
Dirga yang tengah sibuk mengurusi dokumen-dokumen pentingnya seketika ia terkejut melihat seseorang yang masuk ke ruangannya, ia tersenyum seraya membawa beberapa berkas di tangannya.
"Selamat pagi pak Dirga, ini dokumen penting yang harus bapak tanda tangani."
"Rania kamu, kok dokumen ini bisa ada di kamu?" Rania tersenyum melihat raut wajah bingung Dirga.
"Kamu enggak tau ya, kalau aku sekarang jadi sekretaris kamu menggantikan posisi Viola yang mengundurkan diri."
"APA? Kahfi enggak bilang apapun sama aku,"
"Ya udahlah ga kenapa kamu bingung banget sih nanggepinnya, kamu enggak suka ya aku jadi sekretaris kamu sekarang?" Dirga menggeleng.
"Bukan begitu Ran, ya sudahlah enggak perlu di bahas semoga kamu betah dan bisa bekerja dengan baik ya."
"Baik Pak, ini berkasnya aku taruh sini. Aku balik ke ruangan aku lagi ya," Dirga mengangguk.
Berkat bantuan Samuel ia bisa dengan cepatnya bergabung di perusahaan Dirga, dengan begitu Rania bisa semakin dekat dengan Dirga, ia tahu betul Dirga lebih banyak menghabiskan waktunya di kantor ketimbang di rumah.
Disisi lain, Dirga sedang merasa kesal karena HRD di kantornya tidak mengonfirmasikan sama sekali, perihal siapa yang akan menjadi sekretaris barunya.
"Hay ga tumben lo manggil gue ke ruangan lo, jangan bilang lo nyuruh gue buat gantiin lo untuk rapat besok pagi?" Samuel yang seketika masuk ke ruangan Dirga ia langsung mendapatkan tatapan aneh dari atasannya.
"Sam lo kan ketua divisi utama di kantor ini, kenapa lo enggak bilang ke hrd untuk konfirmasi dulu siapa yang bakalan jadi sekretaris baru gue sekarang." sekarang Samuel paham kenapa Dirga bisa setajam itu menatapnya.
"Ga, sorry kalau gue lancang Sintia selaku hrd di kantor kita dia udah konfirmasi ke lo tapi katanya lo enggak ada respon sama sekali.. "
"Bahkan kemarin lo sendiri ada di kantor tapi melarang semua karyawan buat masuk ke ruangannya lo kan." Dirga terdiam, ia memang mengakuinya jika Dirga sering menghiraukan karyawannya bahkan kemarin ia tak mengizinkan siapapun untuk masuk ke ruangannya.
"Ok sam thanks atas penjelasannya,"
***
Siang ini Sena pulang sendiri tidak seperti biasanya ia akan di jemput Dirga, pria itu sekarang tidak bisa mengajaknya sering ke kantornya seperti dulu lagi karena keberadaan Rania sekarang di kantor.
"Tumben pulang tepat waktu?" Pertanyaan Sarah, Sena hiraukan ia lebih memilih langsung menaiki anak tangga.
__ADS_1
"Sena tunggu, ada yang mau mba omongin sama kamu?"
"Mau ngomongin apa sih mba?" Sena berbalik menatapnya.
"Mba enggak suka ya ngeliat kamu terlalu dekat sama mas Dirga, kamu tau kan kamu ini sama mba itu saudara tiri jadi kamu sama mas Dirga itu enggak ada ikut hubungan saudara ipar sama sekali." Sena mengangguk.
"Iya mba,"
Penjelasan apa yang barusan Sarah jelaskan sekalipun Sarah menikah sungguhan dengan Dirga pun, Sena tidak akan termasuk menjadi saudara iparnya tapi sudah jelas-jelas mereka hanya menikah bohongan tapi bisa-bisanya Sarah merasa seakan dirinya adalah istri sungguhan.
"Kamu jangan iya nya aja kalau sampai mba ngeliat kamu deketin mas Dirga lagi, kamu angkat kaki dari rumah ini." Sarah melangkah pergi setelah mengucapkan kalimat penekan nya itu.
Sena memasuki kamarnya ia langsung merebahkan tubuhnya di kasur ucapan Sarah barusan berhasil menyelinap di pikirannya, sombong sekali dia bisa-bisanya ingin mengusir Sena dari rumah yang bukan miliknya.
