
Sena yang masuk ke dalam rumah melewati pintu belakang ia sengaja berjalan mengendap-endap ia khawatir semua orang memergoki kepulangannya sampai akhirnya langkahnya terhenti saat tas ransel nya di tarik oleh seseorang dari belakang.
"Baru pulang," suara itu Sena kenal betul yah dia adalah Dirga yang sedang memergokinya.
"Mas Dirga,"
"Dari mana aja kamu jam segini baru pulang?"
"Keluar main sama temen," katanya santai entah mengapa Sena rasanya tidak pernah takut jika berhadapan dengan Dirga.
"Harusnya kamu kabari saya kalau keluar main ataupun kemana itu,"
"Iya maaf mas lupa lagi pula aku juga kan enggak punya nomor mas Dirga," seketika Dirga langsung memberikan ponselnya menyuruh Sena mencatat nomornya di ponselnya.
"Masukin nomor kamu sekarang," Sena menghela nafasnya pria satu ini benar-benar membuatnya merasa kebingungan dari pada berlama-lama dengannya ia langsung memberikan nomornya.
"Udah tuh, udah ya mas aku capek pengen istirahat."
"Ya sudah sana," bukannya pergi Sena malah sedang tampak berfikir sejenak.
"Kenapa?"
"Mas Dirga mau enggak bantuin aku?" Dirga ingin tersenyum melihat ekspresi menggemaskan dari raut wajah Sena tapi ia tahan.
"Apa?"
"Kalau mbak Sarah marahin aku, mas Dirga mau enggak bantu ngebelain aku kalau mas Dirga yang ikut ngomong mbak Sarah enggak akan berani ngomong terlalu panjang," ujarnya seraya menyatukan telapak tangannya memohon bantuan darinya.
"Ok tapi saya enggak janji,"
"Yah kok gitu sih,"
"Lagian kamu ngapain sih takut sama Sarah, belajar berani coba." ujar Dirga selepas itu ia meninggalkan Sena begitu saja.
Sena terdiam apa yang di katakan Dirga ada benarnya harusnya ia bersikap berani ia tak perlu takut menghadapi Sarah terlebih Sarah hanya manusia yang terlalu banyak bicara jika ia melawannya mungkin kah orang yang banyak bicaranya itu akan diam.
Sudahlah urusan itu bisa nanti Sena pikirkan untuk sekarang ia harus buru-buru masuk ke dalam kamarnya membersihkan tubuhnya lelah seharian berkeliling ibu kota.
***
Sena turun dari anak tangga pagi ini ia mendapati Maudy yang sedang duduk santai di ruang tengah dia yang melihat Sena langsung mencibirnya.
"Cie yang semalam diantar cowoknya," katanya berhasil membuat derap langkah kaki Sena terhenti saat niatnya ingin ke dapur.
__ADS_1
"Maksud lo apa?"
"Ya lo seharian jalan sama pacar lo ya kan sampai lupa pulang,"
"Lo kalau enggak tau apa-apa mending diam dari pada bikin gosip murahan,"
"Ck! Lho kenapa lo jadi sensi gini sih Sen,"
Dirga yang melihat perdebatan diantara mereka ia langsung menghampiri keduanya.
"Ada apa sih kalian ini masih pagi udah pada adu mulut,"
Maudy langsung berdiri, "Ini nih mas Sena marah cuma gara-gara semalam aku enggak sengaja pergokin dia pulang sama cowoknya,"
"Cowok?" tanya Dirga penasaran menatap Sena seakan tidak percaya.
"Maudy, Juan itu bukan pacar gue ya dia itu cuma temen gue lagian lo ngapain sih ngomong yang enggak-enggak kayaknya gini!"
"Oh jadi cowok semalam itu namanya Juan,"
"Sena! Mas ingatin ya sama kamu jangan asal pilih teman apalagi teman kamu itu cowok, ini kota besar jadi kamu harus lebih berhati-hati dalam memilih teman." tegas Dirga yang berhasil membuat Sena kesal pasalnya Dirga lebih memihak kepada Maudy di bandingkan dirinya bukannya semalam dia sudah meminta bantuan kepadanya.
Dan Maudy saat ini sedang merasa senang karena Dirga berpihak kepadanya apalagi jika sampai mempercayai gosip yang ia buat barusan. Di tambah yang sekarang Sarah juga datang menghampiri mereka berhasil membuat Sena merasa situasi akan semakin memburuk jika ia terus berdiri disini sampai akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke kamarnya kembali mengurungkan niatnya untuk sarapan di pagi hari moodnya sudah tidak baik.
