Love Toxic

Love Toxic
Bab 57 - Fall


__ADS_3

"Aku hamil mas," Satu kalimat berhasil membuat Dirga di buat diam.


"Kok bisa?" Sena memicingkan matanya, pertandingan apa barusan ia dengar.


"Kok bisa kamu bilang mas? Kamu tau kan apa yang kita perbuat selama ini pasti akan ada resikonya," Sena balik emosi, membuat Dirga mengacak-acak rambutnya karena kesal.


Dia bisa melihat wajah tak suka dari Dirga yang mendengar dirinya hamil saat ini mereka sedang tidak berada di rumah melainkan bertemu di sebuah taman.


"Kamu enggak suka denger kabar aku hamil?"


"Bukannya enggak suka, aku cuma bingung aja kamu taukan situasinya sekarang lagi kayak gimana?"


"Dari dulu juga situasinya enggak pernah berubah mas, aku tetap jadi selingkuhan kamu dan mba Sarah tetap jadi istri pura-pura kamu enggak ada yang berubah kan."


"Kamu enggak ngerti situasinya," jawab Dirga kesal.


Ya, Sena memang tidak mengerti dengan apa yang di maksud Dirga barusan tapi sekarang ia rasa Dirga memang tidak menyukai kabar dirinya hamil.


"Terus sekarang aku harus gimana mas, sekolah aku aja masih 3 bulan lagi lulusnya tapi sekarang aku lagi hamil anak kamu."


"Kamu tenang dulu dong, aku juga bingung kalau sampai Mama sama Papa tau kau hamil mereka pasti akan sangat marah sama aku,"


"Kamu selalu mementingkan perasaan kedua orang tua kamu tapi kamu ngerti enggak sih sama keadaan aku,"


"Kemarin kamu nyuruh aku buat enggak dengerin omongan Papa aku sendiri mas tapi kamu enggak sadar dengan sikap kamu sekarang!"


Dirga memang tidak pernah menyadari akan segala apa yang dia perbuat, selalu menganggapnya tampak mudah untuk dia lewati tapi nyatanya ia sendiri tak kebingungan untuk melewati resiko yang sekarang ia perbuat sendiri.


***


Sejak perdebatannya dengan Dirga sekarang hubungan mereka tampak sedikit renggang, Dirga seperti orang yang lari dari tanggung jawabnya padahal saat ini Sena sedang sangat membutuhkannya.


"Dari awal harusnya aku sadar untuk tidak melanjutkan hubungan ini dengannya, sekarang aku sendiri.. " Sena menyentuh perutnya yang masih rata, ia memikirkan Dirga yang sekarang menjauh darinya.


Sena mencari kontak Resti ia harus bertemu dengannya mungkin dengan bertemu dengan Resti ia bisa mendapatkan solusinya.

__ADS_1


"Lo enggak sibuk kan Rest,"


"Enggak kenapa Sen tumben nelepon gue,"


"Kita bisa ketemu enggak hari ini, nanti gue kasih tau tempatnya,"


"Bisa, ok deh gue siap-siap dulu."


Sena pun bersiap menemui Resti dan saat ia turun dari anak tangga dia sempat melihat Dirga yang bersama Sarah dan juga yang lainnya, Dirga yang melihat Sena ia tampak acuh biasanya ia akan melemparkan senyumnya tapi kali ini entah ada apa dengan dirinya sekarang.


"Terserah kamu mau perduli ataupun enggak sama aku mas," batinnya berbicara.


***


Resti yang belum sampai di tempat tujuan sedangkan Sena ia sudah sampai di Cafe yang di tentukan, setengah jam kemudian Resti tiba di tempat ia melambaikan tangannya ke arah Sena.


"Sorry pasti udah lama ya nungguin gue, anjir di jalan macet banget."


"Santai aja Rest, oh iya ini gue udah pesankan minuman buat lo," Resti meminum jus buah mangga nya.


Sena bingung harus memulai pembicaraan dari mana setahunya Resti sudah mengetahui setengah tentang hubungannya dengan Dirga.


"Gue hamil rest,"


"Apa? Lo seriusan Sen, lo enggak lagi bercanda kan?"


"Gue serius rest, makannya gue ngajakin lo ketemu kali aja lo punya solusi buat gue,"


"Solusi apanya sih Sen, lo hamil sama si tua Dirga itukan?"


"Rest pelan-pelan ngomongnya nanti yang lain denger, iya gue hamil anak mas Dirga." Resti menggelengkan kepalanya.


"Solusinya ya lo minta pertanggung jawaban Dirga lah Sen,"


"Gue habis berantem sama dia, jadi sekarang kita lagi enggak ada komunikasi,"

__ADS_1


"Wah ini sih udah parah Sen, yang pertama nih ya kemungkinan kecil Dirga lagi memikirkan apa yang harus dia lakukan setelah mengetahui lo hamil dan kedua, kemungkinan besar dia emang sengaja menjauh karena enggak mau tanggung jawab,"


"Gue rasa yang kedua rest,"


"Lo sih kalau main enggak pakai pengaman apa,"


"Tapi gue rutin minum obatnya rest,"


Resti rasa Sena ini benar-benar bodoh, dia begitu percaya pada obat.


"Lo lebih percaya sama obat dari pada ko*dom, lo enggak lihat sekarang kejebolan juga kan," Sena merasa aneh kenapa Resti seperti orang yang sedang menghakiminya.


"Gue tadinya ada niatan buat gugurin bayi ini rest, lagi pula baru dua minggu usianya."


Wah, benar-benar sudah sinting temannya satu ini, berbuat senekat itu.


"Lo yakin Sen?" tanya Resti.


"Gue sangat yakin, lo pasti tau kan dimana tempat aborsi?"


"Zaman sekarang udah enggak pakai cara gituan Sen, ada obat yang ampuh buat gugurin kandungan lo? tapi gue enggak yakin lo bakalan kuat nahan sakitnya,"


Resti ingat betul dulu temannya ada yang berani mengenakan obat penggugur kandungan, temannya sampai masuk ke rumah sakit karena menahan sakitnya janin yang di dalam panasnya karena efek obat tersebut.


"Gue udah yakin rest kalau lo tau tempat penjualnya temani gue beli ya di apotek ada enggak?"


"Gila lo ya mana ada apotek jual obat terlarang kayak gitu nanti deh kalau lo emang beneran mau beli, nanti gue tanyain ke temen gue dimana tempat penjualnya,"


"Thanks rest,"


Mungkin ini memang sudah sangat keterlaluan tapi mau bagaimana lagi, tidak ada cara lain. Dirga menjauhinya dan sekarang hanya dengan menggugurkan kandungannya yang sekarang ia lakukan tapi Sena merasa ia begitu sangat jahat sampai membunuh bayi yang tak berdosa sama sekali ini.


TBC.


Di harap memberikan Like, Vote dan Komentarnya ya prend memberikan keempat poin itu sangat gratis. :)

__ADS_1


__ADS_2