
"Mas Dirga kemana lagi sih apa dia enggak pulang lagi!" Sarah terus mondar-mandir di ruang tengah membuat kepala Maudy terasa pusing mendengar ocehan kakaknya itu terus menerus.
"Enggak pulang kali mba, Jangan-jangan main belakang lagi." ucapnya santai seraya memainkan ponselnya.
"Maksud kamu apa dy, mas Dirga punya wanita lain gitu?" Maudy mengangguk tapi Sarah menggelengkan kepalanya.
"Itu enggak mungkin dy mas Dirga enggak akan berani kayak gitu apalagi mas Dirga itu selalu memikirkan perasaan kedua orang tuanya,"
Ya, Maudy menganggukkan kepalanya sekali lagi. Kakak iparnya itu memang sangat mementingkan perasaan kedua orang tuanya tapi tidak mementingkan perasaan Sarah bahkan sekarang Maudy sudah tahu hubungan pernikahan Sarah dan Dirga itu pun Sarah sendiri yang menceritakan padanya dan selalu berharap adiknya tidak memberitahu kedua orang tua mereka yang berada di Aceh.
"Sena!" panggil Maudy yang melihat Sena baru saja turun dari anak tangga.
"Iya kenapa dy?"
"Lo tau mas Dirga enggak kenapa ya udah malam gini masih belum pulang juga?" Sena mengangkat bahunya, ada apa dengan Maudy saat ini kenapa bertanya pada Sena.
"Ngapain kamu nanya sama dia sih," Sarah tak suka Maudy bertanya pada Sena.
"Gue nggak tau lagian kenapa nanya sama gue yang istrinya kan mba Sarah,"
"Ya kali aja lo tau soalnya gue perhatiin lo kan deket banget sama mas Dirga,"
"Gue enggak tau," Sena melenggang pergi ke arah dapur ia perlu mengisi perutnya yang kelaparan.
Sebenarnya Maudy sengaja bertanya hal seperti itu pada Sena ia hanya ingin membuat Sena gugup akan pertanyaannya tapi dengan entengnya Sena terlihat sangat santai saat ini Maudy memang belum menemukan bukti yang kuat jika semalam pria yang masuk ke dalam kamar Sena itu pasti Dirga.
***
Sen mengaduk mie instan yang sudah ia buat saat ini ia sedang berada di meja dapur sendirian, pikirannya tengah memikirkan Dirga yang sudah sangat larut malam tapi tak kunjung pulang.
Padahal setelah Sena pulang dari kantor Dirga pria itu sempat mengirimkan pesan padanya jika dia akan pulang lebih awal tapi sampai pukul 9 malam Dirga belum kunjung pulang.
"Ck! Please Sen ngapain sih lo mikirin orang yang belum tentu mikirin lo,"
__ADS_1
Sena mencoba membuang pikirannya tentang Dirga karena bagaimana pun ia harus sadar Dirga menjadikannya kekasihnya hanya untuk pemuas nafsunya bukan karena benar-benar saling mencintai.
Mienya mulai mengembang ia bahkan tak memakannya sama sekali, Sena meraih ponselnya haruskah ia mengirimkan pesan pada Dirga tapi Sena malu ia tidak pernah memulai obrolan dengan Dirga kecuali pria itu dulu yang memulainya.
"Mas ini udah malam kapan pulang semua orang rumah nungguin kamu."
Sena mengigit jarinya butuh waktu lama untuknya menekan tombol send. Persetan! dengan gengsinya pada akhirnya Sena mengirimkan pesan itu pada Dirga tapi pria itu tidak membaca bahkan membalasnya.
"Harus banget di telepon gitu?"
Sena menaruh kembali ponselnya ia tidak ingin terus seperti ini sudah cukup gengsinya ia kurangi sedikit untuk mengirimkan pesan singkat itu tapi untuk menelepon Sena tak ingin melakukannya dan sekarang waktunya ia makan dan menghabiskan seluruh mie yang sudah mengembang.
***
Pria itu masih terus memeluk wanitanya karena ulahnya yang berhasil membuat wanitanya mengomel tak jelas padanya. Ya, mereka yang sedang berpelukan di kamar ialah Dirga dan siapa lagi kalau bukan Sena.
