Love Toxic

Love Toxic
Bab 72 - Why I


__ADS_3

Sejak tadi siang ponsel Sena tak bisa di hubungi ini yang paling tak di sukai Dirga, wanitanya itu cepat sekali marah sulit sekali untuk menghadapi watak Sena yang masih seperti bocah pada umumnya. Dan sekarang dia telah berada di Cafe tempat Sena bekerja, sebenarnya sudah berapa kali Dirga meminta Sena untuk berhenti bekerja tapi wanitanya tak mau mendengarkannya.


"Saya pesan kopinya satu,"


"Kopi apa ya pak?"


"Saya mau dia yang melayani saya," tunjuk Dirga ke arah Sena yang sedang duduk istirahat di kursi belakang.


"Maaf Pak tapi barista yang itu sedang istirahat,"


"Ya, bisa kan anda beritahu dia untuk membuatkan kopi untuk saya,"


"Tunggu sebentar ya pak, akan saya beritahu." ujar Friska menghampiri Sena yang sedang duduk seraya memijit kakinya yang mulai sedikit bengkak.


"Sen, sorry ganggu waktu istirahat lo tapi si bapak-bapak itu minta lo yang buatin kopi untuk dia." katanya yang langsung membuat Sena berdiri dan melihat kearah bar.


"Oh gitu, ya udah gue buatin dulu ya," Friska mengangguk.


"Ngapain sih dia kesini," gumam Sena menghampiri Dirga.


"Mau pesan kopi apa?" tanyanya jutek.


"Kamu kan sayang udah tau kopi kesukaan aku," ujarnya dengan senyum manisnya.


"Tunggu bentar," Sena membuatkan kopi untuk Dirga, ia sebenarnya malas harus melihat keberadaan Dirga di tempat kerjanya.


"Ini kopinya," Sena membuatkan kopi hitam tanpa gula untuk Dirga dan seketika Dirga meminumnya wajahnya seketika berubah.


"Kamu kok buatin kopi pahit sih?"

__ADS_1


"Oh iya kah maaf aku lupa apa yang kamu sukai," ucapnya beralibi.


Sena kembali ke belakang untuk beristirahat kembali, "Kamu mau kemana? Temani aku dulu dong disini,"


"Aku capek mau istirahat," jawabnya tak memperdulikan  Dirga.


Sudah jelas Dirga bisa melihat sikap Sena yang bersikap acuh kepadanya pastinya dia sedang marah kepadanya.


***


"Aku udah nungguin kamu dari tadi, kamu kenapa sih bersikap kayak gini?" ujar Dirga yang menghentikan langkah Sena, mereka kini berada di parkiran depan Cafe.


"Mas aku tuh lagi capek, bisa enggak sih kamu ngertiin aku. Aku bisa pulang sendiri," jawab Sena ketus.


"Kamu pulang bareng aku,"


"Kalau kamu terus maksa aku kayak gini, aku enggak akan segan buat ngasih tau ke orang tua kamu kalau aku hamil itu karena kamu!" ancam Sena.


Sedetik kemudian Dirga menendang ban mobilnya dengan keras, dia kesal karena Sena sekarang sudah berani mulai mengancamnya dan anehnya dia merasa khawatir jika Sena benar-benar memberitahukan kebenarannya kepada kedua orang tuanya.


***


"Kenapa harus aku mas yang kamu jadikan alat permainan kamu, kenapa enggak wanita lain mas! Kenapa harus aku yang bertemu sama kamu," ujar Sena kesal seraya membanting vas bunga di kamarnya.


"SENA?" suara Renata dari luar pintu kamarnya.


"Iya tante kenapa?" tanya Sena yang sudah membuka pintu kamarnya.


"Tadi tante habis dari kamar Dirga dengar dari dalam kamar kamu seperti ada suara pecahan?" Sena gelagapan.

__ADS_1


"Ah itu tante tadi aku enggak sengaja menyenggol vas bunga jadi vas nya pecah,"


"Tapi kamu enggak kenapa-kenapa kan? Kamu itu harus lebih berhati-hati Sena, kamu harus ingat kamu itu lagi hamil," ujar Renata seraya menggenggam kedua tangan Sena.


Sena bisa melihat raut wajah ketulusan dari wajah Renata, andai saja Renata tahu jika sekarang dia  adalah menantunya dan ingin rasanya Sena memangil Renata selayaknya menantu kepada mertuanya.


"Iya tante aku akan lebih berhati-hati lagi," jawabnya seraya tersenyum manis.


Renata dan Bastian selalu bersikap baik padanya bahkan setelah mendengar dirinya hamil, seharusnya mereka berdua mengusir Sena dari kediaman rumahnya tapi mereka masih mau menampung Sena.


Sikap keduanya yang seperti ini membuat Sena yakin seharusnya dia tak perlu takut memberitahu kebenarannya tapi Dirga pasti akan marah.


"Ya sudah kalau gitu tante mau turun kebawah ya, mau kembali ke kamar ini udah malem kamu juga harus istirahat sana." Sena mengangguk.


"Tante,"


"Iya kenapa?"


"Aku boleh enggak peluk tante Renata?"


"Boleh, sini peluk tante."


Sena memeluknya, akhirnya dia bisa memeluk mertuanya sendiri. Dia sudah sangat lama merindukan pelukan dari seorang ibu, selama dia kecil Sena tak pernah mendapatkan kasih sayang yang layak dari ibu tiri nya.


"Makasih ya tante,"


"Kamu kalau mau peluk tante jangan sungkan, anggap tante ini seperti ibu kamu sendiri." Sena mengangguk.


TBC.

__ADS_1


Maaf ya kalau ngebosenin author lagi mentok idenya, ini aja author usahain buat terus update.


__ADS_2