Love Toxic

Love Toxic
Bab 64 - Crazy


__ADS_3

Dirga duduk kursi tunggu ia tampak begitu sangat khawatir menunggu kabar dari dokter yang masih berada di ruangan UGD wajahnya nampak begitu sangat nampak frustasi.


"Ga, gimana keadaan Sena?" tanya Bastian yang sudah datang bersama Renata dan juga yang lainnya.


"Sena masih di tangani dokter," jawabnya seraya menundukkan wajahnya.


"Sebenarnya Sena kenapa sih mas kok bisa sampai masuk ke rumah sakit?" tanya Sarah tapi Dirga lebih memilih diam, ia tak tahu harus menjawab apa karena dia juga sama bingungnya.


"Udahlah untuk saat ini jangan dulu ada yang banyak bertanya tentang keadaan Sena kenapa kita tunggu saja hasil pemeriksaan dari dokter," ujar Bastian yang merasa putra seperti orang sedang merasa tertekan.


Seketika mereka semua berdiri saat dokter keluar dari ruangan UGD mereka langsung menghampiri dokter yang berdiri di depan pintu.


"Dok bagaimana keadaan Sena?" tanya Dirga yang langsung to the poin.


"Ini benar dengan keluarga pasien?" Dirga mengangguk.


"Sepertinya pasien mencoba sengaja meminum obat penggugur kandungan tapi beruntung saat obatnya mulai bereaksi pasien sudah di larikan ke rumah sakit jadi janin di kandungannya berhasil kami selamatkan hanya saja.. "


"Kenapa dok?"


"Janinnya melemah jadi untuk kedepannya ibunya harus lebih berhati-hati lagi,"


"APA JADI SENA HAMIL?"


Sarah dan yang lainnya shock mendengar kabar itu kecuali Dirga dia lebih terkejut mendengar Sena yang mencoba mengugurkan kandungannya. Sekarang, Sarah menatap Dirga dengan raut kesalnya ia sangat yakin Sena hamil pasti karena perbuatan Dirga.


"Mba Sarah mau kemana?" tanya Maudy yang melihat Sarah pergi menjauh dari mereka.


"Tante, Om, Mas Dirga maaf aku permisi harus menyusul mba Sarah dia pasti shock dengar kabar Sena hamil," Renata mengangguk.


Bastian dan juga Renata ia sama shock nya mendengar kabar Sena hamil sedangkan Dirga ia terduduk lemas di kursinya, ia bingung harus bagaimana lagi nanti menjelaskannya sesuatu yang di tutupi nya terbongkar dengan sendirinya.


"Kita harus tanyakan hal ini pada Sena siapa yang sudah berbuat seperti apa padanya dan pria itu harus bertanggung jawab atas apa yang sudah dia perbuat," ujar Bastian kesal.


Andai Bastian tahu yang pelakunya sekarang ada di hadapannya, jantung Dirga berdegup cepat entah kemana.


***

__ADS_1


Setelah di pindahkan dari ruangan UGD satu jam kemudian Sena terbangun dari pingsannya dan seketika kepalanya terasa pusing, ia bisa mencium bau aroma rumah sakit.


"Aku dimana? Ini bukan di rumah sakit kan," Sena melihat sekelilingnya tangan kirinya masih tertancap selang infus.


"Aku harus pergi dari sini," katanya seraya mencoba melepaskan selang infus nya.


"Ah.. Aw sakit,"


Ya, selang infusnya terlepas tapi tangannya mengeluarkan darah mungkin karena ia terlalu kasar melepaskannya.


"SENA!" mata keduanya saling bertemu Dirga melihat tangannya yang berdarah.


"Kamu ngapain lagi sih! Bisa enggak kamu jangan berulah, keadaan kamu lagi enggak baik-baik saja!" Sena menggeleng ia mencoba turun dari ranjangnya tapi tubuhnya benar-benar terasa sangat lemas.


"Pasti kamu kan mas yang bawa aku ke rumah sakit, harusnya kamu enggak usah perduli sama aku!" katanya seraya memukul dada Dirga.


"Kamu udah enggak waras hah! Kamu mau gugurin kandungan kamu sendiri, dimana otak kamu!" Dirga berteriak tepat di hadapan Sena.


