
Seorang wanita tengah terdiam, ia termenung sejak beberapa menit yang lalu. Pandangannya memang mengarah ke tempat keramaian, tapi tatapan kosong itu menunjukkan jika pikirannya tidak sedang berada di sana.
setelah pertemuannya dengan Nyonya Mona, Filia minta diantar ke taman tempat ia biasa merenung. Pikirannya masih melanglang buana pada beberapa saat yang lalu.
Flashback on
"Lia, maafkan Mama. Sikap Mama terhadapmu sudah sangat keterlaluan. Mama sadar, semua yang Mama lakukan padamu pasti akan membuatmu ragu untuk memaafkanku. Tapi, Mama mohon, Lia. Maafkan Mama," ucap Nyonya Mona dengan terisak.
Filia masih diam mematung dan mencoba untuk memahami kata-kata yang baru saja diucapkan oleh mertuanya. Ia masih ragu dengan ucapan yang Nyonya Mona yang tiba-tiba meminta maaf padanya.
"Nyonya, berhentilah untuk bersandiwara. Katakan saja padaku, apa yang Anda inginkan?" tanya Filia. Bahkan mereka masih berdiri tepat didepan pintu ruangan VIP itu.
Nyonya Mona menggenggam tangan Filia pelan, ia membawanya untuk duduk di kursi meja yang sudah dia pesan. Di sana belum ada makanan yang tersaji, hanya ada segelas jus milik Nyonya Mona yang tinggal setengahnya lagi dan air minum dalam kemasan.
"Sebaiknya kita duduk dulu, Lia. Ada hal yang ingin Mama bicarakan padamu. Mama harap, kamu mau mendengarkan perkataanku." Nyonya Mona menggenggam kembali tangan Filia yang terlepas. Meskipun akan sulit baginya untuk mendapatkan maaf dari Filia, tapi ia tidak ingin menyerah begitu saja, ia akan berusaha untuk mengambil kembali hati Filia, itulah tekadnya.
Filia merasa sedikit risih karena perlakuan Nyonya Mona yang tiba-tiba berubah padanya. Bagi Filia, perubahan sikapnya mana terbilang sangat mendadak. Bayangkan saja, baru beberapa hari yang lalu mereka bertemu dan saat itu Nyonya Mona masih memaki dia habis-habisan di depan umum. Namun saat ini, wanita paruh baya itu tiba-tiba berubah 180°, itu membuatnya ragu.
"Nyonya, saya yakin, saat ini Anda sedang tidak ingin membuang-buang waktu berhargamu. Katakan saja apa yang harus saya lakukan, Anda tidak perlu repot-repot bersandiwara seperti ini," ucap Filia dengan nada dinginnya.
Nyonya Mona menggeleng pelan saat mendengar ucapan Filia. Saat ini dirinya sedang bersungguh-sungguh meminta maaf, tapi tanggapan Filia masih mengira jika dirinya sedang bersandiwara.
Apakah seperti ini rasanya tidak dipercayai oleh seseorang? batin Nyonya Mona, ia merasa sedikit sakit hati karena Filia tidak mempercayai ucapannya.
Nyonya Mona sadar, apa yang dilakukannya dulu, kini berdampak buruk untuknya saat ini. Dia tidak bisa memaksa Filia untuk segera memaafkannya, tapi dia berharap menantunya itu mempunya hati yang baik dan tulus, sehingga sudi memaafkan semua kesalahan yang sudah ia lakukan dulu.
"Lia, Mama tidak mempunyai niat buruk padamu. Mama benar-benar sudah menyesal karena dulu pernah bersikap kasar dan buruk padamu. Mama ingin merubah semuanya, Nak. Berikan Mama kesempatan untuk menjadi mertuamu lagi ...." Nyonya Mona terdiam sesaat, ia tahu jika Filia mungkin akan bertambah marah padanya karena mengakui dialah yang mengambil kertas perjanjian yang pernah dibuat oleh Filia, serta rencana dia yang hendak melukai Filia. Meskipun akhirnya harus Gryson yang menanggung sendiri kecelakaan itu.
