
Dua hari kemudian..
Sarah dan Dirga sudah bersiap menunggu di bandara dan tak butuh waktu lama, 20 menit kemudian Bastian dan Renata melambaikan tangannya ke arah mereka.
"Mama," Sarah memeluk Renata begitu juga dengan Renata yang membalas pelukannya.
"Mama kangen banget sama kalian, Dirga kamu makin tambah gemuk aja setelah menikah," ujar Renata, membuat Dirga mengedikkan bahunya ia rasa tak ada perubahan apapun dari dirinya.
Mereka secepatnya pulang ke rumah karena bagaimanapun baik Bastian dan Renata pasti sangat kelelahan akan perjalanan menuju ke Indonesia.
"Kapan nih mama dengar kabar baik dari kalian berdua,"
"Kabar baik apa sih ma?" tanya Dirga yang fokus menyetir.
"Kamu nih Dirga kalian ini kan sudah menikah masa tidak peka sih, kami ini sudah sangat ingin menggendong cucu," ujar Bastian yang kesal karena Dirga tak pernah berubah selalu bersikap cuek.
"Kita berdua lagi program kok Pa, do'akan saja semoga membuahkan hasil baik," Sarah bersuara membuat Dirga melirik nya, ada apa dengan Sarah ini mereka hanya bersepakat akan bersikap harmonis sebisa mungkin di hadapan kedua orang tuanya tapi tidak dengan tentang hal program kehamilan.
"Mama pasti akan mendoakan yang terbaik buat kalian berdua, mama enggak sabar punya cucu dari kalian." Dirga geleng-geleng kepala, Sarah sudah berani bertindak tanpa berkompromi terlebih dahulu dengannya.
Mobilnya sudah sampai di pekarangan depan rumah Dirga, mereka telah di tunggu oleh Sena dan Maudy baik dari Renata dan Bastian yang melihat mereka tak terkejut melihat kedua perempuan itu pasalnya mereka sudah mengetahuinya dari Dirga jika kedua adik Sarah ikut tinggal bersamanya.
"Wah ini pasti adik-adik kamu ya Sarah, mereka ternyata sama cantiknya dengan kamu." tapi mata Renata begitu jeli ia memperhatikan Sena yang paling beda sendiri dari segi manapun tapi ia tak berniat untuk mempertanyakan hal itu.
"Ini pasti Maudy, kakak mu sering bercerita tentang kamu lho sama tante," ujar Renata menunjuk Maudy dan seketika Maudy tersenyum senang karena Renata mengenalinya berbeda dengan Sena yang tak pernah di ceritakan oleh Sarah kepadanya.
"Udah ayo kita masuk, Papa sama Mama pasti capek kan." Dirga bersuara ia tak ingin membuat Sena merasa tak di kenali.
***
Sena kembali menempati kamarnya karena tidak mungkin juga ia terus-terusan berada satu kamar dengan Dirga, tapi hal yang tidak ia sukai sekarang setelah memutuskan kembali ke kamarnya malah Sarah yang sekarang satu kamar dengan Dirga.
__ADS_1
"Enggak usah sedih, dia untuk sementara satu kamar denganku tapi aku janji enggak akan pernah menyentuhnya." ujar Dirga yang berhasil menyelinap di ke kamar Sena.
"Siapa juga yang sedih aku biasa aja, malah aku senang karena bisa tidur dengan nyenyak." cibir Sena.
"Jadi menurut kamu aku ini pengganggu begitu?" Dirga memeluk tubuhnya.
"Iya pengganggu buat aku harus tidur di jam 3 malam terus," Dirga terkekeh mendengarnya, ia mencium pipi Sena.
"Don't worry, aku bakalan tetap setiap malam menemani kamu tidur." Sena menggeleng.
"Untuk sementara ini mendingan mas jangan keseringan tidur di kamar aku dulu deh, kan ada kedua orang tua mas takutnya mereka curiga."
