Love After Agreement

Love After Agreement
Bab 84


__ADS_3

"Maafkan Mama Grys, maaf ...." Nyonya Mona menangis tersedu-sedu diperlukan Gryson, ia tidak bisa tidur ataupun makan dengan nyaman semenjak kemarin bertemu dengan Disya. Pikirannya melanglang buana hingga perasaan bersalahnya pun muncul.


"Ma, tenanglah. Sebenarnya ada apa?" tanya Gryson sembari mengajak mamanya untuk duduk.


Nyonya Mona mengikuti ajakan Gryson untuk mendudukkan dirinya di salah satu sofa yang ada di ruangan itu. Wanita paruh baya itu masih belum menghentikan tangisannya. Gryson sendiri hanya bisa membiarkan sang mama menangis sampai ia merasa lebih baik.


Setelah melihat Nyonya Mona yang mulai tenang, Gryson segera memberikan air minum.


"Sudah lebih tenang, Ma?" tanya Gryson sembari mengambil alih gelas yang baru saja dipakai minum oleh mamanya.


Nyonya Mona mengangguk pelan sambil menyeka air mata yang terus mengalir di pipinya, nafasnya pun masih tersengal-sengal karena terlalu lama menangis.


"Grys, ada sesuatu hal yang ingin Mama sampaikan padamu. Mama harap kamu tidak marah saat mengetahuinya." Nyonya Mona memulai pembicaraannya dengan Gryson, hatinya sedikit berdebar karena takut jika anaknya tidak bisa menerima semua perilaku buruk tentang dirinya saat masih muda dulu.


Gryson mengernyitkan keningnya, ia sendiri pun merasa sangat heran dengan ucapan mamanya. Namun, ia juga penasaran dengan kelanjutan ucapan yang dilontarkan oleh sang mama.


"Apa yang mau Mama bicarakan? Apa alasannya aku harus marah?" tanya Gryson, ia menyentuh tangan mamanya dan meyakinkan Nyonya Mona untuk meneruskan kembali pembicaraan itu.


"Sebenarnya, kamu ... kamu memiliki seorang adik perempuan." ucap Nyonya Mona dengan cepat, bahkan saking gugupnya ia menutup matanya dengan rapat. "Tapi, dia berbeda ayah denganmu. Mama meninggalkan adikmu itu saat masih bayi bersama ayahnya. Mama menyesal dulu sudah melakukan hal itu," sambung Nyonya Mona, ia kembali menenggelamkan wajah di kedua telapak tangannya.


Gryson tidak bereaksi apa-apa, ia sudah mengetahui tentang kebenaran itu. Maka dari itu, ia tidak terkejut sama sekali saatnya Nyonya Mona berterus terang padanya.


"Benarkah?" tanyanya datar.


Nyonya Mona sedikit heran dengan reaksi anaknya, dia pikir Gryson akan langsung marah dan bertanya-tanya tentang banyak hal, tapi kini anaknya itu justru tidak bereaksi apa-apa.


"I–iya, Grys," jawab Nyonya Mona seraya menunduk.


Kenapa Gryson hanya diam saja? Mungkinkah dia sangat terkejut? tanya Nyonya Mona dalam hatinya.


Gryson terdiam sesaat, pria itu melepaskan tangannya dari Nyonya Mona. Dia membenarkan duduknya sebelum kembali bertanya, "Lalu, di mana sekarang adikku itu?"


Meskipun kenyataannya Gryson sudah mengetahui jika sang adik ada di rumah Filia, tapi dia belum mau mengungkapkannya pada sang mama. Gryson ingin melihat kesungguhan mamanya jika dia benar-benar menyesali perbuatannya dulu.


"Mama tidak tahu, Grys. Mama sudah lama tidak bertemu dengannya," jawab Nyonya Mona tanpa menyingkirkan tangan dari wajahnya.


Gryson mendesah kasar setelah mendengar jawaban sang mama, dia tahu Nyonya Mona pasti tidak akan menyangka saat tahu jika anaknya berada di rumah Filia. Sedangkan Nyonya Mona mengira helaan napas Gryson adalah tanda dirinya sedang frustasi.


Melihat Gryson yang hanya terdiam, Nyonya Mona kembali khawatir. "Grys, apa kamu marah?"

__ADS_1


Gryson menatap lurus mamanya. "Menurut Mama, wajar tidak jika aku marah dan kecewa?" tanyanya.


Nyonya Mona menunduk lagi, dia sadar perbuatannya dulu sudah sangat keterlaluan, tapi dia berharap jika masih ada kesempatan kedua untuknya memperbaiki kesalahan itu.


"Grys, Mama tahu, kesalahan Mama sangatlah besar. Tapi, tidak bisakah kamu membantu Mama untuk mencari adikmu itu agar mama bisa meminta maaf padanya." Nyonya Mona menangkupkan kedua tangan di depan dadanya, ia menatap reason dengan pandangan penuh harap.


"Apa Mama bisa memberikanku petunjuk untuk mencarinya?" tanya Gryson. Ia tidak mau langsung mengatakan jika Disya berada di rumah Filia, karena itu akan membuat mamanya curiga. Maafkan aku, Ma. Aku belum bisa berkata jujur padamu, batinnya.


Nyonya Mona menggeleng pelan saat mendengar pertanyaan Gryson, ia benar-benar tidak mengetahui apapun tentang anak perempuannya.


"Mama tidak mempunyai petunjuk apapun, Grys. Mama meninggalkannya di perkampungan bersama ayah, serta kedua nenek kakeknya. Semenjak Mama pergi dari perkampungan itu, Mama tidak mengetahui apapun lagi tentangnya," ujar Nyonya Mona dengan rasa bersalahnya.


"Lalu, siapa nama ayah dari adikku itu? Dan di mana mereka tinggal saat ini?"