"Iya aku emang udah enggak waras ini semua karena kamu mas hiks..,"


"Aku minta maaf, kan aku udah bilang sama aku pasti tanggung jawab," Sena menggeleng ia sudah tidak berminat dengan pertanggung jawaban yang di berikan Dirga.


"Aku panggil suster dulu," katanya seraya keluar memanggil suster untuk memasangkan selang infus itu kembali ke tangan Sena.


***


Saat keadaannya sudah mulai tenang begitu juga dengan Sarah yang sekarang ikut masuk ke dalam ruangan Sena berada seketika Sarah yang melihat Sena tengah duduk di ranjang, dia tiba-tiba memukul kepala Sena karena kesal.


"KAMU UDAH BIKIN MALU NAMA KELUARGA SENA!" ujarnya dan Sena hanya pasrah saat menerima pukulan dari Sarah.


Ya, Sena memang pantas mendapatkan perlakuan itu dari saudaranya sendiri.


"SARAH SUDAH CUKUP!" bentak Dirga menghentikan aksi brutal Sarah.


"Iya, Sarah sudah cukup kamu tenang ya," ujar Renata menarik Sarah untuk berdiri di dekatnya, Maudy yang melihat ia merasa takut melihat kakaknya murka barusan.


"Sudah cukup! kita semua harus tenang," ujar Bastian menengahi keributan yang terjadi.

__ADS_1


"Sena om ingin bertanya sama kamu jawab jujur siapa yang sudah menghamili kamu?" tanya Bastian yang berhasil membuat Dirga shock mendengarnya.


Sena melihat satu persatu diantara mereka ia baru tahu ternyata semuanya sudah mengetahui tentang kehamilannya, ia seketika menangis karena malu dan merasa takut untuk berkata jujur.


"Sena kamu enggak perlu takut, bilang saja pada kami nanti om dan tante bakalan bantu kamu agar dapat pertanggung jawaban dari pria yang sudah menghamili kamu," ujar Renata dan seketika Sena menatap Dirga sekilas pria itu nampak seperti ikut ketakutan terlihat dari wajahnya.


Melihat Dirga yang sepertinya ketakutan ia jadi tak yakin jika ia harus mengatakan dengan sejujur mungkin karena pada akhirnya hanya kebohongan yang pasti ia katakan, lagi pula kedua orang tua Dirga juga pasti tidak akan membiarkan putra semata wayangnya menanggung malu karena menghamili anak orang.


"Sena ayo beritahu om dan tante siapa yang sudah melakukan ini sama kamu?" tanya Bastian kembali tapi Sena masih diam.


"PRIA ITU.. "


"Ya pria itu siapa beritahu om sekarang juga, nanti om bakal samperin orang tua pria itu?"


Sekali lagi Sena menatap Dirga sesaat dia berharap pria itu mau ikut bersuara mengakui perbuatannya tapi Dirga memilih mengalihkan pandangannya. Sarah pun di buat penasaran apakah Sena akan mengatakan Dirga yang mengakuinya.


"Cepat beritahu kami siapa yang menghamili kamu!" tanya Sarah membentaknya.


"Udahlah kalau emang Sena enggak mau ngasih tau kenapa harus di paksa sih," kata Dirga kesal.


"PRIA ITU TEMAN COWOK AKU,"


Satu kalimat yang berhasil membuat Dirga terkejut kenapa bisa Sena mengatakan kalimat itu barusan, harusnya dia tetap diam tak perlu mengatakan kalimat apapun.


Ya, keputusan Sena sudah final ia tahu Dirga tidak akan mau mengakuinya dan hanya dengan berbohong seperti ini yang bisa dia lakukan, lagi pula ia juga ingin segera menjauh dari kehidupan keluarga Dirga.


"Siapa nama pria itu Sena dan beritahu alamat rumah orang tuanya nanti om akan datang ke kediaman pria itu," Dirga menggeleng tidak percaya dengan kebohongan yang Sena buat.


"Nico,"


Satu kata berhasil membuat Maudy shock, apa benar Nico yang menghamili Sena.


"Maafkan aku Nic, harus membawa nama kamu dalam permasalahan ini." batin Sena bersuara ia mendudukkan kepalanya, merasa bersalah.


TBC.


Di harap memberikan Like, Vote dan Komentarnya ya prend memberikan keempat poin itu sangat gratis. :)

__ADS_1


__ADS_2