
Sudah berapa kali Sena mengajak Dirga untuk bertemu dengannya tapi pria itu selalu beralasan jika dirinya sibuk, ia yang sudah kepalang kesal sampai bertekad menemui Dirga di kantornya tidak perduli jika Bastian melihat keberadaannya nanti.
Beberapa karyawan yang melihatnya, mereka memandanginya terlalu berlebihan membuat Sena tak suka akan pandangan mata mereka kepadanya.
"Aku mau ketemu dengan mas Dirga, dia ada di ruangannya kan?" tanya Sena pada Rania yang menghalanginya untuk masuk ke ruangan Dirga.
"Dirga lagi sibuk, sekarang kita mau ada meeting nanti aja ketemu sama Dirga nya," ujarnya seraya memeluk kedua tangan di dadanya.
"Aku perlu sekarang bisa kan, kamu minggir dulu aku mau masuk,"
"Kamu keras kepala ya Sena, udah aku bilang Dirga lagi sibuk dan dia enggak mau di ganggu,"
"Minggir atau aku akan.. "
"Akan apa?!"
Sena kesal ia mendorong paksa Rania untuk minggir tapi sayang keseimbangan tenaga Rania jauh lebih kuat malah ia yang hampir saja terjatuh.
"Mas Dirga keluar mas, aku mau bicara sama kamu!" teriak Sena membuat Rania geram akan aksinya.
"Sena kamu enggak malu apa hah, ini kantor bukan hutan!"
"Mas Dirga!"
"Ada apa sih berisik banget," Dirga keluar dari dalam ruangannya, melihat Sena sekarang ada di hadapannya beberapa hari ini ia selalu menghindari wanitanya.
"Kamu ngapain sih teriak-teriak segala ini di kantor,"
"Ada yang mau aku omongin sama kamu,"
__ADS_1
"Kan bisa kamu telepon aku dulu," Sena mengalihkan pandangannya ia kesal dengan sikap Dirga yang sekarang.
"Aku udah coba berapa kali hubungi kamu tapi kamu enggak pernah merespon aku,"
Rania masih berada di antara mereka, Dirga tak ingin jika Rania sampai tau apa yang nanti mereka perdebatkan.
"Mendingan kamu pulang Sena, aku masih ada meeting hari ini kita bicaranya nanti aja,"
"Enggak bisa, aku mau ngomong sama kamu sekarang." Dirga kesal, Sena sangat keras kepala.
"Sore ini nanti aku kabari kamu, kita ketemuan di Cafe biasa. Please, kamu dengerin aku, kamu pulang dulu ya disini ada Papa." Rania merasa senang karena Dirga mengusir Sena.
"Ok, aku tunggu kabar dari kamu,"
Dan untuk kedua kalinya Dirga mengusirnya kembali, kecewa jelas itu yang sedang Sena rasakan pria itu benar-benar sangat tidak tahu diri. Menjauh begitu saja tanpa sebab, mungkin takut untuk bertanggung jawab.
***
Satu jam lebih Sena menunggu Dirga di Cafe biasa mereka bertemu dan pria itu baru menampakkan batang hidungnya sesuai dengan janjinya, mereka akan bicara berdua. Beruntung Sena memilih tempat duduk yang strategis, tempat duduk yang agak sedikit di pojokan membuat pembicaraan mereka nanti tak terdengar oleh pengunjung lain, lagi pula keadaan Cafe pun cukup sepi.
"Kamu habis dari mana sih mas, aku disini nungguin kamu sampai satu jam sendiri!"
"Ya maaf, aku kan ada meeting sama klien dan ini aja aku kesini jalannya macet kamu kenapa sih emosian terus," Dirga duduk kursi hadapannya.
"Sekarang kamu mau ngomong apa sama aku, katanya ada yang mau kamu omongin?" Dirga langsung to the point tanpa berbasa-basi terlebih dahulu.
"Ayo kita akhiri saja hubungan ini,"
Karena Dirga saja terlalu to the point maka Sena pun melakukan hal yang sama.
__ADS_1
"Kenapa tiba-tiba kamu minta putus?"
"Aku enggak tiba-tiba minta putus, dari awal kamu yang tiba-tiba menjauh dari aku. Jadi, aku rasa lebih baik kita akhiri saja semuanya,"
"Aku enggak mau hubungan ini berakhir," satu kata untuk Dirga E.G.O.I.S.
"Kamu egois mas,"
"Aku enggak egois, kamu yang egois tiba-tiba minta mengakhiri semuanya," Dirga tak ingin melepaskan Sena.
"Aku bukannya menjauhi kamu tapi aku cuma butuh waktu buat mikirin solusinya," Sena terkekeh mendengar ucapan Dirga barusan, butuh waktu untuk memikirkan apa sudah jelas-jelas pria itu lari dari tanggung jawabnya.
"Terserah kamu mau bilang apa intinya, mulai sekarang kita udah enggak ada hubungan apapun."
"Kamu jangan bersikap egois seperti ini, kamu harus pikirin anak yang kamu kandung juga,"
"Sejak kapan kamu mikirin anak ini mas, bukannya dari awal kamu enggak suka ya sama kehamilan aku ini."
Sudahlah, Sena lelah berbicara intinya ia ingin mengakhiri segalanya bersama Dirga, tak ingin berurusan dengan Dirga kembali.
"Terimakasih untuk waktu kamu, silahkan kamu lanjutkan kembali kesibukan kamu itu." Sena pergi menghiraukan panggilan Dirga padanya.
Dirga mengusap wajahnya dengan kasar ia kesal sampai menendangnya kursi di sebelahnya, membuat pelanggan lain memperhatikannya.
TBC.
Di harap memberikan Like, Vote dan Komentarnya ya prend memberikan keempat poin itu sangat gratis. :)
Jangan lupa ikuti akun author ya biar tahu karya terbaru dari karya terbaru author. 🤗
__ADS_1