
"Mas kamu yakin enggak mau tidur di kasur aja?" ucapan Sarah barusan berhasil membuat Dirga menggelengkan kepalanya.
"Jangan mengharapkan sesuatu yang lebih dari saya, meskipun kita satu kamar kamu harus ingat batasannya kita berdua tidak ada hubungan apapun." Sarah langsung menutupi wajahnya dengan selimut, ucapannya barusan berhasil membuat Sarah menciut.
Apa untungnya satu kamar tapi Dirga bahkan tidak berminat sama sekali untuk menyentuhnya, andaikan Dirga tahu selama ini Sarah selalu mendambakan sentuhan dari pria itu tapi apa yang ia dambakan malah Sena yang mendapatkan.
Ya, malam ini Dirga lebih memilih tidur di sofa di bandingkan satu ranjang dengan Sarah ia tak sesuatu hal yang tak di inginkan terjadi pada dirinya.
Andai bukan karena permintaan Sena untuk sementara waktu ia tidak di perbolehkan masuk ke dalam kamarnya, mungkin Dirga akan menyelinap masuk tapi ia juga sadar akan keberadaan kedua orang tuanya disini.
"Sena.. "
Sarah terbangun dari tidurnya melihat Dirga yang ternyata mengigau memanggil nama Sena, ia kesal sampai menutup telinganya dengan bantal.
"Bahkan saat kamu lagi tidur kayak gini, kamu bisa-bisanya masih mengingat J*lang kecil itu." Sarah menutupi telinganya dengan bantal, merasa jijik mendengar Dirga mengigau nama Sena.
***
Sarah menatap Sena sebal yang di tatap menunjukkan wajah acuhnya ia tak perduli dengan tatapan Sena.
"Ma Pa, aku berangkat ke kantor dulu ya," Dirga berpamitan kepada kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Kamu kok enggak pamitan sama istri kamu juga sih ga?"
"Oh iya lupa Ma," Dirga menghela nafasnya dan mencium puncak kepala Sarah berhasil membuat sang empu merasa senang akan sikap manis Dirga padanya.
"Mas kamu semangat ya kerjanya," cup! Sarah mencium balik pipi Dirga berhasil membuat sang empu terkejut akan aksinya.
"Saya berangkat.. " ujarnya gugup.
Baik Dirga dan Sena mereka saling pandang ia tahu perasaan Sena sekarang pasti sedang kesal melihat adegan itu barusan. Maudy tersenyum senang karena melihat Sarah berani memperlihatkan aksi nekatnya.
Sena yang tadinya memutuskan berjalan kaki berangkat ke sekolahnya sedangkan Maudy selalu diantar supir pribadi dan sampai di pertengahan jalan, mobil Dirga berhenti di sampingnya ia sebenarnya malas masuk ke dalam mobil itu tapi Sena sudah tau betul seperti apa Dirga pasti akan memaksanya.
Di dalam mobil pikiran Sena melayang entah kemana ia memikirkan tentang semalam Dirga yang satu kamar dengan Sarah, ia berpikiran pasti mereka sudah melakukan sesuatu dan memikirkan hal itu berhasil membuatnya semakin kesal.
"Sena,"
"Mas kamu.. " Sena terkejut melihat jarak wajahnya dengan wajah Dirga begitu dekat, dan kenapa tiba-tiba mobilnya menepi.
"Kamu ngelamun sampai enggak sadar kalau mas merhatiin kamu?" Sena masih diam.
"Mikirin apa sih sayang?" tanya Dirga mengelus pipinya tapi Sena malah memundurkan duduknya.
__ADS_1
"Aku enggak mikirin apa-apa,"
"Jangan bohong, mas tau kamu lagi mikirin sesuatu jawab pertanyaan aku coba mikirin apa?"
Sena diam ia tak berani untuk berkata jujur, "Ya sudah kalau kamu enggak mau jawab, aku bakalan tungguin sampai kamu mau jawab," Dirga kembali duduk dengan tenang.
"Aku mikirin mas,"
"Mikirin aku, apa yang kamu pikirkan?"
"Mas kan semalam satu kamar sama mba Sarah jadi aku berpikiran mungkin aja semalam terjadi sesuatu," Dirga tersenyum dan mencium bibir wanitanya, jadi Sena sedang cemburu.
"Dengerin aku ya, semalam tidak terjadi apapun. Sarah tidur di kasur dan aku tidur sofa enggak terjadi apapun, kamu enggak usah khawatir aku enggak berminat sama sekali menyentuh wanita lain selain kamu.. " ujarnya berbisik tepat di telinga Sena membuat sang empu tersenyum lega mendengarnya.
"Aku lega dengarnya kalau memang semalam tidak terjadi apapun," Sena memandangnya.
Dan seketika yang tadinya mereka saling pandang berakhir dengan ciuman lembut di bibir wanitanya, tak tangannya memeluk leher Dirga dengan sempurna begitu juga dengan tangan nakal Dirga yang meremas kedua bukit kembar milik wanitanya.
TBC.
Di harap memberikan Like, Vote dan Komentarnya ya prend memberikan keempat poin itu sangat gratis. :)
__ADS_1