Drrt.. Ponselnya berdering menampilkan nama Bee siapa lagi yang kalau bukan Dirga pria yang punya ****** ***** berkarakter lebah.
"Hay sayang kamu udah sampai rumah?" suara dari sebrang sana itu terdengar jelas di pendengarannya.
"Udah, tumben banget sih enggak jemput aku, malah nyuruh supir pribadi kantor kamu." ujarnya seraya melepaskan kaos kaki di kakinya.
"Tumben biasanya sesibuk dan sepenting apa itu pekerjaan kamu, kamu bakalan tetep kekeh jemput aku."
Ya, sekarang Dirga bingung harus menjelaskan apalagi mana mungkin ia memberitahu Rania sekarang bekerja di kantornya, bisa jadi nanti Sena akan berpikir sepenting itukah Rania sampai ia takut hubungan gila mereka di ketahui olehnya.
"Kok diem sih?"
"Ah itu, udah dulu ya aku siang ini ada rapat sama karyawan aku. Kamu istirahat aja nikmatin tidur siang kamu dah love you," sambungannya terputus semakin membuat Sena tak merasa suka dengan sikap Dirga sekarang.
***
Dirga duduk menanti makanan yang mereka pesankan sedari tadi ia terus melihat ke arah jam tangannya yang sekarang sudah menunjukan pukul 5 sore ia ingin segera pulang tapi Rania malah mengajaknya untuk makan di restoran.
"Yeah akhirnya makanan kita datang juga, aku lapar banget tau ga." Dirga tersenyum kecil mendengarnya.
"Iya sama aku juga," Dirga memakan makanannya dengan tak berselera dan Rania bisa melihat itu dengan jelas.
__ADS_1
"Ga kamu kenapa? Ada masalah," Dirga menggeleng.
"Enggak ada Ran," Rania seketika menggenggam tangan Dirga membuat sang empu terkejut.
"Kalau kamu ada masalah cerita ga sama aku, jangan di pendem sendiri katanya dengan kita berbagi cerita itu bisa mengurangi beban pikiran kita lho." Dirga tersenyum.
Saat ini permasalahannya ada pada diri Rania yang selalu mencoba mendekati Dirga, ingin rasanya Dirga mengusir jauh wanita ini tapi ia pun tak tega karena bagaimana pun dulu ia pernah merasakan kenyamanan saat bersama Rania.
***
Saat mobil Dirga baru saja sampai di pekarangan rumahnya, saat ia melintasi gerbangnya ia mendapati Sena yang sedang melepaskan helm dan di depannya bersama seorang pria yang usianya sama dengan wanitanya hal itu berhasil membuat Dirga marah melihatnya.
Dirga langsung turun dari mobil dan menghampiri keduanya, Sena yang melihat Dirga ia merasa ketakutan melihat ekspresi marah di wajahnya.
"Mas.. "
"Kamu siapa?" tanya Dirga spontan pada Nico yang menatapnya santai.
"Saya Nico temennya Sena," Dirga menatap Sena tajam.
"Sena masuk ke dalam!" Sena mengangguk.
"Iya mas, Nic thanks ya sorry gue masuk duluan." Nico tersenyum dan menganggukkan kepalanya saat Sena sudah benar-benar masuk ke dalam rumah.
"Hey bocah dengarkan omongan saya, kamu sebaiknya jauhi Sena dia harus fokus ke sekolahnya." Nico tersenyum simirk mengejeknya, seakan-akan ucapan Dirga barusan hanya sebuah lelucon.
"Maaf saya dengan Sena hanya sebatas teman lagi pula Sena bilang dia tidak masalah jika saya mendekatinya. Permisi," Nico menjalankan motornya dan pergi begitu saja.
Perkataan Nico barusan berhasil membuat Dirga semakin murka mendengarnya, tidak ada yang boleh mendekati wanitanya dan barusan Nico bilang jika Sena tidak mempermasalahkannya jika dia mendekatinya.
Hal konyol apa ini, baru saja sehari ia tidak menjemputnya dan sekarang Sena sudah berani kelayapan dengan pria lain di belakangnya.
TO BE CONTINUED..
Minta Vote, Like dan Komentarnya ya prend karena dukungan dari kalian sangat membantu agar semangat author kembali membara :)
__ADS_1