
Perlahan Sena mengerjapkan matanya langit-langit putih terlihat di retinanya, Sena melihat ke sampingnya terlihat Dirga yang masih terlelap dalam tidurnya. Badannya terasa lelah setelah aktivitas panas tadi siang bersama Dirga. Pria itu benar-benar tidak mempunyai rasa kasihan padanya sudah jelas Sena masih merasa kesakitan tapi Dirga masih saja menggoda dan meminta untuk melakukan kembali.
"Kau sudah bangun?" Sena terkejut mendengarnya ia langsung menarik selimutnya untuk menutupi seluruh tubuhnya.
"Mas!" Sena membulatkan matanya merasakan pelukan hangat dari dalam selimutnya.
"Kau tak perlu malu aku sudah melihat semuanya.. " Sena mencoba melepaskan pelukan Dirga.
"Lepas mas aku mau pulang bentar lagi mau malem,"
"Kenapa kita enggak bermalam disini saja?" Sena menatapnya heran sudah gila mungkin ide Dirga barusan.
"Enggak! Nanti yang lain nungguin kita." Sena bergegas menarik selimut untuk menutupi tubuhnya turun ke bawah memunguti seragam sekolahnya yang berceceran di lantai.
Dirga yang masih duduk di ranjang seraya menatap Sena yang kini telah menghilang dari balik pintu toilet padahal jika mereka menginap toh tidak akan ada yang mencari keduanya juga dan ia mengusap wajahnya dengan kasar padahal dia masih menginginkan permainan panas mereka tapi wanita itu sudah terburu-buru ingin pulang.
Terlihat Sena yang akhirnya keluar dari dalam kamar mandi ia sudah rapi mengenakan seragam sekolahnya.
"Jangan memandangku seperti itu, sebaiknya kau secepatnya pakai pakaian mu!" Sena kesal ia melempar bantal yang terjatuh ke lantai ke arah Dirga.
"Iya iya baiklah, tunggu bentar ok baby," Dirga mencium bibirnya selepas itu menghilang dari balik pintu kamar mandi.
***
Makan malam terasa canggung untuk Sena setiap kali ia mengingat perbuatannya dengan Dirga membuatnya merasa bersalah pada Sarah sekalipun ia sudah mengetahui kenyataannya tapi tetap saja Sarah adalah saudara tirinya dan yang Sena ketahui Sarah sangat mencintai Dirga.
"Kamu enggak mau nambah mas?" tawar Sarah.
"Enggak ini udah cukup," katan seraya beberapa kali memperhatikan Sena yang terlihat murung.
"Mau kemana?" Dirga bertanya pada Sena yang seketika berdiri hendak pergi.
"Mau ke atas," Dirga melihat piring milik Sena yang masih terdapat nasi dan lauknya.
"Makanan kamu aja belum habis," Sena menghela nafasnya merasa tidak suka atas ucapan Dirga barusan.
"Aku udah kenyang," seraya tersenyum kecil.
__ADS_1
"Udahlah mas kalau dia emang udah selesai makannya biarin aja," Sarah menyela ucapan mereka begitupun juga dengan Maudy yang ikut menganggukkan kepalanya.
"Enggak! Kamu enggak boleh naik ke atas sebelum kamu habisin dulu makanan kamu.. "
"Pembantu saya yang bayar dan bahan-bahan makanan pun di beli dengan uang saya, jadi saya minta sama kalian tolong jangan buang-buang makanan." Sena mengerutkan dahinya mendengar ucapan Dirga barusan ia rasa Dirga benar-benar sangat perhitungan.
"Ya udah kalau gitu, catat aja berapa harga satu piringnya untuk malam ini aku hutang dulu."
"Sena kamu jangan kurang ajar sama mas Dirga!" ujar Sarah tapi Sena menghiraukannya ia memilih naik ke atas.
Sena berharap secepatnya ia lulus sekolah agar bisa bekerja dan selepas itu tak perlu tinggal di rumah Dirga lagi. Ucapan Dirga barusan benar-benar sangat menyinggung perasannya mentang-mentang punya banyak uang bisa seenaknya berbicara, lagi pula Sena juga merasa aneh saat sedang berdua pria itu tidak pernah perhitungan padanya dan selalu bersikap hangat padanya tapi saat bersama kedua saudaranya Dirga selalu bersikap tegas dan dingin.
