
Sena memandangi Dirga yang kini tengah fokus pada laptopnya hari ini pria itu tidak berangkat ke kantor dan memilih mengerjakan pekerjaan kantornya di apartemennya seraya menemani Sena karena bagaimana pun Sena juga hari ini tidak berangkat sekolah.
Ponsel Sena berdering berhasil membuat fokus Dirga teralihkan layar ponselnya menampilkan nama Juan, Dirga menatap ponsel itu sebelum akhirnya Sena mengambil dan mengangkat teleponnya.
"Halo iya, kenapa?"
"Hari ini gue enggak lihat lo di sekolah, lo kenapa Sen sakit?"
"Iya gue cuma enggak enak badan aja,"
"Oh gitu, ya udah nanti sehabis pulang sekolah gue jenguk lo,"
"Jangan! Mm.. Maksud gue enggak perlu repot-repot, gue cuma pengen istirahat jadi lagi enggak mau di ganggu sorry ya Juan gue tutup teleponnya."
Saat ia berbalik badan, Sena terkejut melihat Dirga yang sudah tepat berada di belakangnya.
"Siapa?"
"Mm.. Itu temen,"
"Oh temen, perhatian banget."
"Apaan sih," katanya seraya kembali ke ruang tengah.
"Kenapa ngeliatin aku kayak gitu banget sih?" tanyanya yang tak suka dengan tatapan Dirga sekarang, seketika pria itu tersenyum.
"Kamu itu enggak peka apa?" Sena mengerutkan dahinya tak mengerti maksudnya.
"Enggak peka gimana?"
"Aku enggak suka kamu berbicara sama pria lain selain aku, kamu harus paham itu." Sena mengangkat bahunya, Sungguh suatu sikap yang kekanak-kanakan.
"Lebay," Dirga membulatkan matanya mendengar jawaban dari Sena barusan. Apa wanita ini tidak mengerti akan perasaannya.
"Nanti kamu bakalan ngerasain gimana rasanya cemburu,"
"Huhu menyeramkan," Dirga langsung memeluk Sena membuat sang empu terkejut di tambah dengan sekarang Dirga menggelitiki tubuh wanitanya.
"Mas lepas geli tau!"
Dirga menyatukan kening mereka sangat begitu terasa hembusan nafas keduanya cukup lama mereka saling pandang sampai akhirnya berakhir dalam sebuah ciuman hangat.
__ADS_1
Entah sejak kapan Sena jadi pandai dalam berciuman yang pasti itu adalah bakat alami, sejak bersama Dirga ia jadi semakin menjadi wanita yang berani karena keberadaan Dirga di sampingnya membuat Sena yakin tidak akan ada yang mampu melukainya meskipun ia tahu suatu saat nanti hubungan terlarang nya ini pasti akan di ketahui dan akan berakhir pada waktunya.
***
"Dari mana aja kamu seharian enggak pulang dan baru pulang hari ini?" tanya Sarah yang melihat kepulangan Sena di jam sore.
"Bukan urusan mba Sarah ya, mau aku pulang jam berapa ataupun hari apa itu." Sarah tercengang mendengar jawaban Sena.
"Sekarang kamu udah berani ya melawan sama mba,"
"Kalau iya kenapa?" Sena menantangnya ia sudah muak jika terus-terusan yang mengalah.
"Kamu enggak tau diri ya, kalau bukan karena mba kamu enggak akan hidup seenak ini!"
"Ok makasih karena mba Sarah aku bisa hidup enak disini tapi setahu aku yang ngeluarin biaya kehidupan aku disini bukan mba tapi mas Dirga.. "
"Bye." Sena melambaikan tangannya ia langsung menaiki anak tangga memasuki kamarnya.
Sore ini Sena memang sengaja tidak pulang bersama Dirga ia khawatir nanti Sarah curiga jika mereka datang bersama, awalnya Dirga memaksa tapi Sena terus memohon agar pria itu mau mengerti jadilah ia pulang sendiri dan Dirga memutuskan untuk berangkat kembali ke kantornya.
***
Dirga masih sibuk di dengan pekerjaannya yang cukup padat mungkin beberapa karyawannya akan mengira jika Dirga tidak terlalu profesional karena seharusnya berangkat di pagi hari tapi ia malah berangkat di sore hari ini semua karena permintaan Sena.
"Iya kenapa?" tanyanya pada asistennya.
