
Sebenarnya Sena tak ingin mengizinkan Rania untuk ikut pulang bersama mereka berdua tapi perawan tua itu terus merengek meminta ikut pada Dirga, mau tidak mau Sena menyuruh Dirga untuk membawanya ikut pulang ke rumah.
"Sena kamu enggak di marahin sama Sarah apa setiap pulang sekolah selalu di jam segini?" tanya Rania yang duduk di jok belakang.
"Siapa yang berani marahin dia, kalau ada yang berani marahin Sena bakalan berurusan sama aku Ran." Sena tersenyum senang mendengarnya tapi tidak dengan Rania.
Dirga sudah benar-benar menunjukkan sikap perhatiannya secara terang-terangan pada Rania. Bukankah ini yang di inginkan Sena melihat Dirga peka akan perasaannya.
Mereka telah sampai di rumah, Sarah dan Maudy yang melihat kedatangan mereka secara bersamaan membuat keduanya merasa heran.
"Sena kamu kok bisa pulang bareng mas Dirga sama Rania juga?"
"Tadi kebetulan aku ketemu sama mas Dirga di Cafe, jadi sekalian aku ikut nebeng aja." Sena bersuara selepas itu ia memilih menaiki anak tangga enggan berlama-lama berada di antara mereka semua.
Begitu juga dengan Dirga yang langsung ikut pergi tanpa memberikan penjelasan apapun mengenai Rania yang akan menginap di rumahnya kembali.
***
Di ruang living room itu terdapat kedua wanita yang sedang asyik mengobrol dan saat itu juga Rania ikut bergabung dengan mereka.
"Hay, bolehkan aku ikut gabung duduk disini?" Sarah tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Boleh duduk aja," Sarah menepuk space yang masih kosong di sampingnya.
Obrolan semakin menjadi-jadi diantara mereka apalagi sekarang Rania memancing obrolan tentang Sena mencoba memprovokasi Sarah.
"Sena itu jarang kumpul sama kalian ya seperti ini duduk barengan ngobrol gitu?"
"Dia lebih sering di kamar sendirian lagi pula aku tidak menginginkan keberadaannya disini," Sarah dengan jelas menunjukkan ketidaksukaannya pada Sena.
Rania di buat bingung bukankah mereka bersaudara ya meskipun ia tahu Sena bukanlah saudara kandung seperti Maudy tapi dengan jelas Sarah tidak menyukai Sena.
"Dirga juga jarang keluar ya dari kamarnya.. "
"Apa kalian tidak curiga?"
__ADS_1
"Maksudmu?"
"Ya, mereka berdua sama-sama jarang keluar jika sudah berada di kamar dan setahuku kamar Sena letaknya di pojokan ya mungkin saja ada sesuatu yang mereka sembunyikan dari kalian,"
Sarah terdiam ternyata bukan hanya Maudy saja yang mengatakan tentang kecurigaan itu tapi Rania juga merasakan hal yang sama.
"Ya, sebenarnya aku dan Maudy pun pernah berpikir seperti itu tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa Ran,"
"Kenapa kau inikan istri dari Dirga lagi pula kau juga sepertinya menantu kesayangan kedua orang tua Dirga, kau bisa berbuat apapun di rumah ini Sarah."
Sarah berpikir keras ia mencoba mencerna setiap kata yang di ucapkan Rania dan apa yang di katakan Rania ada benarnya apalagi kelemahan Dirga ada pada kedua orang tuanya, jika ia memanfaatkan keadaan ia bisa memiliki Dirga dengan seutuhnya. Sudah seharusnya ia menyelidiki kecurigaan yang selama ini ada pada pikirannya.
***
Pukul 10 malam semua orang sudah memasuki kamarnya terkecuali Sarah ia mencoba menerima saran dari Rania malam ini, ia terjaga di kamar Maudy yang letak kamarnya dekat dengan kamar Sena seperti yang pernah di ceritakan Maudy jika ia pernah melihat Dirga masuk ke dalam kamar Sena di malam hari jadi ia ingin melihat itu dengan jelas.
"Mba aku tidur duluan ya, aku ngantuk banget." Maudy menguap.
