Love Toxic

Love Toxic
Bab 14 - Apology


__ADS_3

Makan malam terasa ada canggung diantara keduanya, berbeda dengan Sarah yang terus mengajak Dirga berbicara mengenai acara pesta ulang tahun Maudy sedangkan Sena tampak ia lebih memilih diam sembari terus menghabiskan makanannya.


"Jadi menurut kamu gimana mas?" tanya Sarah.


"Ya ok saya setuju sama saran kamu,"


"Berarti besok nanti kita lihat gedungnya bareng-bareng ya?"


"Oh itu maaf saya sibuk jadi mungkin kalian berdua aja," Sarah mengerutkan dahinya barusan Dirga setuju dan mau tapi sekarang dia berubah pikiran.


Sarah menatap Sena, "Sena nanti pas hari minggu kamu jangan kemana-mana bantuin mba buat persiapan acara nanti," Sena mengangguk entah mengapa rasanya ia tidak mood dalam berbicara.


Sena langsung berdiri ia berpamitan masuk ke dalam kamarnya, makanannya telah selesai.


Dirga sedari tadi mencuri pandang ke arah Sena tapi ia rasa Sena selalu menghindari kontak mata dengannya, bahkan saat Dirga baru saja pulang dari kantornya ia sempat berpapasan dengan Sena di tangga, bisa ia lihat dengan jelas Sena langsung buru-buru menghindarinya.


Dirga tahu ia sudah melakukan kesalahan harusnya ia bisa menjaga ucapannya tadi siang hari, ia terbawa emosi. Ingin rasanya meminta maaf tapi ego menghalanginya.


***


Siang itu Resti sempat menanyakan tentang seseorang yang menarik paksa Sena kemarin hari. Mereka sekarang sedang menunggu busway di halte.


"Dia siapa lo sih Sen, pacar lo?"


"Bukan, Dia mas Dirga kakak ipar gue."


"Gue kira pacar lo soalnya sikapnya agresif banget sampai segitunya sama lo," ujarnya kesal dengan kejadian kemarin melihat sikap Dirga.


Sena terdiam, sesaat kemudian mobil hitam yang sangat Sena kenali menepi di samping jalan sang pemilik menghampirinya.


"Kamu mau pulang kan, ayo saya antar,"


Sena sempat berpikir keras bagaimana caranya untuk menolak.


"Maaf mas aku mau pulang naik bus aja,"


Seketika bus berhenti tepat di halte Sena begitu juga dengan Resti langsung memasuki bus, meninggalkan Dirga yang berdiri sendirian tanpa kata apapun.


Dirga menghela nafasnya terasa gusar di dadanya, Sena benar-benar membuat jarak dengannya.

__ADS_1


Sedangkan Sena yang sedang berada di dalam bus ia nampak lebih banyak diam tidak seperti biasanya, sesekali ia menatap jalanan yang cukup senggang tak macet.


"Hey," Resti yang duduk di samping Sena ia langsung melihat seseorang yang menyapa, siapa yang sebenarnya di sapa dirinya atau temannya.


"Juan, lo nyapa siapa gue apa Sena?"


"Dua-duanya juga boleh,"


"Juan tumben lo naik bus. Motornya kemana?"


Juan yang berdiri tak mendapatkan tempat duduk ia tersenyum ramah mendapat pertanyaan dari Sena barusan.


"Motor gue lagi di servis jadi ya terpaksa beginilah,"


"Btw lo berdua habis ini mau kemana, langsung pulang,"


"Iya langsung balik ya kan Sen," Sena mengangguk.


"Jangan langsung balik lah mending mampir dulu yuk ke PI." ajak Juan yang langsung di setujui Resti sebenarnya Sena ingin menolak tapi tak enak hati apalagi Resti sudah mengiyakan.


Mereka turun di halte PI ( Mall Plaza Indonesia) sesampainya di dalam mall Juan langsung mengajak mereka mampir ke suatu restoran korean food, kata Juan mereka bebas memesan makanan apapun Juan yang traktir.


Ini untuk pertama kalinya Sena memakan makanan khas korea, apalagi makanannya dapat traktiran.


***


Pintu ruangannya terbuka menampakkan karyawan sekaligus temannya yaitu Samuel yang membawa beberapa berkas penting untuknya.


"Hey bos sedang sibuk sekarang?"


"Menurut lo,"


Samuel langsung menaruh beberapa tumpukan berkas di meja Dirga.


"Apa ini?"


"Itu berkas-berkas yang harus lo baca karena lo udah melewatkan meeting kita siang ini,"


"Sorry tapi thanks karena lo bisa ngehandle semuanya,"

__ADS_1


"Tapi tumben banget sih ga, Akhir-akhir ini gue perhatiin lo udah sering banget enggak ikut meeting, lo punya urusan penting lain?"


"Iya someone,"


"Ya udah deh gue balik ke ruangan kerja gue, lo jangan lupa baca tuh proposal pengajuannya." Dirga mengiyakannya.


Apa kata Samuel benar, Dirga sudah beberapa kali meninggalkan meetingnya bahkan terkadang ia sering telat dengan alasan urusan mendadak.


***


Dirga pulang ke rumah sampai larut malam, mungkin semua penghuni rumah sudah tertidur tapi saat ia melihat ke arah luar di sana ia melihat Sena yang masih asyik duduk sembari kakinya bermain air di kolam renang.


Dirga menghampirinya beberapa detik ia sempat memperhatikannya. Sena yang merasa ada yang memperhatikan ia langsung terkejut melihat Dirga sedang berada di belakangnya.


"Mas Dirga bikin kaget aja,"


"Kamu belum tidur?"


"Ini mau tidur," katanya seraya hendak pergi tapi langkahnya di hentikan Dirga.


Sena merasa gugup karena pergelangan tangannya di pegang oleh Dirga apalagi tatapan Dirga mata elangnya menunjukkan raut kelelahan.


"Kenapa mas?" katanya seraya menepis tangan Dirga.


"Sebelum kamu masuk, beri saya waktu sebentar ada yang ingin saya sampaikan sama kamu?"


"Apa?"


Dirga menatap sekelilingnya nampak sepi, "Saya mau minta maaf atas kejadian kemarin, saya enggak bermaksud untuk menyakiti perasaan kamu, saya benar-benar menyesal mengatakannya. Kalau kamu mau marah dan benci sama saya silahkan,"


"Atau kamu mau menampar saya kembali, lakukan saya emang salah. Saya minta maaf,"


"Aku udah maafin kok,"


"Makasih, saya janji ucapan seperti itu tidak akan pernah saya ucapkan kembali."


"Ya, udah kan enggak ada yang mau di sampaikan lagi. Kalau udah enggak ada, aku mau ke atas."


"Iya cuma itu yang mau saya sampaikan, tapi saya minta sama kamu tolong jangan membatasi jarak dengan saya. Saya khawatir nanti saudara-saudara kamu berpikir yang tidak baik." Sena mengangguk dan Dirga melepaskan untuk masuk kamar.

__ADS_1


Setelah mengungkapkan permintaan maafnya Dirga merasa lega ia berharap Sena tidak lagi membatasi jarak dengannya.


TO BE CONTINUED..


__ADS_2