Love Toxic

Love Toxic
Bab 19 - Dream


__ADS_3

"Ada apa sih dengan ku sebenarnya,"


Sena terbangun dari mimpinya, mimpi apa barusan yang ia alami. Mimpi berciuman kembali dengan Dirga, sungguh menjijikkan. Sena beberapa kali memukul kepalanya berharap ia bisa secepatnya melupakan kejadian itu.


"Huh ternyata sudah pagi, lebih baik aku cepat-cepat mandi dan berangkat ke sekolah. Ayolah Sena lupakan mimpi itu,"


Sena bergegas mandi dan setelah itu ia telah siap untuk berangkat, ia melewatkan sarapannya karena jujur Sena belum siap bertemu dengan Dirga.


"Kau mau berangkat ke sekolah, Mau saya antar?"


Suara itu, suara yang tak asing baginya yang tak lain suara milik Dirga.


"Enggak usah.. Aku bisa berangkat sendiri lagi pula aku buru-buru," Sena langsung berjalan cepat melewati gerbang beruntung ojol yang ia pesan sudah menunggunya di depan gerbang.


Dirga masih terdiam menatap punggung Sena yang sudah menghilang dari balik gerbang, gadis itu akhir-akhir ini selalu menghindarinya.


***


"Pak Dirga siang ini bapak ada meeting dengan klien dari perusahaan YM Global Grup," ujar sekretarisnya mengingatkan kembali jadwalnya.


"Atur saja vi waktunya," perintah Dirga pada Viola yang tak lain adalah sekretarisnya. Viola mengangguk dan langsung keluar dari dalam ruangan CEO.


Dirga masih memikirkan cara bagaimana caranya ia bisa mengembalikan keadaan seperti biasanya, hubungannya dengan Sena sudah tak sebaik dulu.


"Ada apa sih dengan dirimu Dirga.. Kenapa hanya karena gadis seperti dia berhasil membuatmu gila!" gumamnya sendiri, ia frustasi karena rasa bersalahnya.


***

__ADS_1


Tak butuh waktu lama Dirga menunggu Sena, gadis baru saja keluar dari sekolahnya Dirga langsung menghampirinya membuat Sena gugup ia ingin lari saat melihat Dirga tapi di sana ia melihat Angel dengan kedua temannya.


Kesalahannya mengakui Dirga sebagai pacarnya jadi berakibat fatal bagi dirinya, lagi pula ada sebenarnya dengan pria itu minggu lalu bersikap seakan-akan dirinya adalah miliknya.


"Kamu pasti mau pulang kan? Ayo saya antar." Sena mengangguk dan memasuki mobil Dirga.


Sabar Sena setelah ini kamu bisa menghindar kembali. Baru pertengahan jalan, Sena sudah meminta turun tapi Dirga tidak mau berhenti. Sena mengancam akan melompat jika Dirga tidak menurutinya.


"Sena kamu jangan gila, kamu mau mati hah,"


"Aku bilang berhenti, aku mau turun aja."


"Enggak saya enggak akan berhenti," karena kesal Dirga membanting setir berbelok kearah kiri mobilnya terhenti di tepian jalan.


"Saya minta maaf sama kamu, saya tahu saya salah."


"Mas Dirga udah pernah minta maaf sama aku tapi tetap aja masih bersikap kurang ajar sama aku,"


Apa Dirga sedang mengungkapkan isi hatinya atau dia hanya sedang bercanda tapi jika di lihat dari raut wajahnya Dirga seperti sedang kesal. Karena apa, karena Sena yang selalu menghindarinya.


***


Cukup lama keduanya terdiam di dalam mobil, Sena mencoba mengatur nafasnya.


"Mas.. "


"Saya minta maaf karena saya enggak bisa mengontrol emosi saya barusan,"

__ADS_1


Andai Dirga bukan kakak iparnya mungkin sudah beda lagi ceritanya.


"Ya enggak apa-apa kok mas,"


"Sena tapi saya sepertinya benar-benar menyukai kamu," Sena memutar bola matanya, ada apa sih dengan pria satu ini.


"Mas Dirga itu kakak ipar aku mas, mas harus ingat itu." Sena mencoba mengingatkannya berharap Dirga sadar.


"Saya bukan kakak ipar kamu Sena, jadi apa saya salah menyukai kamu."


Apa yang Dirga katakan benar dirinya bukanlah kakak ipar Sena. Pernikahan itu tidak pernah ada sebenarnya hanya saja Sena tidak tahu kenyataannya.


"Saya mohon sama kamu tolong jangan menghindari saya lagi, dan tolong jangan pernah beranggapan saya adalah kakak ipar kamu."


Sena bingung apa yang sebenarnya Dirga ucapkan barusan, pria satu ini tidak memberi penjelasan tapi selalu memohon kepadanya.


Sena langsung keluar dari dalam mobil tapi Dirga mengejarnya, ia sudah bersusah payah lari tapi sayang langkah kaki Dirga lebih cepat dari larinya.


"Mas Dirga mau apalagi sih!" Dirga menekuk lututnya memohon pada Sena.


"Mas berdiri enggak, nanti orang-orang ngira kita apa coba!"


"Saya enggak akan berdiri sebelum kamu berjanji sama saya kalau kamu enggak akan lagi menghindari saya," Sena menggeleng ia benar-benar di ambang kewarasannya jika dia menolak Dirga pasti akan terus memohon.


"Ok, iya aku janji sekarang cepat berdiri!" Sena memukul pundak Dirga, membuat sang empu tersenyum lebar mendengar ucapan Sena barusan.


Apa yang harus Sena lakukan sekarang ia sudah terlanjur mengatakan janji yang berarti Sena tidak akan lagi menghindar dari Dirga.

__ADS_1


Lagi pula, Sena merasa heran mengapa Dirga tiba-tiba mengatakan perasaannya padanya sejak kapan pria itu mempunyai perasaan padanya.


TO BE CONTINUED..


__ADS_2