dean mempersilakan anak dan menantunya untuk duduk bersama mereka.
Filia terus memperhatikan gerak-gerik Bellina, sepupunya itu terlihat cemas dan tidak nyaman.
"Ma, Pa, sebaiknya aku masuk kamar. Maaf, karena tidak bisa menemani kalian mengobrol," ucap Bellina sebelum dia pergi meninggalkan mereka.
Mama? Papa? Sejak kapan Bellina memanggil mereka dengan sebutan itu? Kenapa aku tidak mengetahuinya? Sebenarnya apa yang sudah terjadi? batin Filia bertanya-tanya.
__ADS_1
Filia melihat kepergian Bellina, ia tidak mencegah sepupunya itu, meskipun sedikit penasaran, tapi ia memilih untuk memendamnya.
"Mama, bolehkah aku mengetahui sesuatu? Sejak kapan Bellina memanggil kalian dengan sebutan Mama dan Papa?" tanya Filia tidak suka.
"Memangnya apa hak kamu bertanya seperti itu? Terserah kami saja, lagi pula itu tidak akan merugikanmu." Tuan Dean menjawab pertanyaan anaknya dengan sinis, ia tidak memikirkan bagaimana perasaan Filia saat ini.
Filia dan Gryson menatap tidak percaya pada, sepasang orang tua itu. Ya Tuhan, kenapa mereka berubah secara drastis padaku? Padahal kesalahan yang pernah kulakukan itu tidak sepenuhnya salahku, tapi kenapa hanya aku yang dibenci di sini? batinnya sambil menatap sedih kedua orang tuanya.
"Bukan maksudku seperti itu, Ma, Pa. Aku hanya ingin mengetahuinya saja, lagi pula aku senang jika kalian mengangkat Bellina sebagai anak kalian, jadi sekarang aku mempunyai seorang saudara perempuan," jawab Filia se-riang mungkin, ia mencoba mayakinkan kedua orang tuanya jika dirinya baik-baik saja.
Gryson hanya menatap pasangan itu tanpa ikut campur dalam pembicaraan mereka, ia tidak mau salah langkah. Di sini ia tidak bisa berkata apa-apa karena tidak mengetahui masalah yang sedang terjadi dalam keluarga istrinya, tapi jika kedua orang tua istrinya mulai melakukan kekerasan, barulah ia akan mengambil tindakan.
"Baguslah jika kamu tidak keberatan," jawab Nyonya Rini tidak kalah sinisnya.
Setelah mengatakan itu, keheningan melanda di ruang keluarga, Filia yang tidak mengatakan apa-apa dan orang tuanya juga tidak mengatakan apapun. Hingga saat ia menyadari salah satu foto keluarga baru yang terpampang di sana.
Filia menghampiri foto itu untuk memastikan penglihatannya. Ke–kenap foto keluargaku diganti? Kenapa hanya Bellina yang berada di sana. Ia pun kembali melihat foto-foto yang menjadi pajangan di ruangan itu sudah berganti dengan sosok yang baru.
Betapa sakit hatinya saatnya melihat foto-foto dirinya yang biasa terpajang di sana, kini sudah berganti dalam foto Belina. Ia me*emas kuat ujung bajunya untuk menahan sakit hati yang tengah di rasakannya.
Setelah selesai melihat foto-foto itu, ia pun kembali duduk bergabung dengan orang tua dan suaminya.
Dengan menunduk Filia berkata, "Ma, Pa, aku tahu, sebagai anak aku belum bisa membanggakan kalian. Bahkan aku juga menyadari semua kesalahan yang sudah kuperbuat, tapi apa kalian harus melakukan ini semua padaku? Aku anak kandung Mama dan Papa, tapi kenapa aku diperlakukan seperti ini oleh kalian?"
Gryson mengusap bahu Filia, ia juga menyadari jika sikap kedua orang tua istrinya sudah keterlaluan.
"Memangnya apa yang sudah kami lakukan? Bukankah hal wajar jika kami hanya mengganti foto-foto lama?" tanya Nyonya Rini tanpa rasa bersalah.
__ADS_1
"Ma, Pa, tolong jangan benci padaku seperti ini ...! Aku ... aku menyesal karena sudah membuat kalian malu, tapi aku bersungguh-sungguh, sebelum ini aku dan Mas Grys tidak pernah saling mengenal," ucap Filia dengan jujur, meskipun ia tahu jika orang tuanya tidak akan mudah mempercayainya.
"Sudahlah, Filia. Kamu tidak perlu menjelaskannya lagi. Semuanya sudah terlanjur, pulanglah," ucap Mama Rini sambil bangkit dari duduknya, diikuti Papa Dean yang meninggalkan anak serta menantunya.