
Pagi itu saat akan diantar ke sekolahnya Sena menolak ia lebih memilih menaiki angkutan umum karena percuma juga di jalan pasti ia akan di turunkan.
Sena terus menatap jam tangan yang berada di pergelangan tangannya waktu semakin cepat ia mulai merasa gusar karena sedari tadi ia tak melihat angkutan umum sama sekali. Sena terus berjalan menuju pos mungkin karena rumah Dirga berada dalam komplek rumah orang berada jadi tidak ada angkutan umum yang lewat jadi ia putuskan terus berjalan menuju depan pos ia ingat di sana terdapat halte busway.
Baru setengah jalannya ia mendapati mobil Ferrari hitam menepi di sampingnya.
"Ayo naik,"
Sena masih belum percaya pemilik mobil itu Dirga ia masih terdiam di tempat berhasil membuat Dirga kesal.
"Kamu mau saya antar atau saya tinggal!" ujarnya yang berhasil membuat Sena langsung masuk ke dalam mobil jok depan ia celingukan harusnya ia duduk di belakang.
"Kamu mau ngapain?"
"Pindah kebelakang,"
"Kamu pikir saya supir kamu! duduk dan diam,"
"Iya mas,"
Sena mengutuk Dirga yang begitu galak kepadanya. Beberapa menit kemudian Sena mengeluarkan bedak dan lipstik dalam tasnya ia sempatkan untuk sedikit berdandan efek karena berjalan berhasil membuat dandanannya sedikit menghilang.
Dirga yang melihat ia geleng-geleng kepala melihatnya, "Kamu mau sekolah apa kondangan?"
"Sekolah lah Mas,"
"Kalau sekolah harus banget ya dandan semenor itu,"
__ADS_1
"Enak aja aku tuh kalau dandan enggak menor-menor banget ya! lagian ya, Mas Dirga itu harus tau zaman sekarang tuh kalau enggak good attitude ya setidaknya good looking biar banyak di hargai orang sekitar." ujarnya seraya mengedipkan sebelah mata kirinya pada Dirga yang berhasil membuat sang empu terjangkit melihat tingkahnya.
Tepat saat Sena mengoceh mobilnya berhenti tepat di depan sekolahnya, Sena langsung keluar bahkan ia sampai lupa berterimakasih padanya. Dirga belum pergi mobilnya masih terparkir ia melihat sekilas ternyata benar Sena di daftarkan ke dalam sekolah swasta. Meskipun, ia tidak mengetahui jelas mengenai kehidupan di dalam keluarga Sarah tapi posisi Sena yang hanyalah seorang adik tiri ia tahu betul seperti apa dia mendapatkan keadilan di dalam keluarganya.
***
Sarah siang itu ke kantor Dirga ia membawakan makanan untuk Dirga tapi sampai di sana makanannya di tolak mentah-mentah bahkan makanan yang di bawa Sarah di berikan pada Kahfi sekretarisnya. Sikap Dirga sudah benar-benar membuat Sarah tersakiti.
Di ruangan kini hanya ada Sarah dan Dirga ia mencoba berbicara baik-baik kepada Dirga yang masih fokus kepada laptopnya.
"Mas sampai kapan kita akan menjalani kehidupan pernikahan seperti ini?"
"Kamu udah bosan, kalau kamu bosan kita bisa akhiri semuanya. Lagi pula saya memberikan kamu kebebasan kan bahkan sekalipun kamu menjalani hubungan dengan pria lain pun saya tidak akan mempermasalahkannya," sahutnya yang masih fokus pada laptopnya.
"Mas aku ini istri sah kamu kenapa kita enggak coba jalani pernikahan yang sesungguhnya,"
"Sudah berapa kali saya bilang sama kamu ini bukan pernikahan sesungguhnya kita bahkan belum menikah secara resmi!"
"Dan soal perasaan kamu jangan pernah meminta saya untuk membalasnya sudah berapa kali saya ingatkan jangan ada perasaan lebih diantara kita, apa masih kurang cukup keuntungan yang kamu dapat dari pernikahan kontrak ini."
"Iya sangat-sangat cukup dan maaf kalau aku sudah melibatkan perasaan aku, aku hanya ingin kamu tau kalau aku tulus mencintai kamu."
"Lebih baik kamu keluar dari ruangan saya, kamu enggak lihat saya masih banyak pekerjaan."
"Iya maaf aku udah menganggu waktu kamu, aku permisi." Sarah keluar membawa kekecewaan dan rasa sakit hati dalam dirinya harusnya ia tidak mengatakannya.
Dan apa yang di katakan Dirga semuanya memang benar bahkan mereka belum menikah sama sekali baik secara agama ataupun negara karena penghulu dan beberapa tamu undangan yang datang hanyalah orang-orang bayaran yang di bayar oleh Dirga jadi pernikahan itu benar-benar tidak ada diantara mereka.
__ADS_1
Hanya sekarang Sarah benar-benar sedang menertawakan dirinya sendiri karena sudah terlanjur jatuh hati pada Dirga mustahil perasaannya akan mendapatkan balasan dari Dirga.
***
Sena berada di ruangan BK karena ia mendapatkan teguran ulahnya yang berkelahi dengan Angel di lapangan, Sena yang terpancing emosi ia menghajar Angel dan kedua temannya berkat bela diri yang ia pelajari ia cukup lihai dalam menggunakannya.
"Sena ini surat untuk orang tua kamu,"
"Saya hanya mempunyai seorang Ayah bu,"
"Ya sudah berikan surat ini kepada Ayah kamu,"
"Ayah saya tidak ada disini bu,"
Bu susi mengerutkan dahinya ia membenarkan kaca matanya ia kira Sena sedang bersenda gurau, "Sena kamu jangan bercanda ya memangnya Ayah kamu dimana?"
"Aceh, saya disini bersama kakak tiri saya."
"Ya sudah berikan surat ini kepada kakak kamu itu," Sena menerima suratnya ia benar-benar menyesali kebodohannya yang tidak bisa mengendalikan emosinya.
Sena harus bersiap nanti jika Sarah memakinya atau bahkan nanti jika Sarah mengadukan kejadian ini kepada Ayahnya ia hanya tidak ingin membuat Ayahnya kecewa akan tingkah lakunya, tapi ia sudah paham betul kedua saudaranya itu selalu melebih-lebihkan kalimat jadi ia sudah terbiasa jika nanti baik Ibu tirinya ataupun Ayahnya memarahinya juga.
Disini Sena merasakan ketidakadilan karena ia tidak di beri kesempatan untuk menjelaskan kronologi yang sebenarnya guru BK terus menyalahkannya dan Angel seperti seorang murid yang baru saja mengalami pembullyan sudah jelas-jelas Angel yang memulainya bahkan menantangnya berkelahi.
Sena ingat ketika Flo mengingatkannya untuk lebih berhati-hati kepada Angel karena kedua orang tua Angel adalah salah satu donatur terbesar di sekolahan jadi ia akan selalu di benarkan walaupun sudah jelas ketidakbenaran sedang terjadi di sekolahannya.
TO BE CONTINUED...
__ADS_1