Love Toxic

Love Toxic
Bab 36 - Guest


__ADS_3

"Halo semua kenalin aku Rania teman Dirga sewaktu kita masih kuliah iya kan ga," Dirga mengangguk.


Rania malam itu tiba-tiba datang bertamu ke rumah Dirga, mengejutkan mereka semua yang ada di rumah kecuali Dirga yang nampak begitu santai dengan kedatangan Rania.


"Mas kamu enggak pernah cerita sama aku kalau kamu punya teman perempuan?" Sarah bertanya padanya.


"Oh iya saya lupa ngasih tau ke kamu, Rania ini emang temen lama aku dan dia baru aja pulang dari luar negeri."


"Bi Mina buatkan minuman untuk Rania,"


"Udahlah ga enggak usah repot-repot lagi pula aku kesini sebentar aja kok, cuma pengen kenalan aja sama istri kamu." Rania melemparkan senyum ramahnya pada Sarah yang di balas senyum jutek dari lawannya.


"Jangan buru-buru duduk aja dulu, kita ngobrol bareng." Rania menuruti permintaan Dirga dan sekarang ketiganya duduk bersama di ruang tengah itu.


Maudy dan Sena mereka tak ikut serta di ruang tengah itu karena sekarang mereka tengah asik dengan dunianya masing-masing mereka di kamarnya.


***


Sedari tadi Sarah hanya diam dan mendengarkan obrolan asik kedua manusia yang tengah berbincang ria mengobrol kan hal yang tak di mengerti Sarah.


"Maaf menyela obrolan kalian tapi ini udah larut malam lho, apa kamu enggak mau ingin pulang?" Sarah bersuara membuat keduanya saling pandang.


"Ah iya ini udah malam banget ya kita ngobrol sampai enggak tau waktu," Rania terkekeh sendiri.


"Karena ini udah malam lebih baik kamu menginap saja disini Ran enggak baik juga kan perempuan pulang sendirian,"


"Mas," Sarah nampak tak suka dengan ide Dirga.


"Aku sih mau-mau aja kalau emang disuruh menginap disini tapi gimana dengan istri kamu, apa mengizinkan aku menginap disini?"


"Bolehkan Sar, kalau Rania menginap disini untuk malam ini aja?"


"Ya terserah kamu ajalah mas," Sarah pasrah percuma juga ia melarang toh lagi pula ia tak ada hak melarang, ini kan rumah Dirga bukan rumahnya.


"Makasih ya Sarah,"


Dirga menyuruh Sarah untuk mengantarkan Rania ke kamar tamu yang untuk di tempati nya malam ini.


***


Sena yang tengah terlelap dalam tidurnya ia merasa terusik akan pelukan dari seseorang, bahkan sekarang punggungnya terasa sedang di ciumi oleh seseorang, Sena tahu betul siapa yang mengusik tidurnya kalau bukan Dirga yang mempunyai kunci cadangan kamarnya.


"Kau terbangun," Sena membalikkan tubuhnya berhadapan langsung dengan Dirga yang sekarang tengah memandanginya.

__ADS_1


"Mas.. " Sena berujar dalam mata setengah sadarnya, ia benar-benar sudah sangat mengantuk.


"Bahkan saat sedang seperti ini kamu masih sangat terlihat cantik," Dirga mencium bibir wanitanya, ciumannya sangat terasa sampai lidah mereka saling bertautan.


Kalau tidak sedang dalam masa menstruasi mungkin Dirga sudah melucuti pakaian keduanya, tapi sayangnya Dirga harus menahan hasratnya untuk satu minggu ke depan.


"Sekarang tidurlah, aku akan disini menemanimu." Dirga mengecup dahi Sena.


Setelah puas berciuman Sena membenamkan wajahnya pada dada bidang Dirga, ia langsung tertidur pulas dalam pelukannya meskipun di luar sana rumahnya sedang mendapati seorang tamu tapi Dirga masih bisa-bisanya menyelinap masuk ke dalam kamar wanita lain.


Sudah terbiasa tidur berdua membuat Dirga sudah tak betah jika berada di kamar sendirian jika saja di rumahnya tidak ada kedua wanita itu mungkin sudah dengan bebasnya Dirga mengajak Sena pindah ke kamarnya yang lebih luas.


***


Sena melihat Rania begitu juga dengan Rania yang memandang Sena lebih tepatnya memandang kalung yang di kenakan Sena, matanya terasa tak asing dengan kalung yang di pakai Sena.


