Love Toxic

Love Toxic
Bab 63 - High


__ADS_3

"Udah dong kamu kenapa sih, masih nangis terus lagian aku akan enggak mukul ataupun nyakitin kamu tadi aja mainnya cuma bentar ya kan," Sena mengalihkan pandangannya ia enggan untuk menatap Dirga yang sekarang sudah rapi mengenakan pakaiannya kembali.


"Mas bisa enggak sih lepasin aku,"


"Enggak bisa," jawabnya yang sekarang masih memeluk Sena dari sampingnya.


"Aku enggak akan pernah lepasin kamu, udahlah jangan bikin aku ngomong yang enggak baik lagi,"


"Aku.. Aku bakalan bayar dengan mencicil uang yang udah mas keluarin untuk pengobatan Papa,"


"Kamu enggak akan sanggup buat kembalikan jumlah uang yang udah aku keluarkan untuk pengobatan ayah kamu," ujar Dirga yang berhasil membuat Sena semakin kesal dengan sikap angkuhnya.


"Berapapun jumlahnya aku akan membayarnya walaupun aku harus seumur hidup mencicil uang itu,"


Dirga tersenyum simirk ia tak mendengarkan ucapan Sena, wanita itu hanya sedang marah padanya jadi ia paham mengapa Sena bersikap keras kepala kepadanya.


"Ya, silahkan kalau kamu mampu mengembalikan uang 100 juta itu setelah itu kamu bisa lepas,"


"Tapi sekarang kamu enggak pernah bisa lepas," Dirga menangkup wajah Sena dan ia menciumi bibir wanitanya kali ini ciuman Dirga terasa lembut dan tak ada tuntutan apapun


Sena tak percaya dengan sikap Dirga yang sekarang entah mengapa ia jadi merasa takut akan tatapan dari Dirga, pria itu sepertinya sudah benar-benar tidak waras, tidak bertanggung jawab tapi tidak juga mau melepaskannya.


***


Dari balik jendelanya terpancar di atas langit sana terlihat awan dan bintang-bintang yang bertaburan menghiasi malam.

__ADS_1


"Gimana caranya aku balikin uang 100 juta itu," ia menundukkan wajahnya bingung apa yang harus di lakukan nya sekarang.


"Aw.. Perutku," Sena menyentuh perutnya yang terasa sakit seperti di tusuk jarum.


Keringat bermunculan di dahinya, ia menahan rasa sakitnya mungkin ini yang di katakan Resti akan obat penggugur kandungan itu.


Ya, setelah pulang dari Vila bersama Dirga ia langsung meminum obatnya bahkan sampai menghabiskannya lebih dari 7 butir obat yang dia telan.


"Ya ampun sakit banget, maafin ibu nak,"


Sena tertunduk lemas di lantai yang dingin, perutnya benar-benar terasa sakit yang teramat sakit seketika matanya terkejut melihat kakinya yang terdapat bercak darah dari selangkangannya.


Seketika pintu kamarnya terbuka ia secepatnya mengelap bercak darah di kakinya, dan mengelap dahinya yang berkeringat tapi rasa sakitnya masih begitu sangat terasa di perutnya.


"Mas kamu ngapain kesini?" tanya Sena mencoba menetralisir suaranya.


"Kamu kenapa, dahi kamu sampai berkeringat kayak gini?" Sena menggeleng dan mengelap keringatnya dengan tangannya.


"Aku enggak kenapa, aw!" Dirga di buat terkejut mendengar rintihan Sena.


"Hei kamu kenapa, ada yang sakit?" Sena menggeleng tapi tangannya tak bisa bohong ia meremas baju di bagian perutnya.


"Perut kamu kenapa?" Sena masih menggelengkan kepalanya dan memejamkan matanya ia kesal kenapa di saat seperti ini Dirga malah masuk ke kamarnya.


Darahnya keluar mengalir di kakinya berhasil membuat Dirga membulatkan matanya, wanitanya bilang tidak apa-apa tapi seketika Darah keluar sampai menetes di lantai.

__ADS_1


"Darah? kamu kenapa Sena jawab aku," Sena masih diam, ia melihat ke bawah ada darah mengalir di kakinya.


"Aku lagi menstruasi," Dirga menggeleng ia bukan orang bodoh, Sena sedang hamil mana mungkin menstruasi.


"Kamu bohong, ayo kita ke rumah sakit,"


"Enggak aku enggak mas, aku enggak kenapa-napa aku mau ke toilet mau pakai pembalut." Dirga menarik tangan Sena yang hendak masuk ke toilet.


"KITA KE RUMAH SAKIT," Sena menggeleng dan seketika pandangannya mengabur.


"SENA," wanitanya pingsan beruntung Dirga telah menyanggahnya.


"Sena bangun sayang, kamu kenapa? Ayo kita ke rumah sakit," ujarnya yang langsung menggendong tubu Sena keluar dari kamarnya.


Aksi Dirga sekarang yang sedang menggendong tubuh Sena yang sedang pingsan berhasil mengundang kehebohan dari mereka yang sedang berkumpul di ruang living room.


"Dirga, ini Sena kenapa?" tanya Bastian.


"Pa, nanti aja ngomongnya sekarang Dirga harus bawa Sena ke rumah sakit,"


"Ya udah iya cepat bawa ke rumah sakit nanti Mama sama yang lainnya menyusul," jawab Renata yang ikut hebohnya, berbeda dengan Sarah dan Maudy yang kebingungan.


Dirga membawa mobilnya dengan kecepatan penuh, ia melihat Sena sekilas yang sekarang masih tergeletak tak berdaya di sampingnya.


"Kamu harus bertahan sayang," ucapnya sangat khawatir akan keadaan wanitanya.

__ADS_1


TBC.


Di harap memberikan Like, Vote dan Komentarnya ya prend memberikan keempat poin itu sangat gratis. :)


__ADS_2