Love Toxic

Love Toxic
Bab 92 - Force


__ADS_3

Sena duduk terdiam di ranjang kasurnya dia baru saja menangis sesenggukan setelah pertikaian nya dengan Dirga dan sampai saat ini pria itu belum juga masuk kembali ke kamar mereka.


Berbeda dengan Dirga yang sekarang tengah fokus menyelesaikan pekerjaannya di ruang kerjanya, pikirannya sekarang memang sedang campur aduk dikarenakan pertikaian barusan dengan Sena dia tahu penyebab wanitanya itu marah karena memang dirinyalah yang bersalah diam-diam memberikan apartemennya untuk Rania tanpa memberitahu Sena sama sekali.


"SENA.. DIRGA.. "


Seseorang di bawah sana berteriak memanggil mereka berdua siapa lagi kalau bukan Renata yang sekarang berkunjung kembali ke rumah mereka seraya membawa makanan untuk keduanya, Dirga yang mendengarnya ia langsung turun ke bawah menghampiri kedua orang tuanya dan disusul dengan Sena yang ikut turun ke bawah juga.


"Kok kalian kesini nya enggak barengan sih," kata Renata yang memperhatikan keduanya.


"Tadi aku habis dari ruang kerja ma,"


"Kamu ini di rumah masih bisa-bisanya kepikiran untuk bekerja istri lagi hamil juga," ujar Bastian.


"Kalian pasti belum makan malam kan, tadi kebetulan mama masak banyak jadi sekalian aja di bawa kesini buat makan malam bareng kalian,"


"Makasih ya ma, maaf jadi ngerepotin." kata Sena.


Meskipun saat ini mereka berdua duduk berdampingan tapi keduanya masih sama-sama lebih memilih untuk diam ketimbang banyak bicara dan Dirga bisa melihat dengan jelas Sena yang lebih banyak melamun di saat mereka sedang makan.


"Sena kamu kok makannya dikit banget sih sayang? Perempuan hamil itu harus agak banyakan makannya kan bukan hanya buat kamu aja proteinnya tapi buat bayi kamu juga," ujar Renata yang melihat porsi makan Sena.


"Segini udah cukup kok ma lagi pula akhir-akhir ini perut aku sering mual kalau makan terlalu banyak," katanya.


"Dirga kamu ini harus lebih memperhatikan pola makan istri kamu, jangan terlalu banyak bekerja kesampingkan dulu pekerjaan kamu, terus juga kamu harus lebih memaklumi Sena biasanya mood perempuan hamil itu sering naik turun ya kan sayang," Sena mengangguk mendengar penuturan ibu mertuanya barusan dan Dirga hanya memilih untuk tetap tenang dengan makanannya.

__ADS_1


"Usia kehamilan kamu sudah memasuki 6 bulan kan? Setahu Papa biasanya diusia kehamilan yang udah mulai tua perempuan hamil itu sering sekali berubah menjadi menyebalkan dulu mama kamu juga seperti itu Dirga, sangat menyebalkan bikin papa pusing," Renata mendelik mendengar Bastian mengatakan kalimat itu barusan.


"Kan wajar namanya juga perempuan hamil kan udah mama bilang moodnya kadang naik turun, sering minta ini-itu,"


"Dan bahkan masalah sepele aja di besar-besarkan," sambung Dirga yang membuat Sena meliriknya.


"Bukannya memperbesar kan tapi kan memang terkadang sesuatu yang di tutupi itu pasti akan jadi boomerang di rumah tangga sendiri," ujar Sena yang mencibir balik.


Sena tidak suka dengan perkataan Dirga barusan seperti sedang menyindir nya dan Renata yang mengerti situasinya dia langsung mencairkan suasana dengan mengalihkan topik pembicaraan mereka.


***


"Kamu bertengkar sama Sena?" tanya Renata yang sekarang bersama Dirga, Sena izin kembali ke kamarnya karena ingin beristirahat.


"Dianya aja yang dikit-dikit emosian, sedikit-sedikit masalah sepele aja di perbesar," ujar Dirga.


"Iya Dirga kan kamu sudah memilih Sena untuk jadi istri kamu jadi sudah seharusnya kamu siap dengan segala resikonya," sambung Renata.


