
"Sen gue benar-benar minta maaf sama lo tentang kejadian kemarin, gue beneran enggak sangkut pautnya sama sekali." Sena menghela nafasnya mendengarkan permintaan maaf dari Resti sekarang, Flo yang tidak tahu apa-apa ia hanya bisa kebingungan melihat dua temannya saling berdiam tanpa saling bertegur.
"Gue udah maafin lo kok Res, lagi pula gue juga enggak nyalahin lo jadi lo enggak perlu ngerasa bersalah kayak gitu."
"Kalian ada masalah apa sih?" tanya Flo penasaran.
"Hanya kesalahpahaman ya kan Res," katanya seraya tersenyum.
Sungguh Resti benar-benar merasa bersalah karena sudah mengajak Sena untuk memasuki klub malam, andai saja jika saat itu ia tidak pergi ke toilet mungkin ia pasti bisa menjaga temannya tapi beruntungnya Sena langsung di selamatkan dan semenjak kejadian semalam Resti harus berdebat hebat dengan mom Bela alhasil ia malah tidak bekerja lagi dengan mom Bela.
Meskipun sekarang Resti bersyukur Sena mau memaafkan dia hanya saja sekarang dia bingung mau mencari pekerjaan apalagi selain menjadi perempuan penghibur, akankah dia mendapatkan pekerjaan yang lainnya untuk menghidupi ibu dan dua adiknya.
***
Ponsel Dirga kembali berdering menunjukkan nomor tidak di kenal olehnya, sudah berapa kali Sena menyarankan pria itu untuk mengangkat teleponnya karena panggilan itu berhasil membuat makan siangnya terganggu.
"Angkat aja sih mas kali aja mas kenal sama tuh nomer," Dirga melihat nomor di layar ponselnya tapi ia menggelengkan kepalanya ia lebih memilih menikmati makan siangnya bersama wanitanya.
"Ya udah kalau enggak mau di angkat matiin aja teleponnya, ganggu tau enggak sih suaranya tuh."
"Ide yang bagus," Dirga langsung menonaktifkan teleponnya.
Drtt.. Drtt.. Seketika tatapan mereka beralih ke ponsel milik Sena yang sekarang berdering masih sama dengan Dirga nomor yang tidak di kenali tapi kali ini bedanya Sena mengangkat teleponnya.
"Halo ini siapa?"
"Nico,"
"Oh iya-iya sorry lupa,"
"Save ya nomorku,"
"Ok bye."
Sena memutuskan panggilan padahal barusan sepertinya Nico ingin sekali mengobrol lebih dengannya. Jika berlama-lama berbicara dengan ponselnya bisa dapat di pastikan Dirga akan mengamuk nantinya, Sena masih menyayangi ponsel miliknya.
"Siapa?"
"Temen,"
"Sure?"
__ADS_1
"Iya temen udah itu di makan mienya nanti keburu enggak enak lagi."
Saat hendak menunggu Dirga menjemputnya sebelum Dirga datang, Nico lebih dulu datang menghampirinya dan seperti biasanya dengan basa-basi yang pada akhirnya meminta nomor ponselnya mau tidak mau Sena memberikannya karena ia tidak ingin beberapa murid lain yang melihat menggosipkan nya yang tidak baik tentang keberadaan mereka berdua, dan yang penting ia khawatir Dirga tiba-tiba datang dan melihat mereka berdua pria itu akhir-akhir ini terlalu bersikap posesif padanya.
***
Sejak duduk di pangkuan Dirga mereka tengah menikmati ciuman keduanya tak berberapa detik kemudian seorang receptionist masuk ke ruangan Dirga yang tak di kunci membuat kedua pasangan itu.
"Mas.. " Sena langsung turun dari pangkuan Dirga dan buru-buru merapikan kancing seragamnya yang terbuka.
"Maaf Pak saya tidak tahu," katanya seraya menunduk.
"Ada apa?" tanya Dirga yang sudah merapikan kemejanya yang berantakan ulah Sena.
"Maaf Pak di luar ada perempuan yang kemarin katanya ingin bertemu Pak Dirga,"
"Bilang ke dia, saat ini saya sedang tidak ingin bertemu siapapun. Sana kamu keluar!" sang receptionist terburu-buru keluar ia membodohi dirinya sendiri karena telah lancang masuk ke dalam ruangan CEO.
Dirga memijit pelipisnya baru saja mereka menikmati aktivitas rutinitas mereka tapi sudah terburu di ganggu, Dirga yang hendak merangkul Sena wanitanya itu menggelengkan kepalanya moodnya sudah tidak baik.
"Aku mau pulang aja,"
"Lho kenapa pulang? Udah disini aja," Sena menggeleng ia merapikan rambut dan pakaiannya.