"Rania ini temannya mas Dirga, Oh iya Rania mereka berdua ini adik aku ini Maudy dan dia Sena." Sarah memperkenalkannya pada Maudy dan Sena yang terlihat kebingungan karena Rania ikut serta di meja makan.


"Salam kenal ya semuanya," Sena tersenyum mendengar ucapan Rania barusan.


Berbeda dengan Dirga yang nampak acuh dan ia mulai menikmati sarapannya begitu juga dengan yang lainnya. Sena yang kepalanya tiba-tiba terasa pusing ia merasa sedang tak berselera dengan sarapan pagi kali ini jadi ia hanya meminum susu putihnya saja tanpa menyentuh roti itu sama sekali.


"Maaf semuanya, aku duluan ya."


"Aku buru-buru mas, hari ini aku ada jadwal piket." Sena buru-buru menjauh dari meja makan , ia tidak ingin melihat tatapan intimidasi dari Dirga.


Baru saja Sena berjalan ke arah pintu gerbang pergelangan tangannya di tarik seseorang yang membuat langkah kakinya terhenti.


"Mas Dirga ada apa?"


"Kamu belum makan apapun, ini kamu bawa," Dirga memberikan kotak bekal makan yang sudah di siapkan Sarah untuknya malah ia berikan untuk Sena.


"Tapi inikan?"


"Udah kamu bawa, jangan lupa di makan nanti pulang sekolah mas jemput."


"Pak Herman anterin Sena ke sekolahnya, ingat harus sampai depan gerbang sekolahnya." Herman mengangguk mendapatkan perintah dari tuannya.


Sena tersenyum mendapatkan perhatian dari Dirga ia merasa harus membalas budi perhatian baik yang di berikan Dirga padanya.


"Udah sana masuk mobil,"


"Mas.. "

__ADS_1


"Kenapa?"  Dirga menatapnya tulus.


"Nanti siang aku mau ngasih sesuatu buat mas Dirga," bisik nya tepat di telinga Dirga.


"Sesuatu, apa itu?"


"Rahasia." Sena mengedipkan sebelah matanya membuat Dirga tersenyum manis melihat tingkah menggemaskan Sena barusan.


***


Rania pulang sekalian bersama Dirga yang akan berangkat ke kantornya di perjalanan Rania terus mengajaknya mengobrol banyak hal termasuk tentang kalung yang di beli Dirga saat bersama di toko perhiasan saat itu.


"Istri kamu suka enggak sama kalung yang pas waktu itu kamu beli?"


"Ya, dia suka. Suka banget malah," Rania mengangguk mendengarnya.


"Tapi, kok aku enggak lihat istri kamu pakai kalungnya sih ga?"


"Masa sih?" Dirga berdalih, sudah jelas kalungnya ia berikan pada Sena.


"Iya, aku enggak lihat istri kamu pakai kalung yang kamu beri jangan-jangan dia enggak suka lagi,"


"Enggak mungkin lah masa iya dia enggak suka, dia itu suka cuma emang orangnya enggak terlalu suka di pamerin aja."


"Oh gitu ya," Dirga mengangguk.


Rania mencoba menggali informasi yang lainnya, ia sekarang jadi penasaran seperti ada sesuatu yang di tutupi Dirga.


"Btw, tadi pas sarapan aku ngeliat dua adik ipar kamu sama istri kamu kok wajahnya enggak sama ya ga, salah satunya beda banget wajahnya?"


"Maksud kamu Sena paling beda sendiri?" Rania mengangguk.


"Iyalah mereka beda, Sarah dan Maudy itu lahir di rahim yang sama." Rania di buat shock mendengarnya.


"Jadi, Sena itu saudara tiri maksudnya?" Dirga mengangguk, sekarang Rania mulai mengetahui sedikit tentang mereka.


"Pantesan dia mukanya agak beda sendiri, jauh dari kata mirip malah  tapi emang dia keliatan cantik banget sih." Dirga mengangguk antusiasme.


Dirga tak ingin menjadi manusia munafik Sena memang yang paling cantik, postur tubuhnya, wajahnya bahkan bibirnya yang paling Dirga sukai sangat berbeda dari yang lainnya. Memikirkan tubuh Sena saja sudah berhasil membuat otaknya tidak waras.


TO BE CONTINUED..


Minta Vote, Like dan Komentarnya ya prend karena dukungan dari kalian sangat membantu agar semangat author kembali membara :)

__ADS_1


__ADS_2