"Ya tapi Dirga capek ma pa kalau harus ngertiin dia terus, dia enggak mau belajar jadi dewasa, udah gitu dia susah kalau diatur, Aku kurang sabar apa coba selalu mengalah kalau dia lagi marah-marah," kata Dirga yang kesal setiap mengingat sikap Sena kepadanya.


Kedua orang tuanya hanya bisa menasehatinya untuk bisa lebih bersabar lagi dalam menghadapi Sena, suruh siapa putranya itu menikahi wanita di bawah umur bukankah ini memang sudah menjadi resikonya. Baik Renata dan Bastian tidak menyalahkan Sena dia mengerti apalagi Renata sangat mengerti kenapa Sena bisa bersikap seperti itu kepada Dirga.


Setengah jam kemudian..


Setelah selesai makan dan menasehati Dirga, kedua orang tuanya berpamitan untuk pulang karena malam sudah semakin larut. Dan sekarang Dirga telah masuk ke kamar mereka ternyata Sena tidak mengunci pintu kamarnya dan wanita itu belum juga tidur dia masih duduk di sofa yang ada di kamar mereka.

__ADS_1


Keduanya saling pandang, Sena memilih untuk mengalihkan pandangannya dia hanya tidak percaya jika Dirga mengatakan kepada kedua orang tuanya jika dia lelah dengan dirinya yang sampai sekarang tidak mau belajar untuk bersikap dewasa.


Ya, Sena mendengar obrolan mereka saat ia ingin hendak ke dapur untuk membuat susu untuknya tapi langkahnya terhenti saat ia mendengar kedua orang tua Dirga mencoba menasehati suaminya itu. Dan ia mendengar dengan jelas segala keluh kesah Dirga karenanya.


"Kenapa mas enggak bilang langsung aja ke aku kalau kamu capek sama sikap aku yang seperti ini," ujar Sena yang berhasil membuat Dirga yang sedang duduk di samping ranjang menatapnya.


"Maksud kamu?"


"Aku udah denger semua segala keluh kesah kamu ke Mama sama Papa,"


"Oh jadi kamu menguping pembicaraan gitu, kenapa enggak sekalian ikut gabung aja biar lebih jelas," tutur Dirga.


"Kalau emang kamu capek sama sikap aku, SETELAH ANAK INI LAHIR KITA BERCERAI SAJA," kata Sena dengan lantangnya dan berhasil membuat Dirga terdiam.


"Biar setelah semua ini kamu enggak akan capek lagi, dan kamu bisa mencari wanita yang lebih dewasa dari padaku," sambungnya kembali tapi Dirga menggelengkan kepalanya tidak percaya Sena akan mengatakan kata cerai itu kembali.


"KAMU NGOMONG APA SIH? AKU ENGGAK NGERTI SAMA JALAN PIKIRAN KAMU," katanya seraya melenggang keluar dari kamarnya.


Malas mendengarkan ucapan Sena yang tidak ada benarnya jika ia terus berdiam diri Sena pasti akan terus berbicara hal yang tidak baik. Jadi Dirga putuskan untuk kembali ke ruang kerjanya, kepalanya terasa penat memikirkan jalan pikiran Sena sekarang.


Dirga akui dia memang mengatakan lelah tapi bukan berarti dia berpikiran untuk bercerai dengan wanita itu tapi Sena bisa-bisanya berpikir untuk bercerai dengannya dimana jalan pikiran wanita itu sekarang.


Dari awal Sena memang belum siap untuk menikah tapi karena kehamilannya membuatnya harus siap untuk menikah, bahkan untuk menjadi seorang ibu di usia muda nya seperti ini ia pun belum siap untuk menjadi seorang ibu tapi mau bagaimana lagi ini semua sudah menjadi resiko segala perbuatannya dengan Dirga jadi mau tidak mau Sena di tuntut untuk siap dengan segalanya dan keputusan untuk bercerai dengan Dirga yang ada di pikirannya sekarang mungkin Dirga menyesal karena telah menikahinya.


TBC.

__ADS_1


Di harap memberikan Like, Vote dan Komentarnya ya prend memberikan keempat poin itu sangat gratis. :)


__ADS_2