
Dirga mengusap wajahnya dengan kasar sudah satu minggu ini dia belum juga menemukan keberadaan Sena bahkan orang suruhannya pun belum juga memberikan informasi apapun padanya.
"Kamu dimana Sena, kenapa kamu pergi dari kehidupanku? Aku hanya meminta waktu untuk memberitahu hubungan kita ini kepada semuanya," ujarnya seraya menundukkan wajahnya.
Pintu ruangannya terbuka menampakkan Rania yang masuk seraya membawa beberapa berkas penting.
"Selamat siang Pak Dirgantara Sebastian," ucapnya seraya menumpuk berkas itu di meja Dirga.
Dirga menatap Rania dengan tatapan kosongnya yang berhasil membuat Rania balik menatapnya, "Ga kamu kenapa?" Dirga menggeleng.
Seketika senyum licik terpancar di bibir Rania ia mendekati Dirga dan bersandar pada meja, jarak diantara mereka cukup dekat.
"Kamu ada masalah ga?" katanya seraya menundukkan tubuhnya dan mengelus wajah Dirga.
"Cerita sama aku," katanya sekali yang mulai berani menyentuh dada bidang Dirga, sang empu masih belum juga meresponnya bahkan lebih memilih terus diam.
"Ku dengar Sena pergi dari rumah kamu? Kamu pasti sangat sedih ya,"
"Mau ku hibur?" katanya seraya tersenyum manis dan seketika mata keduanya saling tatap Rania memajukan wajahnya mendekati wajah Dirga tapi seketika Dirga mendorong kursinya ke belakang.
"Rania kamu apa-apaan sih sejak kapan kamu jadi wanita penggoda suami orang seperti ini," Dirga berujar berhasil membuat Rania merasa harga dirinya di rendahkan oleh Dirga.
__ADS_1
Rania berdiri mengalihkan pandangannya, "Maaf ga kalau aku lancang, aku cuma berniat menghibur kamu."
"Menghibur dengan berciuman terus bercinta iya itu hiburan dari kamu?" katanya sinis.
"Rania.. Rania kanu itu cukup jadi sekretaris di perusahaan aku dengan baik udah cukup jadi itu aja, urusan menghibur seperti itu maaf aku enggak terbiasa gonta-ganti pasangan, cukup satu buatku." ujarnya yang berhasil membuat sekretarisnya mati kutu berdiam diri.
"Brengsek kamu Dirga!" katanya di hadapan Dirga langsung dan seketika Rania keluar dari ruangannya. Ia menggelengkan kepalanya merasa aneh dengan sikap Rania yang sekarang, tidak seperti Rania yang dulu dia kenal.
***
Meskipun sudah memilih jauh dari pria yang dicintainya tapi tetap saja pasti ada rasa rindu di dalam lubuk hatinya, sebenarnya Sena masih bekerja di Cafe biasa dia bekerja hanya saja waktu itu dia meminta beberapa karyawan mengatakan jika dia sudah berhenti bekerja dan dia sekarang mengontrak tak jauh dari tempat kerjanya.
Sena mengelus perutnya yang sudah berusia 4 bulan, tinggal 5 bulan lagi dia akan melahirkan terkadang dia sering berpikir apa dia mampu hidup sendiri. Di tambah perutnya sudah mulai semakin membesar mana mungkin ia terus mengenakan korset itu pasti akan menyakiti bayi dalam perutnya, tapi Sena juga tak mungkin berhenti bekerja begitu saja.
"Sena mikirin apaan sih?"
"Hah.. Kenapa?"
"Itu ada pelanggan pesan kopi malah di diemin aja,"
"Ya ampun maaf aku ngelamun tadi,"
__ADS_1
Dia menggerutu bisa-bisanya melamun di saat bekerja, selesai melayani pelanggan Sena melihat kearah jam dinding 2 jam lagi waktunya akan pulang karena pulangnya sekarang di jam 5 sore jadi gajiannya pun pasti sangat beda dari karyawan lainnya.
"Sena,"
"Iya kenapa May?" tanya Sena pada teman baru kerjaannya yang bernama Maya.
"Diluar ada cowok yang pernah lo suruh kita buat bohong tentang lo udah berhenti kerja disini," Sena shock mendengarnya.
"Mas Dirga? Gue ke belakang gudang dulu ya kalau dia nanya apa tentang gue bilang aja enggak tau, kalau dia udah pergi kabarin gue ya." Maya mengangguk dan Sena berlari ke belakang.
Pria itu benar-benar Dirga dia masuk ke dalam Cafe entah mengapa baik Friska dan Maya merasa gugup melihatnya, dan seketika Dirga memilih duduk di meja dan memesan kopinya, dia pun tak bertanya mengenai Sena pasalnya dia kesini hanya ingin melampiaskan rasa rindunya pada wanitanya toh sudah beberapa kali juga Dirga kesini tapi tak melihat keberadaan wanitanya.
Sedangkan Sena yang berada di gudang dia merasa resah, khawatir Dirga bertanya ataupun mengancam teman-temannya untuk memberitahukan keberadaannya tapi sejauh ini persembunyian masih juga belum di ketahui oleh Dirga dan orang suruhannya.
"Sena ini gue Maya," ucap Maya pelan dari pintu gudang.
"Iya May kenapa?"
"Dia kesini enggak cariin lo, dia kesini cuma minum kopi kayaknya tapi lo harus tetap disini ya jangan dulu keluar,"
"Iya, thanks May untuk infonya."
__ADS_1
Sena merasa lega mendengarnya tapi tetap saja dia harus berhati-hati, bisa jadi itu hanya trik Dirga dalam mencari keberadaannya.
TBC.