"Tadi siang ada seseorang perempuan mencari pak Dirga tapi dia tidak ada janji dengan pak Dirga,"
Dirga berpikir keras tidak mungkin itu Sena dari tadi pagi sampai sore ia bersama Sena seharian di apartemen tapi siapa wanita itu.
"Kalau dia kesini lagi kasih tau saya,"
"Baik pak,"
Seorang perempuan siapa dia.. Dirga mengambil ponselnya sudah seharian ini ia mematikan ponsel hanya demi ini bersama Sena tanpa ada yang menganggu nya, saat ia mengaktifkan ponselnya beberapa notifikasi dari Sarah dan juga nomor yang tidak di kenali yang menelepon bahkan mengirimkan pesan untuknya.
"Hay, apa kabar?" ucap Dirga membaca pesan itu.
Dirga mengalihkan pesannya tak ingin mengambil pusing lagi pula ia tidak suka dengan nomor yang tidak di kenal, secepatnya ia mencari kontak Sena ia ingin mengirimkan pesan untuk wanita yang di cintai nya.
"Kamu sudah makan?" Dirga mengirimkan pesan untuknya.
__ADS_1
"Enggak,"
Jawabannya singkat membuat Dirga mengerutkan dahinya, ada apa dengan Sena.
"Apa kamu pulang di marahi Sarah?"
"Enggak mas,"
"Ya udah, aku pesankan burger untuk kamu biar enggak jutek terus.. " pesannya kembali seraya di sertai emot cium dan senyum manis.
Dirga yakin pasti Sarah yang membuat mood Sena tidak baik setelah ini pasti ia yang akan terus di serbu pertanyaan mengenai dirinya yang tidak pulang seharian, jika boleh memberitahu sebenarnya Dirga tidak ingin terus-terusan menyembunyikan hubungannya dengan Sena.
Andai Dirga tidak terikat pernikahan palsu dengan Sarah atau Andai jika Dirga lebih dulu bertemu dengan Sena mungkin Sena yang akan ia nikahi.
***
Sarah masih menunggu Dirga di jam 10 malam sekarang tapi pria itu tak kunjung pulang, apakah malam ini pria itu tak akan pulang kembali.
"Kamu lagi ngapain disini sendirian?" Suara itu suara yang Sarah rindukan pria itu sekarang berada di hadapannya dengan stelan jas yang sudah acak-acakan.
"Mas akhirnya kamu pulang juga, kamu tau enggak sih dari kemarin aku nungguin kamu."
"Oh iya maaf pekerjaan di kantor terlalu padat, sebaiknya kamu istirahat ini udah malam.. "
"Mas mama tadi nelepon aku dia nanyain kabar kita," Langkah kaki Dirga terhenti.
"Bilang aja kabar kita baik, udah ya saya capek banget pengen istirahat."
Sarah menatap punggung pria yang ia cintai menaiki anak tangga itu, padahal Sarah sangat berharap Dirga akan menghargainya setelah perhatian lebih yang dia berikan, tapi lagi-lagi selalu di abaikan.
***
Malam semakin larut perutnya terasa lapar sampai akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari kamarnya tapi langkahnya terhenti saat ia Maudy melihat dengan samar seseorang berperawakan seperti Dirga memasuki kamar Sena yang tak jauh dari kamarnya, apa matanya salah melihat atau karena efek dirinya yang sedang kelaparan.
Maudy yang penasaran ia semakin mendekatkan diri di pintu kamar Sena, bagaimana caranya ia memastikannya pintu tertutup rapat dan sepertinya terkunci sampai-sampai ia mencoba menempelkan telinganya di pintu kamar berharap ada sebuah suara yang ia dengar dari dalam dan benar saja.
"Mas.. "
"Bentar aja,"
Maudy menutup mulutnya mendengar suara itu barusan, suara Sena dengan seorang pria tapi apa itu benar Dirga kakak iparnya atau ia hanya salah melihat andai saja keberanian Maudy begitu sangat besar ingin sekali ia mendobrak pintu kamar ini sekarang tapi tidak sekarang ia harus memastikan kebenarannya pria itu Dirga atau bukannya, tapi jika itu bukan Dirga berani sekali Sena membawa masuk seorang pria ke dalam rumah kakak iparnya tapi jika itu benar Dirga berarti mereka sudah berani mengkhianati kakaknya.
__ADS_1
To be continued...