"Nama ayahnya Irwan, mereka tinggal di kampung S yang berada di kota T. Tapi, Mama merasa sepertinya mereka sudah pindah," jawab Nyonya Mona dengan lesu.


Iya, sekarang aku yakin jika perempuan yang bernama Disya itu adalah adikku. Nama ayahnya pun sama seperti mantan suami Mama dulu, batin Gryson.


"Baiklah, aku akan membantu Mama untuk mencari keberadaan mereka. Berdoa saja semoga kita segera menemukan mereka, agar Mama tidak terlalu merasa bersalah. Mama juga harus segera minta maaf padanya."


Ucapan Gryson membuat Nyonya Mona kembali bersedih, ia tahu jelas kesalahannya dulu sangatlah mendalam dan tidak main-main.


Gryson sedikit bersyukur karena ternyata mamanya juga bisa merasa bersalah seperti itu. Ia sadar jika mamanya juga hanya manusia biasa yang terkadang khilaf melakukan kesalahan.


Semoga suatu saat nanti Mama bisa menerima Filia menjadi menantunya dan menerima anak yang tengah dikandung oleh Filia sebagai cucunya, batin Gryson.


***


Keesokkan harinya, Nyonya Mona kembali datang ke perusahaan. Setelah tadi malam ia tidak melihat anaknya pulang ke rumah, wanita paruh baya itu cukup khawatir.


"Grys, tadi malam kenapa kamu tidak pulang ke rumah?" tanya Nyonya Mona sembari meletakkan sarapan yang ia bawa dari rumah untuk anaknya.


"Aku sangat sibuk, Ma. Mama tidak perlu khawatir, aku bisa menjaga diriku sendiri." Gryson duduk di samping mamanya yang tengah menata makanan di atas meja.


"Kamu jangan terlalu lelah. Ingat, kamu harus lebih banyak beristirahat," ucap Nyonya Mona.


"Aku sudah sehat, Ma. Aku sudah tidak merasakan sakit lagi."


Nyonya Mona menatap anaknya yang kini tengah menyuapkan makanan yang ia bawa. Sebenarnya ia sangat penasaran dengan ingatan Gryson, apalagi setelah anak buahnya berkata jika sang anak pernah mengunjungi rumah lamanya.

__ADS_1


Apa benar Gryson sudah mendapatkan kembali ingatan lamanya? Tapi jika memang benar, kenapa sampai saat ini Gryson tidak bertanya apapun tentang Filia? gumam hati Nyonya Mona. Kira-kira, apa yang akan dia lakukan jika tahu aku sudah berusaha untuk melukai Filia, meskipun pada akhirnya malah dia yang terluka? sambungnya lagi.


"Grys, apa sampai saat ini kamu belum mengingat apapun tentang masa lalumu?" tanya Nyonya Mona dengan penasaran. Setidaknya aku harus memastikannya terlebih dahulu, batinnya.


Gryson menghentikan gerakannya yang hendak kembali menyuapkan makanan, ia berbalik dan menatap mamanya.


Jika aku mengatakan yang sebenarnya saat ini, apa yang akan Mama lakukan? Gryson belum benar-benar yakin dengan mamanya. Ia khawatir mamanya akan mengusik ketenangan Filia.


"Ada apa, Ma? Kenapa Mama tiba-tiba menanyakan hal itu?" tanya Gryson.


"Ti–tidak ada. Mama berharap kamu cepat sembuh dan bisa mendapatkan ingatan lamamu kembali," jawab Nyonya Mona sembari membuang pandangannya ke arah lain.


Selesai percakapan itu, Gryson kembali memakan sarapannya, sedangkan Nyonya Mona hanya menatapnya dalam diam. Ada hal lain yang tengah ia pikirkan.


Setelah melihat Gryson selesai dengan sarapannya, Nyonya Mona segera membereskan kembali kotak makanan yang kini sudah kosong.


"Grys, Mama pamit pulang sekarang, ya," ucap Nyonya Mona sebelum ia berdiri.


Gryson menatap heran sang mama. Tumben, kenapa Mama cepat-cepat pulang? Tidak biasanya, batinnya.


"Baiklah. Mama hati-hati di jalan," pesan Gryson sebelum Nyonya Mona membuka pintu ruangannya.


"Tentu."


Setelah itu, Nyonya Mona pun melangkah pergi dari ruangan Gryson, ia berniat untuk menemui seseorang.


***


Saat ini Filia tengah duduk di sofa ruang tengah, ia duduk bersama Disya yang selalu menemaninya. Saat ia masih sedang sibuk menatap layar televisi, tiba-tiba ponselnya berdering menandakan ada pesan yang masuk.


Filia segera menyambar ponsel yang ia simpan di atas meja, keningnya sedikit mengernyit saat ia membaca pesan dari seseorang yang memintanya untuk bertemu yang ini.


Disya tidak bisa melihat layar ponsel Filia karena layarnya yang memang di buat gelap, hanya saja Disya bisa melihat perubahan wajah Filia yang sedikit terkejut.


"Ada apa, Nona?" tanya Disya dengan khawatir.


"Mertuaku ... dia ... dia mengajak untuk bertemu dengannya siang ini," jawab Filia pelan.


Disya mengangguk paham. "Apa Nona akan menemuinya?"

__ADS_1


"Aku ... aku tidak tahu. Aku khawatir jika dia akan melukaiku, apalagi saat ini aku sedang mengandung cucunya." Filia menunduk, pesan yang dikirimkan oleh Nyonya Mona belum ia balas. Ada keraguan yang hinggap di hatinya, tapi jika ia tidak menemuinya, maka ia akan dicap sebagai menantu yang tidak sopan karena sudah mengabaikan permintaan mertuanya.


__ADS_2