"Kamu enggak perlu ambil pusing udah biarin aja, kalau iya ada karyawan yang berani ngata-ngatain kamu nanti aku pecat dia." Sena mengerutkan dahinya sekali lagi ia menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju ide Dirga yang seenaknya itu.
"Ya udah kalau emang kamu mau pulang biar aku anterin kamu,"
"Enggak usah mas, aku bisa pulang sendiri, mendingan mas temuin orang yang mau ketemu mas itu." Dirga memeluknya.
"Ok, aku bakalan lepasin kamu buat pulang asal beri aku ciuman dulu," pintanya seraya nyengir kuda.
"Apa sih tadi kan udah," Sena mencoba melepaskan pelukan Dirga tapi tenaganya tak sekuat tenaga Dirga.
Sena memberikan satu kecupan pada bibir Dirga membuat sang empu tersenyum manis dan seketika Dirga menyambar bibir Sena, **********.
"Yang ku maksud itu ciuman ini," katanya seraya mengelap bibir Sena dengan jarinya. Sena di buat blushing padahal ia sekarang sudah terbiasa akan ciuman dengan Dirga tapi untuk pertama kalinya ia merasa tersipu.
***
"Kamu.. " Dirga terdiam di tempat melihat siapa yang terus meminta pada resepsionis untuk di pertemukan dengannya.
__ADS_1
"Hai akhirnya aku bisa ketemu sama kamu ga," ujarnya seraya menunjukkan wajah frustasinya.
Bagaimana tidak frustasi sudah berapa kali ia mencoba menemui Dirga tapi selalu gagal dan kali ini dia tidak mau menyerah bahkan sampai jam waktu pulang kerja ia masih enggan untuk pergi masih mau menunggu Dirga.
"Sorry aku benar-benar enggak tau kalau orang yang mau ketemu sama aku itu kamu Rania," seketika seseorang yang bernama Rania itu berlari ke dalam pelukan Dirga.
Sudah sangat lama ia tak merasakan pelukan dari pria yang mencintainya.
Dirga mengajaknya masuk ke dalam kantornya ia membawanya ke ruangannya, memberikan minuman hangat untuknya. Jika tau dari awal jika itu Rania mungkin ia sudah menemuinya tapi kesalahannya yang tak mau bertemu dengan seseorang yang tak terlebih dulu membuat janji dengannya kecuali Sena yang sudah di beri izin akses masuk keluar ruangannya.
"Aku berkali-kali coba menghubungi kamu tapi kamu enggak pernah angkat telepon dari ku sama sekali," ujarnya seraya menggenggam gelas yang terasa hangat.
"Ini nomor kamu?" Dirga menunjukkan nomor yang tidak kenal beberapa meneleponnya akhir-akhir ini.
"Iya itu nomor baru aku,"
"Kenapa kamu bisa ada di indonesia bukannya kamu masih harus melanjutkan kuliah kamu di Jerman."
"Aku udah lulus ga,"
"Wah berarti sekarang kamu udah berhasil menjadi seorang desainer," Rania mengangguk.
"Tapi semuanya tidak berjalan sesuai dengan apa yang aku inginkan ga,"
"Maksud kamu?"
"Kamu tau setelah aku menyelesaikan kuliah, aku senang karena setelah itu aku bisa memulai karir aku tapi itu hanya berjalan sampai satu tahun setelah itu apa yang ku ingin kan di hancurkan oleh kedua orang tua ku sendiri.. " ujarnya seraya berjalan menatap jalan raya di bawah sana dari balik jendela kaca.
"Mereka menjodohkan aku dengan seorang pria yang katanya dia sangat hebat di kota itu tapi aku tidak bisa menerima kenyataan ini semua.. " Rania menangis membuat Dirga merasa kasihan.
"Kenapa kamu enggak menerimanya Ran pasti pria sehebat dia sangat banyak wanita yang ingin bersamanya?" Rania menggeleng.
"Aku enggak bisa menerimanya karena sampai detik ini aku masih belum bisa melupakan seseorang yang pernah mencintai di tahun itu,"
"Seseorang siapa?" entahlah apa Dirga bodoh atau bagaimana sampai ia bisa sepolos itu bertanya pada Rania.
"Dia itu.. Kamu,"
"Setelah mendengar kamu menikah ku pikir sudah seharusnya aku melupakan kamu tapi kenyataannya sampai sekarang aku enggak bisa padahal sudah ku coba.. " Rania semakin terisak dalam tangisnya.
Dirga benar-benar di buat tertegun mendengar pengakuan Rania ia pikir setelah Rania memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya ke luar negeri sejak itu pula mereka mengakhiri hubungan mereka dan melupakan perasaan masing-masing tapi wanita itu masih bertahan dengan perasaannya.
__ADS_1
MINTA LIKE, VOTE DAN KOMENTAR NYA YA TEMAN-TEMAN :)
MAAF SUDAH LAMA UP NYA DI KARENAKAN AUTHOR LAGI ADA KESIBUKAN.