Love Toxic

Love Toxic
Bab 76 - Say


__ADS_3

"Ayo bulan ini kan udah waktunya lo cek kandungan ke dokter," ujar Nico.


Sena enggan untuk berangkat ke rumah sakit bersama Nico pasalnya bulan kemarin ia datang sendiri dan seketika dia datang bersama pria lain, apa kata dokter nanti.


"Enggak usah Nic, gue bisa kok ke rumah sakit sendiri."


"No, gue enggak omongan gue di larang Sen." jawab Nico yang berhasil membuat Sena teringat akan kebiasaan ucapan Dirga, pria itu pun sama ucapannya tak suka jika di bantah /pun di larang.


"Ya udah terserah lo deh Nic,"


"Nah gitu dong, ya udah sana lo siap-siap gue tungguin di mobil," Sena mengangguk.


Sekarang Nico dan Sena begitu sangat dekat terlihat selayaknya sepasang kekasih, Nico yang baik hati membuat Sena merasa nyaman dengan segala perhatian dan perlakuan lembut Nico kepadanya.


"Ayo Nic,"


"Udah, cepet banget lo dandan."


"Gue males akhir-akhir ini buat dandan berlebihan,"


"Lagian lo itu udah dari lahir cantik jadi mau dandan ataupun enggak sekalipun tetap aja keliatan cantik," tutur Nico yang berhasil membuat Sena blushing.


Mobil mereka melaju dengan sempurna membelah jalanan kota yang beraspal, beberapa menit kemudian seketika mobil terhenti akan lampu merah.

__ADS_1


"Macet banget sih," kata Nico berbeda dengan Sena yang masih fokus pada lamunannya, sedetik kemudian mata Nico tak sengaja melihat Dirga di dalam mobil yang ada di sampingnya.


Nico yang melihat Dirga dia langsung memajukan mobilnya sedikit ke depan, berharap Sena tak melihat Dirga.


"Nic jangan buru-buru deh di depan lagi macet kayak gini," ujar Sena.


"Kalau kita enggak kayak gini nanti mobil gue yang di tabrak dari belakang," jawabnya beralibi.


Sebenarnya Nico merasa senang ketika Sena memutuskan untuk pergi dari kehidupan Dirga dan ia tak ingin jika Sena berurusan kembali dengan Dirga jadi sebisa mungkin ia harus menghalangi jika tanpa sengaja keduanya tiba-tiba bertemu.


***


"Ini hasil USG bayinya, ibu Sena harus lebih banyak makanan-makanan yang bernutrisi ya," ujar dokter Diana.


"Perut keram bisa terjadi karena ibu Sena terlalu banyak melakukan aktivas berat atau bisa juga karena ibu terlalu banyak pikiran,"


Ya, Sena menyadari jika dirinya terlalu sering melamun dan juga terlalu banyak memendam pikirannya.


Selesai berurusan dengan dokter, Sena langsung keluar dari ruangan dia mendapati Nico yang sedang duduk menunggunya di luar ruangan.


"Gimana apa kata dokter?" katanya seraya menghampiri Sena.


"Kandungan gue baik kok, detak jantung bayi gue juga normal."

__ADS_1


"Lo udah tau belum jenis kelamin anak lo apa?"


"Soal itu gue enggak mau tahu Nic, sedikasihnya aja sama Tuhan mau cewek ataupun cowok gue bakalan tetap sayang sama anak gue," jawabnya.


"Wah lo sekarang semakin kesini jiwa keibuan lo itu keliatan banget tau enggak sih," Sena tersenyum mendengar penuturan Nico barusan.


Sena sedih sebenarnya harusnya dia kesini bersama Dirga bukan dengan pria lain, harusnya Dirga yang menemaninya masuk ke dalam tapi sudah dua kali cek kandungan dia selalu sendirian tanpa di temani suaminya.


Mungkin karena bawaan bayinya atau entah memang dirinya sendiri yang sedang merindukan Dirga terkadang di malam hari Sena sering menangis sendiri.


***


Malamnya Sena tengah duduk di tepi ranjangnya yang berukuran sedang tak seperti ranjang kasurnya saat di rumah Dirga, kontrakannya hanya sepetak hanya ada satu kamar yang di luaran terdapat ruang tamu yang langsung menyatu dengan dapur.


Sena menatap kartunya yang lama selama sebulan lebih ini ia telah memutuskan untuk mengganti kartunya dengan kartu yang baru, tapi sekarang ia malah mencoba memasukkan kartunya yang lama ke dalam sim card ponselnya. Sena melihat keseluruhan di menu panggilan terdapat ratusan riwayat panggilan telepon dan juga puluhan SMS dari Dirga.


Drrt.. Seketika panggilan telepon dari Dirga berhasil membuatnya terkejut, ia baru saja mengaktifkan kembali kartu lamanya Sena memilih meletakkan ponselnya ke laci nakas kecil yang ada di samping ranjangnya.


"Ngapain dia masih cariin aku, harusnya sekarang dia hidup bahagiakan karena enggak merasa terbebani akan tuntutanku dan  keberadaanku disana." ujar Sena yang langsung menonaktifkan ponselnya.


Bahkan setelah ia memutuskan untuk pergi dari kehidupan Dirga tak ada satupun dari saudaranya dan juga kedua orang tuanya menghubunginya, Sena merasa bahkan sekarang sepertinya keberadaannya memang tak di butuhkan oleh siapapun.


TBC

__ADS_1


__ADS_2