***
Sena masih menikmati angin malam dari balik jendela kamarnya tak terasa sebuah pelukan melingkar sempurna di perutnya membuat sang empu membalikkan badannya.
"Kamu.. "
"Kaget?" katanya seraya tersenyum manis. Sena enggan melihat wajah pria yang saat ini sedang memeluknya ia memalingkan wajahnya dan berusaha melepaskan pelukannya.
"Mas lancang masuk kamar aku tanpa izin,"
"Inikan rumah ku," Sena mendengus sebal ia mengalihkan pandangannya.
"Kamu marah sama aku karena apa?" tanyanya seraya mencium leher jenjang Sena.
"Kamu terlalu sombong!" Dirga mengerutkan dahinya selepasnya ia tersenyum dan mencium bibir Sena.
"Maaf aku enggak bermaksud, aku cuma bercanda barusan dan kejadian di meja makan pun aku tidak pernah serius dengan ucapan ku."
"Bercandaan mas Dirga enggak lucu," Dirga menghela nafasnya salahnya yang bercanda dengan seorang bocah seperti Sena yang masih bersikap kekanakan.
Dirga mengajaknya duduk ranjang dan sekian detik mereka saling pandang sebelum sampai akhirnya bibir mereka saling berciuman. Dirga tidak pernah berciuman dan untuk pertama kali baginya berciuman dengan seorang bocah dan ia sangat menyukai bibir Sena yang terasa lembut saat ia sentuh.
"Sena!" suara gedoran pintu membuat Sena langsung mendorong tubuh Dirga menyuruhnya untuk bersembunyi di kamar mandi.
Sena merapikan kancing atas baju tidurnya yang terbuka akibat ulah tangan nakal Dirga.
__ADS_1
"Maudy ada apa?"
"Ck! Jam segini udah tidur, ini papa katanya mau ngomong sama lo." Maudy memberikan ponselnya pada Sena.
"Halo pa,"
"Bagaimana kabar kamu Sena?"
"Kabar Sena baik pa, papa bagaimana kabarnya aku denger papa baru aja selesai operasi?"
"Kabar papa baik, iya papa baru saja selesai operasi berkat kakak ipar mu yang mau membantu operasi papa," Sena merasa senang mendengarnya.
"Kamu harus menjaga sikap mu ya dengan Dirga karena bagaimana pun dia juga yang sudah mau membiayai sekolah dan kehidupan mu,"
"Iya pak Sena akan selalu ingat pesan papa, Papa jaga baik-baik diri papa ya maaf Sena belum sempat menjenguk."
"Iya tidak apa-apa Sena,"
"Sudah ya ngobrolnya, berikan teleponnya sama Maudy lagi mama mau ngobrol sama dia." Sena tertegun mendengar suara ketus dari ibu tirinya ia langsung memberikan ponsel ke pemiliknya kembali.
***
Sena duduk di tepi ranjangnya ia sebenarnya masih ingin berbicara dengan ayahnya tapi sudah keburu di hentikan oleh ibu tirinya bahkan ibu tirinya tidak menanyakan kabarnya sama sekali.
"Sudah jangan terlalu di pikirkan mendingan kamu tidur ini udah malam,"
Oh Tuhan, Sena sampai lupa dengan Dirga yang masih di kamarnya dan sekarang sedang tiduran di ranjangnya.
"Ya udah sana mas balik ke kamar mas,"
"Enggak mau, aku mau tidur disini?"
"Ck! Terserah." Sena sebenarnya ingin sekali menyeret Dirga keluar tapi bagaimana pun pria itu yang sudah menyelamatkan ayahnya dari keterpurukan sakitnya dan sekarang Dirga juga yang menanggung biaya pengobatan untuk kedepannya.
Sena masuk ke dalam selimut yang sama dengan Dirga membiarkan pria itu tidur di sampingnya seraya memberikan pelukan hangat untuknya tak lupa Dirga juga sempatkan untuk mencium dahi dan bibir Sena terlebih dahulu, jujur saja Dirga sangat merasa senang karena Sena tak pernah menolak dirinya entah karena alasan berhutang budi atau apapun itu Dirga pastikan akan membuat wanitanya jatuh cinta kepadanya.
TO BE CONTINUED..
__ADS_1