Sena sadar akan keberadaan mereka jadi sebisa mungkin tidak ingin membuat keteledoran lagi pula dengan begini ia bisa belajar tidur sendiri tanpa perlu di temani Dirga, Sena juga akan segera membicarakan keputusannya untuk berpisah dengan Dirga.
"Sore ini kita main sebentar ya?" Dirga memintanya sebenarnya Sena sedang tidak mood tapi mau bagaimana, jika pria itu sudah meminta sebisa mungkin ia tidak akan menolaknya.
"Kamu enggak mau?" tanya Dirga yang menyadari raut wajah Sena, seketika Sena menyambar bibirnya mengalungkan tangannya pada leher Dirga.
***
"Dirga kemana ya Sar, kok mama dari tadi enggak ngeliat dia?" Sarah gelagapan.
"Mas Dirga lagi tidur ma di kamar, dia bilang capek katanya,"
"Sore-sore begini tidur, dia itu masih saja bersikap seperti bocah." Renata menggelengkan kepalanya.
Ingin sekali memberitahu jika sekarang Dirga pasti berada di kamar Sena tapi ia juga tidak mungkin menggagalkan rencananya sendiri, biarlah mereka menikmati hubungannya mereka yang sebentar lagi akan hancur itu.
Matahari telah terbenam di ufuk nya begitu juga dengan dua insan manusia yang telah mengakhiri percintaan panas mereka.
"Kamu mendingan cepat pakai baju kamu deh mas, mereka pasti udah nungguin kita bawah." Dirga mengangguk ia baru saja selesai mandi.
__ADS_1
"Ya udah aku turun ke bawah duluan ya, kamu juga cepetan sana mandi terus turun ke bawah." Dirga mencium dahi wanitanya sebelum ia keluar dari kamar.
Sena menghela nafasnya lega akhirnya Dirga keluar juga, tubuhnya terasa lelah terus-terusan meladeni keinginan Dirga ia masih menutupi tubuhnya dengan selimut. Malas rasanya turun ke bawah tapi jika terus berada di kamar nanti malah mengundang kecurigaan dari mereka.
***
Dirga turun kebawah membuat Sarah yang melihatnya menyempitkan matanya sore-sore begini Dirga keramasan, pasti mereka berdua sudah melakukan hal yang ada pikirannya.
"Benar-benar enggak waras mereka ada Papa sama Mama masih bisa-bisanya melakukan hal itu," batinnya berujar.
"Siapa ini yang masak tumben banyak banget," tanya Dirga.
"Ini semua yang masak istri kamu sama istri saya," Bastian jenaka, membuat Dirga ikut tersenyum.
"Karena udah pada kumpul semua ayo kita makan," ujar Renata antusiasme tapi ia menyadari Sena belum ada ikut serta dengan mereka.
"Sena belum turun ya?" tanya Bastian.
"Nanti juga dia turun ke bawah Pa, ayo mendingan kita langsung makan aja," Sarah menjawabnya.
"Tunggu sebentar lah, masa iya kita langsung makan bentar lagi juga Sena turun," Sarah berdecak melihat Dirga yang ikut bersuara, jika begini pasti mereka akan menunggu Sena.
Dan tak butuh waktu lama yang di tunggu turun ke bawah sama dengan Dirga, rambutnya pun basah karena habis keramas tebakan Sarah benar bukan.
"Sekarang semuanya udah kumpulkan ayo kita makan," ujar Bastian.
Di sela-sela pembicaraan makan malam mereka Renata tak henti-hentinya berbicara tentang keinginannya mempunyai cucu, hal itu berhasil membuat Sena jadi tak nafsu makan. Ia bisa melihat dengan jelas kedekatan Sarah dengan kedua orang tua Dirga, ia jadi merasa tidak percaya diri.
Dirga yang menyadari akan perubahan wajah Sena, ia jadi merasa kasihan melihatnya keberadaan orang tuanya berhasil membuat wanitanya jadi tidak mood seperti ini.
TBC.
__ADS_1
Di harap memberikan Like, Vote dan Komentarnya ya prend memberikan keempat poin itu sangat gratis. :)