__ADS_1
"Dan apa, Nyonya?" Bahkan Filia masih memanggil mertuanya dengan sebutan 'Nyonya'
Terlihat keraguan pada diri Nyonya Mona, wajahnya yang cemas, serta jari tangan yang saling bertaut di bawah meja saat Filia mempertanyakan ucapannya yang terhenti.
"Maafkan Mama, Lia. Mama yang sudah mengambil kertas surat perjanjian nikah kalian. Mama juga pernah berencana untuk melukai dengan menabrakmu di depan salon. meskipun pada akhirnya Gryson—lah yang menjadi korbannya," ucap Nyonya Mona cepat, tapi dengan suara pelan.
Filia membulatkan matanya, ia tidak menyangka jika Nyonya Mona pernah berniat untuk menyingkirkannya. Lalu, kenapa sekarang sikapnya berubah banyak? Apa dia masih mencoba untuk mengelabuiku? tanya Filia dalam hatinya.
Meskipun saat ini di merasa sangat kecewa, marah kesal dan sedih, tapi ia berusaha untuk tetap tenang. Ada dua nyawa yang harus di jaganya. Jadi, sebisa mungkin Filia mencegah emosinya tidak meledak di tempat itu.
"Apa alasan Nyonya melakukan semua itu? Padahal, saat itu saya pernah berfikir untuk pergi dari kehidupan kalian setelah 40 hari pernikahan. Saya juga tidak pernah berniat untuk merebut Mas Gryson dari Anda." Filia menengguk air minumnya sesaat, kemudian ia melanjutkan lagi kata-katanya. "Andai Mas Gryson tidak meminta saya untuk meneruskan pernikahan ini dan tidak membuat saya jatuh cinta padanya, mungkin saya akan dengan senang hati menjauhinya. Tapi maaf, sekarang saya sudah mencintainya," sambung Filia pelan. Ia tidak menyangka akan mengakui perasaanya secara sepontan pada sang mertua.
Setelah mendengar semua isi hati Filia, diam-diam Nyonya Mona tersenyum tipis. Ia merasa lega karena ternyata sang anak memiliki istri yang benar-benar mencintainya, tanpa memandang siapa dirinya.
Ya Tuhan, ternyata selama ini aku sudah salah sangka terhadap menantuku sendiri. Aku selalu mengira jika dia hanya mau memanfaatkan kekayaan yang kami punya saat ini, batin Nyonya Mona merasa terharu dengan ucapan Filia.
Filia sendiri hanya membiarkan tangannya digenggam oleh Nyonya Mona, ia tidak berusaha untuk menolaknya ataupun meladeninya, Filia masih ingin melihat sampai mana kesungguhan Nyonya Mona
Sebenarnya aku masih sangat penasaran, kenapa Nyonya Mona berubah secepat ini dalam waktu kurang dari tiga hari? Apa alasan sebenarnya dia bersikap seperti saat ini? tanya Filia dalam hatinya.
"Maaf, Nyo–"
"Tidak, Lia. Berhenti memanggilku dengan sebutan 'Nyonya', aku mertuamu, Nak. Kembalilah memanggilku 'Mama'." Kali ini mata Nyonya Mona tampak berkaca-kaca, ia sudah merasa panas kuping karena sejak tadi Filia terus-menerus memanggilnya dengan sebutan 'Nyonya'.
Filia terdiam sejenak, kemudian terdengar embusan napas berat sebelum kembali berkata, "Baiklah, terserah Anda saja. Maaf, bisakah berikan saya waktu untuk bisa mencerna semua ini? Rasanya kejadian ini terlalu mendadak," ucap Filia.