"Kamu itu harusnya ingat waktu, kerja sih kerja tapi tubuh kamu juga butuh istirahat." Sena terus mengomeli Dirga tapi yang di marahi malah merasa senang karena di khawatirkan oleh wanitanya.
"Iya maaf lain kali aku enggak akan pulang semalam ini,"
"Ya udah ayo kamu mandiin mas," Sena memukul lengan Dirga yang dengan entengnya berbicara seperti itu padanya.
"Kamu tau enggak sih aku ngerasa seneng banget dapat pesan dari kamu biasanya kan kamu selalu bersikap cuek," ujarnya seraya menyelipkan anak rambut di telinga Sena.
"Oh jadi karena pesan aku mas langsung pulang gitu," katanya seraya mencium pipi Dirga dengan manja membuat sang empu sangat merasa senang.
"Iya kalau kamu minta aku buat pulang jam 9 pagi pun aku pasti bakalan pulang,"
"Udah sana mandi, aku mau satu kamar sama orang yang belum mandi."
"Oh jadi itu syarat untuk bisa tidur sama kamu, harus mandi dulu?" Sena mengangguk entahlah apa yang sedang di pikirkan pria mesum seperti Dirga sekarang.
"Ok, aku mandi."
__ADS_1
Dirga mencium bibir wanitanya selepas itu ia mengambil handuk milik Sena pasalnya mereka sudah terbiasa menggunakan satu handuk bersama bahkan beberapa baju kaos milik Dirga ada di lemari Sena dan hal itu tidak ada yang mencurigainya.
Karena bagaimana pun kamar Sena jarang di bersihkan pembantu karena Sarah tidak mengizinkan pembantu membersihkan kamar Sena jadilah untuk setiap harinya Sena selalu membersihkan kamarnya sendiri, apalagi sekarang Dirga sering menyelinap masuk diam-diam ke kamarnya jadi agar tidak di cap sebagai wanita malas Sena rajin membersihkan kamarnya.
***
"Kamu bisa tinggal disini untuk sementara waktu ini apartemen milikku,"
"Thanks ga," Dirga mengangguk.
Setelah menenangkan Rania dan setelah mengetahui jika wanita itu kabur dari rumah orang tuanya ia memutuskan untuk memberikan tempat tinggal sementara untuk Rania karena bagaimana pun Dirga tidak tega menelantarkan wanita itu begitu saja.
"Ga kamu enggak akan ninggalin aku disini sendirian kan," pelukan erat terasa di tubuhnya tapi Dirga hanya terdiam, sebenarnya sudah terlalu lama waktunya menemani dan memenangkan Rania sampai-sampai ia rela menunda jadwal meeting sore harinya.
"Aku tau ga kamu pasti enggak cinta kan sama istri kamu, aku tau itu ga."
"Kalau kamu cinta sama dia, kamu pasti bakalan menolak pelukan dari aku ga, kamu juga pasti enggak akan se-perduli ini sama aku.. "
"Bahkan aku bisa ngerasain kalau kamu masih menyimpan perasaan itu untuk aku."
Dirga terdiam tanpa kata apapun ia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa tapi apa yang di katakan Rania memang benar ia tidak mencintai Sarah sebagai istri kontraknya tetapi untuk perasaannya pada Rania ia benar-benar tidak tahu apakah perasaannya memang masih ada utuh seperti dulu.
Drtt.. Ponsel Dirga bergetar refleks Dirga melepas paksa pelukan Rania dari tubuhnya ia langsung membuka ponselnya, mendapatkan pesan dari wanitanya.
"Ga,"
"Maaf Ran aku harus pulang, kamu bisa istirahat disini kalau ada apa-apa kamu bisa telepon aku."
Rania benar-benar di buat tertegun pria yang di cintai sudah tidak sama seperti dulu, biasanya jika ia minta di temani Dirga tidak akan sungkan untuk menemaninya tapi kali ini dia memutuskan untuk pergi.
"Ya, salam untuk istri kamu." Dirga mengangguk.
Andai saja Rania tahu jika wanita yang membuat Dirga lebih memilih pulang bukan karena istrinya tapi melainkan karena seorang wanita yang sudah berhasil membuat hari-hari Dirga merasa bahagia, wanita itu ialah Sena.
__ADS_1
TO BE CONTINUED...