
"Hiks.. Gue harus gimana sekarang?" Sena terus menundukkan wajahnya, ia menangis di ruang perpustakaan di temani kedua sahabatnya.
Awalnya Sena tak berniat untuk berangkat ke sekolahnya tapi jika ia putuskan untuk tetap di rumah, ia benar-benar tidak tahu harus bagaimana jika nanti menghadapi Sarah.
Sena menyadari ia memang tidak tahu diri, sudah jelas-jelas hubungannya dengan Dirga bukanlah hubungan yang baik, meskipun ia sudah tau kenyataannya jika Sarah dan Dirga hanya melakukan pernikahan bohongan tapi tetap saja apa yang sudah dia lakukan bersama Dirga sudah benar-benar melewati batas.
Sena menampar wajahnya sendiri, ia pikir ini mimpi tapi kenyataannya ini bukanlah mimpi ini benar-benar nyata, dan kenyataannya semuanya sudah mengetahuinya.
"Sen udah cukup Sena, lo enggak boleh nyakitin diri lo sendiri," Resti mencoba menenangkannya.
"Gue jahat Res karena gue udah berani ngelakuin hal..," Resti kebingungan harus bagaimana lagi ia menenangkan Sena begitu juga dengan Flo ia malah merasa kasihan dengan Sena.
Sena takut jika ketakutannya akan Sarah yang mengadukan permasalahan ini kepada ayahnya, bagaimana Sena menjawabnya nanti. Ayahnya pasti akan sangat kecewa akan perilakunya, ia benar-benar merasa bodoh karena hanya menikmati kebahagiaan yang di dapat tanpa memikirkan resikonya.
***
Meskipun dalam keadaan sedang ada masalah dalam dirinya, Sena tetap bekerja ia tidak mungkin membawa permasalahannya ke dalam pekerjanya jadi siang ini ia harus menunjukkan wajah cerianya.
"Angkat saja teleponnya kali saja penting," ujar Friska teman satu kerjanya yang melihat ponselnya Sena terus bergetar.
Sena tersenyum dan ia mengangkat panggilan dari Dirga, ia bisa mendengar suara kekhawatiran dari pria itu.
"Aku masih kerja mas, nanti jam 7 kamu bisa kan jemput aku di Cafe nanti aku sherlock alamatnya, udah dulu ya."
Sena memutuskan sambungannya, bisa-bisanya pria itu mengajaknya bertemu di vila nya disaat mereka sedang berada dalam masalah besar atau jangan-jangan Dirga tidak menganggap ini sebuah masalah serius.
Entahlah memikirkan Dirga hanya menambah pusing pikirannya, jika Sena boleh memutuskan ia ingin sekali mengakhiri hubungan beracun nya dengan Dirga tapi sejujurnya, Sena telah terlanjur jatuh hati pada pria tua itu bagaimana mungkin ia melepaskan Dirga begitu saja.
"Halo mba cantik,"
"Iya, apa ada yang mau di pesan kak?" tanya Sena ramah yang di tanya malah menunjukkan senyum manisnya.
"Saya ingin pesan coffee creamy latte tanpa gula bisa buatkan untuk saya?"
"Bisa, di tunggu sebentar ya kak," pria itu mengangguk dan tersenyum manis.
Sena membuatkan pesanan pria itu beruntung walaupun baru dua hari bekerja, ia sudah bisa menghafal apa yang diajarkan Friska padanya.
Pria itu menopang dagunya seraya memperhatikan Sena dari kejauhan, ia baru tahu di Cafe ini ternyata ada seorang barista semanis dia.
__ADS_1
"Ini pesanannya kak, silahkan di nikmati." Sena hendak kembali ketempat nya namun langkahnya terhenti akan suara pria itu.
"Tunggu, boleh saya tahu siapa namamu?" Sena mengulum senyumnya.
"Sena,"
"Oh, Sena nama yang manis semanis pemiliknya," Sena tersipu akan rayuan itu.
"Perkenalkan saya Rio, saya pegawai bank di gedung sebelah kita pasti akan sering bertemu, senang berkenalan denganmu." Rio antusias memperkenalkan diri dan tempat bekerjanya.
"Maaf, aku harus kembali bekerja,"
Sena kembali ke pekerjanya, ia hanya bingung kenapa hidupnya selalu berhadapan dengan para pria tampan, padahal baginya ketia ia berkenalan dengan pria tampan itu hanya akan membuatnya sering sekali terkena masalah.
***
Dirga sudah berdiri di samping mobilnya setelah Sena mengirimkan alamat tempat bekerjanya, jam 7 malam itu juga ia langsung menjemput wanitanya untuk pulang.
Saat ia melihat Sena keluar dari dalam Cafe, ia bisa melihat dengan jelas wajah lesu Sena. Wanitanya itu pasti memikirkan kejadian tadi pagi.
