
Setelah aktivitas panas mereka Dirga dan Sena kini masih berada di ranjang menikmati sisa percintaan mereka, Sena yang sekarang tengah mengukir pola abstrak di dada bidang suaminya berhasil membuat Dirga merasa geli.
"Kita baru aja selesai, jangan menggodaku." kata Dirga seraya menggenggam tangan istrinya.
"Siapa juga yang menggoda, mas aku mau nanya sama kamu?" ujar Sena menatap lekat suaminya.
"Tanyain aja nanti ku jawab," jawabnya seraya memejamkan matanya.
"Mas sebenarnya beneran cinta enggak sih sama aku atau memang aku ini hanya mas anggap sebagai pelampiasan hawa nafsu mas aja?" pertanyaan berhasil membuat Dirga menatapnya.
"Kamu kok bisa berpikiran seperti itu sih, ya jelas aku cinta sama kamu." Sena bisa melihat guratan kekesalan di wajah Dirga.
"Ya, kalau mas emang cinta sama aku kenapa mas selalu takut kalau hubungan kita di ketahui orang tua mas, mas tahukan kita ini saling mencintai jadi kenapa kita harus menutupinya," ujarnya tak berani melihat wajah Dirga.
"Kamu dengerin aku ya, bukannya aku enggak berani aku cuma cari waktu yang tepat aja kapan semuanya akan di ketahui,"
"Dan waktu yang tepat itu kapan mas sampai anak ini lahir? Kamu tahukan kita udah menikah, aku enggak mau terus-terusan kamu sembunyikan udah banyak kebohongan yang kita lakukan mas," Dirga mengusap wajahnya dengan kasar ia paling malas berdebat hal seperti ini dengan Sena.
"Udahlah enggak usah di bahas terus tentang hal ini, mending kita tidur ini udah malam." jawab Dirga yang semakin membuat Sena merasa ragu akan hidup bersama dengannya untuk kedepannya nanti.
"Aku jadi ragu sama kata cinta kamu itu mas, aku enggak tahu sampai kapan aku kuat ngejalanin pernikahan ini sama kamu." pernyataan begitu menohok berhasil membuat Dirga bungkam, ia membalikkan tubuhnya tak ingin melihat wajah Dirga kesal rasanya.
Padahal Sena sudah mulai mencoba menerima pernikahan mereka tapi dia juga berharap untuk secepatnya pernikahan mereka ini di ketahui dan di terima oleh kedua orang tua dirinya dan orang tua Dirga dengan respon Dirga yang seperti ini, entah sampai kapan dia akan bertahan hidup bersama dengan Dirga.
***
Hari ini jadwal cek kehamilan Sena ke dokter dia berharap Dirga akan menemaninya seperti bulan kemarin tapi hari ini setelah mereka kembali ke rumah, Sena harus menerima kenyataan jika suaminya harus menemani Sarah pergi bersama kedua orang tuanya ke pernikahan kerabat mereka.
"Kasihan banget sih hidup kamu Sen,"
__ADS_1
"Maudy," katanya yang terkejut melihat kedatangan Maudy di belakangnya.
"Makannya jadi perempuan itu jangan banyak tingkah, kena sendiri kan bantunya capek, sedih, kecewa ya? Hal-hal yang sekarang sedang kamu alami ini mungkin sama persis seperti ibu kamu dulu alami,"
"Jangan-jangan nanti pas anak kamu lahir nanti, dia ikut-ikutan juga lagi sama kayak kamu ibunya yang merasakan penderitaan dalam hidup." sambung Maudy.
Plak! Tamparan keras di layangkan Sena mengenai wajah Maudy, ia sudah mencoba menahan amarahnya ia masih menghargai Maudy sebagai saudaranya tapi mendengar saudaranya sendiri menghina ibu bahkan anaknya yang belum lahir ke dunia, ia jadi geram dan tak tahan untuk menampar wajah Maudy.
"Kamu jaga ya ucapan kamu Maudy, aku enggak akan tinggal diam sekali lagi kamu berkata yang tidak baik tentang Ibu dan Anakku." Sena keluar dari dalam rumah setelah puas menampar Maudy.
Dia kesal karena hidupnya harus seperti ini bahkan Sena merasa kenapa Tuhan tidak pernah adil kepadanya, apa karena dia terlahir dari seorang ibu yang sering saudaranya klaim adalah seorang yang tidak tahu diri jadi ia pun mengikuti jejak ibunya sama tidak tahu dirinya.
"Mungkin dengan aku meninggalkannya apakah setelah itu hidupku akan menjadi lebih baik?" tanyanya sendiri.
Dia menangis di taman komplek, dia tak memiliki tempat untuk berbagi cerita, dia selalu memendamnya sendiri karena baginya tak ada satupun manusia yang benar-benar mengerti akan permasalahan hidupnya kecuali dirinya sendiri.
***
"Iya makasih bu,"
Ya, setelah pulang dari rumah sakit Sena langsung bergegas ke Cafe untuk bekerja kembali dia beruntung memiliki atasan yang sangat baik hati.
"Coffee creamy latte panas satu mba," pesan seseorang yang suaranya sangat Sena kenali.
"Nico? Lo ngapain pakai hodie kayak gini udah tau cuaca lagi panas," ujarnya dan Nico membuka tudung hodie nya.
"Gue kayak gini demi lo, lo tahukan nama gue lagi jadi incaran gara-gara di kira menghamili lo," jawabnya yang berhasil membuat Sena merasa tak enak hati.
Ya, karena Sena dia Nico jadi harus main agak lebih jauh.
__ADS_1
"Ini kopinya," Sena menaruh di mejanya.
"Sorry ya pas hari kelulusan sekolah gue enggak sempat ke sekolahan lo," katanya seraya menyeruput kopinya.
"Ya enggak apa-apa kok ini pancake khusus buat lo,"
Sena memberikan pancake buatannya untuk Nico, awalnya pancake itu khusus dia buat untuk Dirga tapi berhubung pria itu memilih untuk mengikuti acara bersama kedua orang tuanya, jadilah ia berikan saja pada Nico.
Ya, dan Nico belum mengetahui jika dirinya sudah menikah lagi pula untuk apa Sena memberitahukan pernikahannya toh Dirga juga selalu menyembunyikan pernikahan mereka.
"Lo lanjut kuliah enggak?" Sena menggeleng.
"Sorry gue enggak bermaksud,"
"Kalau lo pasti kuliah kan?"
"Iya, kok lo enggak kuliah setahu gue Maudy ikut daftar kuliah lo cuma kampus dia beda sama kampus gue,"
"Jangan di samain nasib gue sama nasib dia Nic," jawab nya yang membuat Nico tersenyum, iya semuanya sudah Nico ketahui kecuali tentang Sena yang sudah menjadi istri Dirga.
"Lo pulang jam 7 malam seperti biasa?"
"Enggak sekarang gue pulang jam 5 sore," Nico senang mendengarnya ternyata tantenya itu bisa dia andalkan juga.
"Sen lo jangan berhubungan lagi ya sama tuh cowok,"
"Maksudnya?"
"Ya, sekarang kan lo udah lulus sekolah enggak mungkin kan lo bakalan terus tinggal di rumah itu, gue enggak yakin lo bakalan bisa bertahan lebih lama di sana." Sena paham dan mengerti akan maksud Nico, ternyata bukan hanya Nico yang berpikiran seperti itu dia pun berpikiran yang sama.
__ADS_1
TBC.