
Dirga menarik paksa masuk dengan kasar, ia pikir Sena sudah masuk ke dalam ternyata ia malah menguping obrolan mereka dan hal yang membuat Sena kesal kenapa bisa-bisanya Nico berbicara berlebihan seperti itu ia tidak pernah berbicara jika ia mengizinkan Nico untuk mendekatinya.
"Mas lepasin ah sakit tangan aku mas," Dirga terus menarik dan mencengkram pergelangan tangan Sena dengan kuat.
"Aku bilang sama kamu untuk menikmati tidur siang kamu, bukan malah kelayapan sama pria lain!"
"Ada apa ini mas?" Sarah terkejut ia segera turun ke bawah dan melihat tangan Dirga yang sedang mencengkram tangan Sena dengan kuat.
Langkah kaki Dirga terhenti dan melepaskan tangan Sena sang empu merintih kesakitan bahkan sekarang pergelangan tangan menunjukkan memar merah akibat cengkraman tangannya.
"Sena kamu buat masalah apa sampai mas Dirga marah?"
Sena menatap Dirga sekilas, dan sekarang Sarah menyalahkannya ia memang selalu salah di mata semua orang bahkan sebelum mereka mendengarkan penjelasan darinya tapi ia sudah di tuduh bersalah.
Sena memilih berlari menaiki tangga dan memasuki kamarnya ia tidak ingin menjelaskan apapun, percuma dirinya tidak ada benarnya di mata semua orang. Lebih baik diam sampai keadaan mulai membaik.
Sena terduduk di pojokan kamarnya ia memeluk dirinya sendiri dan sekarang ia menangis karena perlakuan kasar Dirga barusan padanya, ini untuk kesekian kalinya ia melihat Dirga semarah itu padanya.
***
Sena berdiri di depan jendela kaca kamarnya ia menatap langit yang gelap karena tertutup awan mendung sama seperti perasaannya sekarang terasa suram.
Sebuah pelukan hangat dari seseorang yang kini di belakangnya siapa lagi kalau bukan Dirga yang berani menyelinap masuk ke kamarnya.
"Maaf untuk kejadian tadi," katanya seraya membenamkan wajahnya di leher jenjang wanitanya.
__ADS_1
Sena masih terdiam ia enggan untuk melihat lawannya, ia masih kesal akan perlakuan kasar Dirga padanya.
"Aku tau kamu masih marah tapi sungguh mas hanya merasa cemburu melihat kamu bersama pria lain," Dirga membalikkan tubuh Sena, mereka saling berhadapan dan Sena mencoba mengalihkan pandangannya ia tak ingin melihat wajah Dirga.
"Hey lihat mas," Dirga menangkup wajah wanitanya, ia bisa melihat jelas mata wanitanya berkaca-kaca.
Dirga meraih pergelangan tangan Sena melihat apakah masih memar karena cengkraman nya tapi sekarang ia bersyukur memar merah sudah menghilang, ia mengecup pergelangan tangan wanitanya.
"Maafin mas ya, mas benar-benar menyesal. Maaf karena aku enggak bisa mengontrol emosi tadi, seharusnya mas dengerin penjelasan dari kamu." Sena membuang mukanya ia benar-benar tidak ingin mendengarkan perkataan apapun yang keluar dari mulut Dirga.
Bahkan sekarang saat Dirga mencium bibirnya dan ******* bibirnya ia tak membalas ciuman itu sama sekali.
"Mas aku capek, pengen istirahat." Sena menyingkirkan tubuh Dirga ia memilih masuk ke dalam selimut tebalnya, ia hanya ingin tidur lelah karena menangis barusan.
"Maafin aku sayang," berulang kali Dirga mengucapkan permintaan maafnya tapi Sena sudah terlelap dalam tidurnya.
***
Paginya biasanya Sena akan terbangun tanpa Dirga di sampingnya tapi sekarang pria itu masih setia memeluknya, jika hari ini ia bisa bangun tanpa kehadiran pria itu maka biarkan hari ini pria itu bangun tanpa dirinya.
Sena segera bersiap-siap berangkat ke sekolahnya dan Dirga masih terlelap di tidurnya sebegitu lelahnya kah Dirga tapi Sena enggan untuk membangunkannya bahkan sekarang Sena sudah rapi dan keluar menutup pintunya dengan rapat meninggalkan Dirga yang masih terlelap.
"Hoam.. " dan saat Dirga terbangun ia tak mendapati Sena di sampingnya.
Dirga buru-buru keluar dari dalam kamar beruntung keadaan masih sepi tapi mengapa Sena berangkat ke sekolahnya begitu sangat pagi tidak seperti biasanya.
__ADS_1
Dan pagi itu Dirga terlihat sangat tidak bersemangat bahkan ia tak berselera untuk sarapan sama sekali.
"Mas kamu enggak sarapan dulu ini masih banget lho,"
"Enggak, saya buru-buru." Dirga meraih tas kerjanya dan langsung memasuki mobilnya.
Sarah semakin di buat bingung dengan sikap Dirga yang keliatan sangat tidak bersemangat dan juga Sena yang sudah berangkat ke sekolah di pagi buta, dan untuk kejadian kemarin ia masih penasaran kenapa Dirga bisa begitu marahnya sampai mencengkram kuat lengan Sena.
***
"Ini barang yang kemarin kalian minta," Sena memberikan gelas pengukur untuk praktek di mata pelajaran kimia.
"Akhirnya bahan-bahan dan alatnya terkumpul juga," Flo merasa lega sebagai ketua di kelompok mereka.
Flo merasa lega tapi tidak dengan Sena yang sekarang merasa banyak pikiran.
Karena gelas pengukur ini ia sampai mencari bantuan Nico untuk menemaninya pergi ke toko khusus yang menyediakan peralatan kimia pasalnya ia tidak hapal daerah ibu kota Resti dan Flo pun memliki tugas sendiri dari pada meminta bantuan pada Juan yang pastinya akan buat geger di sekolahannya, jadilah ia memutuskan meminta bantuan Nico.
Tapi, karena gelas pengukur itu juga Dirga jadi salah paham dan mengamuk tidak jelas padanya sampai membuat tangan terasa sakit saat itu
TO BE CONTINUED..
Bantu Vote, Like dan Komentarnya ya prend karena dukungan dari kalian sangat membantu agar semangat author kembali membara :)
Jangan lupa ikuti Author juga ya..
__ADS_1