"Mas," seketika Sena berhamburan ke dalam pelukan Dirga.
"Kita mau pulang kemana, ke rumah, apartemen atau pulang ke vila saja?"
Sena menggeleng ia tidak mungkin menjadi pecundang yang takut untuk pulang hanya karena hal yang di tutupi nya terbongkar bukan berarti ia harus menjadi pengecut, ia justru harus menghadapi dan menyelesaikannya walaupun ia tidak tahu dimana jalan keluarnya masalah yang di hadapinya.
"Kita pulang ke rumah aja,"
"Kamu yakin?"
"Iya aku yakin kan ada mas yang selalu di samping aku, jadi untuk apa aku takut," Dirga mengecup dahi Sena, ia merasa senang mendengar Sena mengatakan kalimat itu barusan.
Dirga senang karena Sena sudah mulai mengandalkannya, keberadaannya di butuhkan oleh wanitanya jadi ia tidak akan pernah meninggalkannya.
"Ayo kita pulang, mas tadi udah suruh bi Mina buat masak capcay udang untuk makan malam kita," Dirga menggenggam tangan wanitanya.
Ya, Sena mencoba untuk tidak takut menghadapi masalah apapun itu asalkan bersama Dirga ia pasti bisa melewati segalanya.
***
__ADS_1
Sarah masih juga tidak mau keluar dari kamarnya seperti sekarang di meja makan hanya ada Sena dan Dirga, bahkan Maudy juga enggan untuk ikut makan malam bersama mereka.
Berbicara tentang Rania, siang tadi Dirga melarang Rania untuk menginap di rumahnya ia hanya merasa Rania tidak perlu ikut campur dalam urusannya.
"Maudy sama mba Sarah udah di panggil belum Bi, suruh mereka keluar buat ikut makan malam?" tanya Sena.
"Tadi Bibi udah panggil neng tapi mereka katanya udah kenyang," kata bi Mina seraya menaruh minuman di meja.
"Udahlah biarin aja kalau emang mereka enggak ikutan makan juga itu malah tambah bagus, biar kita bisa berduaan kayak gini." Sena mencabik kan bibirnya ia tidak suka dengan ucapan Dirga barusan.
"Ini makan, ini capcay jauh lebih enak dari buatan ya itulah.. " Dirga mengambilkan capcay udang untuk Sena.
Momen seperti ini adalah momen yang langkah bagi mereka berdua, bisa makan berdua di rumah tanpa ada gangguan. Meskipun Sena sadar tidak seharusnya ia merasa senang saat kedua saudaranya sedang marah karena ulahnya tapi ia pun tak bisa membohongi perasaan senangnya, biasanya ia dan Dirga selalu bersembunyi hanya untuk berduaan tapi sekarang mereka berdua bisa merasakan kehangatan itu.
"Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Dirga seraya mengunyah makanannya.
"Aku ngerasa senang aja, kita bisa makan berdua seperti ini tanpa harus takut ketahuan orang," Dirga menggenggam tangan Sena ia pun merasakan hal yang sama.
"Suatu saat nanti kita akan terus seperti ini.. Selamanya," Sena tersenyum manis mendengar ucapan itu barusan.
Entah mengapa tiba-tiba Sena membayangkan bahagianya jika bisa hidup bersama Dirga.
***
"Mas apa kita enggak keterlaluan," Sena masih terdiam di tempat sedangkan Dirga sudah merebahkan tubuhnya di kasurnya.
"Apanya yang keterlaluan, mereka sudah mengetahuinya dan kita saling mencintai.. " Dirga menghampiri Sena dan menggenggam tangannya.
"Ini rumahku Sena, apa mas salah ajak kamu tidur di kamar mas, kamu perempuan yang mas cintai." Dirga mencium bibir wanitanya.
"Berjanjilah sama mas mulai saat ini jangan pernah merasa bersalah, kamu sudah tau kenyataan tentang pernikahan mas dan Sarah..
"Jadi mulai sekarang kamu mau kan satu kamar dengan mas di kamar ini?" Sena mengangguk dan memeluk erat Dirga.
Mereka merebahkan tubuhnya di kasur yang berukuran king size itu, sesekali Dirga menciumi puncak kepala wanitanya tidur bersama dan saling memeluk adalah tidur paling ternyaman untuk keduanya. Biarlah, malam ini mereka melupakan permasalahan tadi pagi.
Ya, malam ini Dirga mengajak Sena untuk pindah tidur di kamarnya yang jauh lebih luas karena memang kamar Dirga adalah kamar utama di rumahnya. Meskipun, Sena sadar kelakuannya dan Dirga sekarang pasti akan sangat di benci kedua saudaranya tapi entah mengapa Sena benar-benar tidak bisa menolak dan jauh dari Dirga.
TBC.
__ADS_1
Di harap memberikan Like, Vote dan Komentarnya ya prend memberikan keempat poin itu sangat gratis. :)