"Enggak ada keributan disini," kata Dirga yang terlihat kesal ia juga memilih untuk meninggalkan ruangan tengah itu.
Sarah melirik Maudy ia harus mendengarkan apa yang sedang terjadi di pagi hari ini, sampai membuat raut Sena kesal.
Di kamarnya Sena sedari memilih diam seraya mengamati jendela kamarnya, di pikirannya sekarang ia merasa di dalam hidupnya sekarang tidak satupun seseorang yang mau berdiri untuknya, Sena selalu berdiri untuk dirinya sendiri bahkan ayahnya pun tidak pernah berdiri untuknya, di mata semua orang ia selalu salah tidak ada benarnya.
***
Dirga sengaja menghabiskan waktu weekend nya di dalam ruangan kerja sebenarnya ia malas untuk keluar kemana-mana apalagi di tambah keributan tadi menambah kepusingan tersendiri di kepalanya.
Dirga membuka ponselnya menekan aplikasi berwarna hijau ia teringat akan nomor Senang yang sudah tersimpan ponselnyanya.
"Kamu sudah makan?" Dirga bingung ingin mengirimkannya atau tidak, tapi akhirnya ia mengirim pesannya.
Matanya langsung membulat sempurna melihat pesannya langsung di baca berhasil membuatnya entah mengapa merasa malu.
"Ngapain mas Dirga nanyain makan emang mau ngasih makan,"
"Temui saya di belakang rumah, sekarang!"
__ADS_1
Dirga langsung bersiap-siap turun dan melewati pintu belakang menunggu Sena yang sudah di perintahkannya untuk menemuinya tapi sekarang sudah 10 menit Dirga menunggu tapi Sena belum juga menampakkan dirinya. Saat keluar dari ruangan kerjanya ia tidak mendapati dua kakak beradik itu kemungkinan mereka sedang keluar mempersiapkan beberapa kebutuhan untuk pesta nanti.
Dan akhirnya perasaan Dirga merasa lega ketika melihat Sena menghampirinya.
"Ngapain sih mas Dirga nyuruh aku kesini,"
"Saya mau keluar cari makan, kamu mau ikut apa enggak?"
"Enggak deh,"
"Kamu jangan membuat beban saya tambah banyak kalau kamu sakit nanti saya pasti yang akan keluar biaya untuk berobat kamu itu," ujarnya asal dan berhasil membuat Sena tercengang mendengarnya dalam hatinya perhitungan sekali Dirga ini, padahal Dirga tidak akan sampai kemiskinan jika harus menghidupi Sena seorang.
"Ok iya, aku ikut makan biar enggak jadi beban."
"Mau kemana?"
"Ganti baju ya kali keluar pake pakaian kayak gini,"
Dengan sabar Dirga menunggu Sena yang begitu lama ternyata gadis itu keluar di sertai dengan dandanannya yang sangat begitu elegant tak nampak seperti gadis remaja melainkan Sena terlihat begitu seperti seorang perempuan dewasa.
Mereka langsung pergi ke suatu tempat bukan mall melainkan sebuah warung Mie Yamin, warung favorit Dirga sejak dia masih sekolah SMA dan saat sampai di sana pak Tono langsung menyapa kedatangan Dirga.
"Mas Dirga gimana kabarnya?"
"Baik pak, biasa ya pak saya pesan dua."
Dirga memang sangat cuek orangnya wajar saja jika dia tidak terlalu suka banyak bicara. Sena yang melihat ia langsung menggelengkan kepala melihat sikap Dirga yang begitu kurang humble.
"Mas perempuan ini siapa kok beda lagi yang biasanya kemana?" seraya mengantarkan dua pesanan mie Yamin milik mereka.
"Masih di luar negeri,"
"Terimakasih pak," kata Sena sopan.
Matanya langsung berbinar sebenarnya ini untuk pertama kalinya Sena makan mie Yamin, "Seperti apa ya rasanya," Sena langsung melahapnya berhasil membuat Dirga terbengong pasalnya gadis di sampingnya ini benar-benar sangat rakus tidak se-elegant pakaian dan dandanannya.
"Mau nambah lagi boleh enggak?" pinta Sena memohon.
"Pesan aja,"
"Pak satu lagi ya,"
Sena benar-benar menyukai rasa dari mie Yamin ini rasanya lumayan berbeda dengan mie Ayam, besok-besok Sena akan lebih sering datang kesini karena jarak dari rumah tidak terlalu jauh juga.
__ADS_1
TO BE CONTINUED..