
Di meja makan saat ini terasa hambar tak ada pembicaraan apapun diantara keduanya dan bahkan Dirga pun sudah tidak banyak bicara seperti minggu kemarin, pria itu selalu mencoba mengajak wanitanya untuk bicara meskipun hanya sekata, dua kata yang Sena ucapkan Dirga benar-benar menuruti keinginan Sena untuk tidak menganggu nya.
"Aku udah selesai, aku berangkat ke kantor dulu." ujar Dirga seraya tersenyum kearah wanitanya.
Berbeda dengan hari biasanya, biasanya pria itu akan mencium kening wanitanya dan meminta sebuah pelukan dan saliman tangan tapi kali ini Dirga langsung pergi begitu saja.
Tapi, Sena tidak memperdulikan perubahan itu bukankah sekarang sudah seharusnya dia merasa bahagia karena Dirga tidak terus menuntutnya untuk bicara. Sebenarnya alasan mengapa Sena terus bersikap acuh dia hanya ingin Dirga sadar dan mau mengerti jika ia ingin sekali pria itu mengakui hubungan keduanya di hadapan Bastian dan Renata tapi Dirga sulit untuk di mengerti.
Bi Ratih selaku pembantu di rumah mereka dia menghampiri Sena yang masih duduk di meja makan.
"Maaf nyonya ini HP-nya," bi Ratih menyodorkan ponsel milik Sena yang kemarin di rampas Dirga.
"Lho kok bisa sama bi Ratih sih bukannya ini sama mas Dirga?" tanya Sena penasaran.
"Itu pagi-pagi tuan nitipin HP nyonya ke saya untuk mengembalikan HP itu ke nyonya," Sena menaikan satu alisnya ia tidak menyangka, seharusnya Dirga memberikannya langsung kepadanya.
"Oh gitu, ya udah makasih bi," ujarnya.
"Kenapa harus di titipin segala sih," sambungnya kembali tapi Sena mencoba untuk tidak terlalu perduli yang terpenting ponselnya telah kembali.
***
"Tumben kamu pulang cepat, oh lebih tepatnya tumben kamu pulang ke rumah ini," ujar Sarah yang melihat Dirga duduk di sofa yang ada di kamarnya.
Pria itu hanya diam tanpa berkata apapun tubuh dan pikirannya sedang sangat lelah jadi malas untuk berdebat dengan Sarah. Biarkan sehari ini saja Dirga istirahat seharian mencoba menenangkan dirinya sendiri.
"Aku pengen tidur bisa kamu keluar dulu?" Sarah keluar dari kamar menyusahkan Dirga sendirian yang kini tengah memejamkan matanya.
__ADS_1
Dirga mencoba memejamkan matanya tapi entah kenapa rasanya sulit sekali untuk tidur sejenak, menghilangkan rasa letih di tubuhnya seketika dia mengambil ponselnya mencari kontak nama Sena tapi di sana ia tak menemukan pesan apapun, mereka memang sudah tidak berkomunikasi.
"Salah aku apa sih sama kamu? Sampai kamu bersikap kayak gini terus," ujar Dirga sendiri melamun.
***
Di luar kamarnya..
Renata dan Bastian tengah membicarakan keputusan mereka yang akan hendak pergi ke luar negeri kembali tapi sebelum mereka pergi ia harus membicarakan rencananya kepada Dirga.
"Mas Dirga lagi tidur Pa, dia kayaknya kecapean banget." jawab Sarah saat Bastian bertanya padanya.
"Dia terlalu banyak bekerja sampai kalian jarang sekali meluangkan waktu untuk bersama, kalau kalian berdua kayak gini terus gimana kalian bisa punya momongan," ujar Renata yang berhasil membuat Sarah menelan saliva nya.
Sebenarnya Sarah sudah merasa jengah dengan hubungannya dengan Dirga dia pun ingin segera hidup selayaknya seperti wanita pada umumnya. Tapi, bagaimana pun dia tidak bisa meninggalkan Dirga entah itu karena cinta atau memang karena harta.
"Mas kamu udah tidurnya," ujar Sarah yang melihat Dirga menghampiri mereka.
"Kebetulan kamu udah bangun, ada sesuatu yang ingin Papa dan Mama mau bicarakan sama kamu," ujar Bastian.
"Tentang apa?"
"Papa dan Mama ada niatan untuk pergi ke luar negeri lagi bulan depan," ujar Bastian berhasil membuat Dirga tercengang.
"Oh gitu, dan ada sesuatu yang ingin Dirga sampaikan ke Mama dan Papa sebelum kalian berangkat ke luar negeri," katanya seraya menggenggam tangannya sendiri.
"Apa yang ingin kamu sampaikan," tanya Renata.
__ADS_1
"Pa, Ma sebenarnya aku dan Sarah tidak benar-benar menikah.. " perkataannya barusan berhasil membuat Sarah shock.
"Apa maksud tidak benar-benar menikah Dirga?" tanya Renata yang ikut shock juga.
Dirga menghela nafasnya, "Ya, pernikahan yang pernah kita adakan itu, bukanlah pernikahan sungguhan itu semua kebohongan yang sudah aku dan Sarah sepakati berdua."
"Sarah apa benar yang di katakan Dirga barusan?" Bastian bertanya pada Sarah dengan mata tajamnya berhasil membuat Sarah gugup.
"Iya, Pa Ma aku minta maaf.. "
"Jadi kalian berdua membohongi kami dengan pernikahan palsu kalian itu!" ujar Bastian berteriak keras.
"Mama enggak nyangka sama kamu Dirga, kamu mengecewakan hati mama!" ujar Renata.
"Ma, aku minta maaf aku enggak bermaksud untuk membohongi kalian, aku melakukan semua ini karena saat itu aku belum menemukan wanita yang tepat ma, Dirga minta maaf," katanya seraya menangis bersimpuh di kaki Renata.
"Dirga juga minta maaf karena Dirga tidak mengakui salah satu kesalahan kalau Dirga yang menghamili Sena," sambungnya yang berhasil membuat Bastian semakin geram dia menendang tubuh Dirga sampai tersungkur.
"BA*JINGAN JADI KAMU YANG MELAKUKANNYA!"
Bastian murka dan terus memukuli wajah Dirga ia tak peduli jika yang sekarang dia hajar adalah putranya sendiri. Baik Renata dan Sarah ia hanya berdiam shock melihat apa yang sedang di lakukan Bastian pada Dirga sekarang.
"BANGUN KAMU!" bentak Bastian seraya mencengkram kerah baju Dirga.
"PA SUDAH CUKUP! CUKUP! SUDAH HENTIKAN," Renata melerai amukan Bastian dengan cara ia memeluk Dirga menghalangi niat Bastian untuk menghajar Dirga kembali.
Dirga sadar dia salah jadi dia tetap memilih untuk diam dan membiarkan Bastian terus menghajarnya, tindakannya memang sudah di luar batas.
__ADS_1
Tapi, mau bagaimana pun Renata tetap tidak akan pernah tega melihat putranya sendiri di hajar suaminya sendiri.
TBC