
Maudy yang melihat Sena yang baru saja pulang dari sekolahnya ia melihat dengan jelas seragam sekolah yang di kenakan Sena kotor meskipun Maudy tidak tahu jelas permasalahannya tapi ia tahu betul pasti ada insiden yang sedang terjadi pada Sena. Saat Sena sedang berada di bawah menjemur seragam sekolahnya Maudy sengaja memasuki kamar Sena dan ia mencari sesuatu karena ia yakin Sena sedang menyembunyikan sesuatu ia terus menggeledah tas Sena dan benar saja ia menemukan surat peringatan dari sekolah.
Maudy tersenyum licik mungkin benar pasti Sena menyembunyikan surat peringatan itu agar Sarah tidak mengetahuinya tapi Maudy akan membuat Sena hari ini merasakan amarah dan makian kakaknya.
Sebelum ketahuan Sena ia sudah merapikan kembali tas Sena dan buru-buru keluar dari dalam kamar, saat Sena masuk ia tidak menyadari hal itu mungkin ia merasa lelah sehingga ia putuskan untuk tidur siang.
"Mba Sarah mana sih tumben banget jam segini enggak ada di rumah," kata Maudy yang masih menunggu kepulangan Sarah.
Beberapa jam kemudian Sarah pulang entah habis dari mana dia tapi Maudy yang melihatnya sepertinya kakaknya sedang mengalami masalah terlihat dari wajahnya yang sedikit sembab Maudy ingin bertanya tapi ia tidak berani.
"Kamu udah pulang dy?"
"Udah mba, mba Sarah habis dari mana?"
"Tadi mba habis keluar ketemu sama temen mba,"
"Oh,"
Maudy masih terdiam menyembunyikan surat itu di belakangnya sampai Sarah merasa sepertinya adiknya ingin memberitahu sesuatu.
"Sepertinya ada yang mau kamu omongin sama mba?"
"Ini mba tadi Maudy sengaja diam-diam masuk ke kamar Sena dan pas aku geledah tasnya aku nemuin surat ini di dalam tas Sena kayaknya dia sengaja deh menyembunyikan surat ini biar mba Sarah enggak tau," ujarnya mengompori Sarah.
Sarah membuka surat itu saat mengetahui isinya ia benar-benar merasa begitu kesal, Sena selalu membuat onar.
"Bi Mina!"
"Iya nyonya,"
__ADS_1
"Panggil Sena suruh dia turun sekarang!"
"Baik nyonya,"
Bi Mina secepatnya menaiki anak tangga sesampainya di sana ia langsung mengetuk pintu kamar Sena sebenarnya ia kasihan pada Sena dari kejadian kemari saat Sena harus membersihkan seluruh kamar mandi padahal sudah jelas-jelas kamar mandi itu sudah di bersihkan dan hari ini sepertinya Sena akan mendapatkan amarah Sarah kembali.
"Ada apa bi?"
"Sena! Sena!" suara teriakan dari bawah membuat Sena yang baru setengah sadar dari tidurnya ia terkejut sama halnya dengan Bi Mina.
Sena buru-buru turun ke bawah ia sudah mendapati Maudy dan Sarah yang sudah melipat kedua tangannya di dada.
"Ada apa sih mba manggil sampai teriak-teriak segala,"
Plak! Tamparan keras mengenai pipi mulus Sena panas dan perih yang ia rasakan, Sena terdiam mematung di tempat.
Sena terperangah melihat surat itu sudah berada di tangan Sarah, bagaimana mungkin ia melirik tajam Maudy pasti ini ulah Maudy.
"Kamu emang benar-benar anak haram yang selalu bikin malu nama baik keluarga!"
Kalimat Sarah seperti sambaran petir di sore hari tanpa hujan, kalimat itu benar-benar menyakiti hatinya ingin sekali Sena menghajarnya seperti ia menghajar Angel saat di sekolah. Tapi ia masih menganggap Sarah saudaranya yang di lakukan sekarang hanyalah diam dan menerima semua perlakuan dan perkataan Sarah kepadanya.
Sarah yang benar-benar sedang merasakan di kecewakan karenakan sakit hatinya sebuah penolakan di tambah Sena yang membuatnya semakin kesal sehingga ia melampiaskan kemarahannya kepada Sena. Bahkan Maudy yang melihat kemarahan kakaknya ia masih tidak percaya Sarah akan menampar Sena begitu kasarnya bahkan mengatakan kalimat yang begitu menyakitkan.
"Kamu!" saat Sarah ingin melayangkan tamparannya kembali sebuah tangan menghentikan aksinya.
"Sudah cukup Sarah!"
"Mas Dirga?" Sarah terkejut melihat kedatangan Dirga yang menghentikan aksinya itu.
__ADS_1
Dirga sedari tadi berdiri dari kejauhan menyaksikan semuanya tapi ia hanya diam tapi saat Sarah ingin kembali menampar Sena ia segera menghentikannya, ia pikir Sarah sudah keterlaluan memperlakukan Sena seperti itu.
"Sudah cukup! Kamu masih belum puas nampar bahkan menghina adik kamu sendiri?"
"Dia bukan adik aku Mas!"
Sena menatap sekelilingnya ia benar-benar sudah tidak tahan ia memutuskan untuk berlari menaiki anak tangga dan memasuki kamarnya ia butuh waktu untuk sendiri.
***
"Kamu enggak seharusnya bersikap kasar seperti itu sama Sena, kalau dia salah kamu kan bisa ngomong baik-baik," ujar Dirga menasehati Sarah mereka kini sedang berada di ruang keluarga termasuk Maudy juga berada di sana.
"Maaf mas aku sadar.. Aku udah keterlaluan,"
"Jangan minta maaf sama saya minta maaflah sama Sena,"
"Lain kali kalau ada masalah lagi baik itu Sena atau bahkan Maudy sekalipun bisa kan di bicarakan baik-baik, selama kalian tinggal disini saya tidak mau sampai ada kekerasan disini." katanya tegas selepas itu Dirga pergi ia sudah merasa lelah dengan pekerjaannya di tambah saat pulang ia mendapati sebuah drama di rumahnya.
Dirga yang hendak memasuki kamarnya ia seketika terhenti di depan matanya tertuju ke sebuah kamar yang berada paling di paling pojok, kamar milik Sena.
Batinnya menyuruhnya untuk menghampiri tapi egonya jauh lebih besar sehingga Dirga rasa untuk apa terlalu memperdulikan keadaan Sena seorang.
Langit semakin melarutkan malamnya seseorang masih terjaga dari tidurnya, Dirga sedari tadi tidak bisa memejamkan matanya padahal sekarang sudah pukul sebelas malam. Ia berdiri menuju balkon kamarnya udara malam menerpa tubuh kekarnya.
Pikirannya terus teringat akan kejadian sore hari Dirga masih ingat jelas tamparan keras itu mengenai wajah Sena dan saat ini gadis itu pasti sedang membutuhkan seorang teman untuk di jadikannya tempat berbagi keluh kesahnya tetapi apakah sekarang gadis itu memiliki teman.
TO BE CONTINUED..
Minta Like dan Komentarnya ya semua..
__ADS_1