"Ya udah kamu tidur aja, mba belum ngantuk."
Seketika teleponnya berdering ia langsung terkejut dan melihat siapa yang menelponnya malam-malam begini ternyata Samuel temannya yang bekerja di kantor Dirga.
"Hay Sam, ada apa?"
Dan akhirnya ia mengobrol cukup lama dengan Samuel, mereka memang sudah sangat lama dekat hanya saja Samuel bukan tipe pria yang sering menceritakan hal yang tidak baik tentang Dirga walaupun Sarah sering mempertanyakan Dirga padanya tapi Samuel selalu mengatakan jika Dirga adalah pria yang baik dan selalu pekerja keras di kantor padahal kenyataanya sudah beberapa kali Samuel memergoki Dirga bersama Sena.
***
"Jadi gue di Terima kerja Nic?" Nico mengangguk.
"Ya dan siang ini tante gue mau lo langsung kerja karena beliau lagi butuh pegawai banget," Sena tampak bingung pasalnya siang ini Dirga akan menjemputnya.
"Ok deh, ayo kita ke Cafe tante lo." Sena sudah meminta Nico untuk membantunya mencari pekerjaan dan ia tidak ingin menyia-nyiakan pekerjaan itu, urusan Dirga itu bisa ia atur.
Tak butuh waktu lama mereka untuk sampai di Cafe tempat kerja Sena, Nico langsung mengajaknya masuk untuk bertemu dengan tantenya pemilik Cafe tersebut.
__ADS_1
"Hay Nic, ini teman kamu yang katanya mau kerja di tempat di Cafe ini?"
"Iya tan, Oh iya Sena ini kenalin tante Mela pemilik Cafe Mevalethea." Sena tersenyum ramah.
"Ok, kemarin tante udah baca CV kamu dan karena di Cafe sedang membutuhkan karyawan meskipun kamu belum ada pengalaman pekerjaan tapi kamu bisa kan kalau diajarin bikin kopi?"
"Saya akan usahakan tan,"
Sena pikir ia akan menjadi waiters di Cafe ini ternyata ia di beri kesempatan untuk menjadi barista, sebuah pekerjaan yang sangat pastinya sangat menyenangkan.
"Karena kamu masih sekolah jadi kamu akan bekerja dari jam 1 siang sampai 7:30 malam, kamu siap?"
"Ya, siap tante."
Dan siang itu juga Sena mulai bekerja, Nico pamitan untuk pulang ia berjanji akan menjemput Sena pada pukul 7 malam nanti.
***
Dirga sendiri yang baru saja sampai di depan sekolahan Sena, ia yang telat menjemput Sena atau memang wanitanya sudah pulang lebih dulu tapi beberapa menit kemudian ia mendapatkan pesan dari Sena.
"Maaf mas, aku udah pulang siang ini aku ada kerjaan. Nanti aku kabari lagi love you."
Kata pekerjaan itu berhasil membuat Dirga mengerutkan dahinya, pekerjaan apa yang di lakukan Sena ia mengirimkan balasan pesan tapi Sena sudah tidak aktif di aplikasi berwarna hijau itu bahkan sekarang ia mencoba menelponnya tapi tak ada respon sama sekali.
"Pekerjaan apa sih yang buat kamu sampai enggak angkat telepon dari aku sama sekali?" Dirga memukul setir mobilnya dan seketika malah Rania yang meneleponnya.
"Ada apa?" jawab Dirga ketus.
"Ga, kamu kemana aja para investor udah nungguin kamu cepetan balik ke kantor."
"Iya 15 menit lagi aku sampaikan di kantor,"
Dirga kesal ia memutuskan sambungan teleponnya wanitanya itu selalu berhasil membuatnya kelimpungan dengan segala hal yang dilakukannya, untuk apa wanitanya sampai bekerja segala padanya jika Sena meminta apapun itu pasti akan Dirga turuti, ia tidak akan sampai jatuh miskin jika hanya menghidupi Sena seorang.
TBC.
__ADS_1
Di harap memberikan Like, Vote dan Komentarnya ya prend memberikan keempat poin itu sangat gratis. :)