"Akh, iya, Lia. Aku mengerti." Nyonya Mona menegakkan punggungnya sebelum kembali berkata, "Tapi Lia, aku meminta maaf padamu dengan bersungguh-sungguh. Aku menyadari semua kesalahan yang sudah pernah kulakukan padamu. Apalagi saat ini kamu sedang mengandung, aku tidak ingin cucuku sampai kehilangan kasih sayang dari kedua orang tuanya hanya karena keegoisanku," sambungnya dengan pelan.
__ADS_1
Lagi-lagi Filia mematung terkejut. Kenapa Nyonya Mona juga mengetahui kehamilan? Sejak kapan dia mengetahuinya? Apa alasan dia berubah karena mengetahui aku hamil? tanya Filia dalam hatinya.
"Se–sejak kapan Anda mengetahui kehamilan saya dan dari mana Anda mengetahui hal itu?" tanya Filia dengan nada terkejutnya.
"Selama ini aku mau mata-mataimu, maaf." Nyonya Mona menunduk, sedangkan Filia menggeleng pelan. Benar-benar sangat mengejutkan untuknya saat mengetahui jika Nyonya Mona terus memantaunya.
Filia tersenyum tipis, ia menghargai usaha Nyonya Mona yang ingin mengetahui lebih banyak tentang dirinya. Hanya saja caranya yang salah membuat dia sedikit terusik.
"Nyonya–" Filia menatap sejenak mata Nyonya Mona yang terlihat kecewa atas panggilannya, tapi tidak ia pedulikan dan kembali melanjutkan kata-katanya. "–Apa yang sudah anda lakukan itu sangatlah mengganggu privasi saya, meskipun sampai saat ini saya tidak mengetahui tujuan Anda yang sebenarnya, tapi saya harap Anda tidak melakukan hal seperti ini lagi," ucap Filia dengan menatap lekat mertuanya.
"Baiklah, aku tidak akan melakukan hal itu lagi," jawab Nyonya Mona seraya mengangguk.
Keheningan pun melanda keduanya, mereka berdua sibuk dengan pemikirannya masing-masing, hingga beberapa saat kemudian Nyonya Mona kembali mengatakan sesuatu yang membuat Filia tercengang.
"Lia, sebenarnya Gryson mengalami amnesia. Sampai saat ini dia belum mendapatkan kembali ingatannya," ujar Nyonya Mona. Walau bagaimanapun dia harus mengatakan hal yang itu pada sang menantu, ia berharap Filia mau membantu Gryson untuk mengembalikan ingatannya.
"Benarkah? Apa penyebabnya gara-gara kecelakaan saat itu?" tanya Filia yang langsung diangguki oleh Nyonya Mona.
Melihat anggukan Nyonya Mona, membuat Filia menutup mulutnya yang tengah terbuka lebar saking terkejut. Bahkan kini wanita hamil itu terlihat berkaca-kaca seraya menyentuh perutnya yang sedikit menggelembung.
"Filia, tenanglah. Aku akan berusaha membantumu untuk mendapatkan kembali ingatan Gryson, bukankah dia juga harus mengetahui tentang keberadaan anak yang masih ada dalam kandunganmu?" tanya Nyonya Mona. Kemudian ia bangkit dan memeluk Filia yang masih terkejut, Filia membiarkan Nyonya Mona yang sedang memeluknya.
Mas Grys hilang ingatan? Apa itu berarti dia juga melupakanku? Lalu, bagaimana dengan pernikahan kami selanjutnya? tanya Filia dalam hatinya. Ia begitu syok atas kenyataan yang baru saja diucapkan oleh orang tuanya
"Kamu yang sabar, Lia. Kita akan berusaha untuk mengembalikan ingatan Gryson. Mama merestui pernikahan kalian sekarang," ucap Nyonya Mona. Kemudian dia mengecup sebelah kepala Filia yang sedang ada dalam dekapannya.
Flashback off
__ADS_1