
Dirga masuk ke dalam kamar Sena dia mendapati Sena yang sedang duduk di meja riasnya bersama beberapa buku pelajarannya.
"Mas?"
"Kamu belum tidur,"
"Belum masih ada sedikit tugas yang harus di selesaikan," ujarnya yang bisa melihat ekspresi wajah Dirga yang terlihat seperti orang yang sedang menahan emosinya.
"Mas kenapa?"
"Enggak kenapa-napa mending kamu lanjutin aja tugas kamu itu," tapi Sena rasa Dirga sedang berbohong.
Dirga yang sekarang duduk di samping jendela seraya membuka jendelanya, ini untuk pertama kalinya Sena melihat seorang Dirga merokok. Ya, hanya dengan menghisap rokok Dirga bisa sedikit merilekskan pikirannya yang tengah kesal akan segala ucapan Sarah barusan.
"Mas tumben ngerokok?" tanya Sena yang sekarang telah duduk di samping ranjangnya.
"Pengen ngerokok aja, kamu mau?" Sena menggeleng, sudah tidak waras rupanya Dirga ini sudah jelas ia sedang hamil.
"Aku lagi hamil kamu lupa apa," katanya yang berhasil membuat Dirga tersenyum.
Bagaimana mungkin ia lupa jika wanita yang sekarang ada di hadapannya ini sedang mengandung anaknya. Dirga membuang putung rokoknya ke tong sampah kecil yang ada di kamar Sena.
__ADS_1
"Aku cuma bercanda kamu serius banget mana ada bocah hamil ngerokok," jawabnya seraya memeluk Sena, ia mengelus perut Sena yang masih rata.
"Kamu jangan ngelakuin hal bodoh lagi ya, bikin aku khawatir aja." Sena mengangguk, ia melakukan hal itu juga karena sikap Dirga yang terkadang sering aneh.
"Hei look at me jangan menunduk terus, sekarang ini aku suami kamu enggak baik ada suaminya lagi ngomong matanya kemana-mana," ujar Dirga seraya menarik dagu Sena.
Dirga meraih tangan Sena menempelkannya di pipinya yang sekarang di tumbuhi sedikit bulu halus berhasil membuat Sena merasa geli.
"Maaf ya kalau aku sering buat kamu sedih," kata Dirga mencoba mencairkan ketegangan diantara keduanya.
Sebenarnya Dirga itu sangat mencintai Sena hanya saja terkadang sikapnya berhasil membuat orang yang dicintainya merasa tersakiti, apalagi dengan pikiran Dirga yang sering sekali labil.
Seketika bibir keduanya saling menyatu, berciuman sangat intens Sena bisa merasakan aroma rokok di bibir Dirga meskipun baunya cukup sangat menyengat tapi tetap saja dia menyukai ciumannya bersama Dirga.
"Ayo tidur udah malam," Sena mengerutkan dahinya saat ciuman mereka terlepas, tumben sekali Dirga mengajaknya langsung tidur biasanya pria itu pasti akan meminta sesuatu yang pastinya akan membuat dirinya kelelahan.
"Kenapa diam aja? Ayo tidur," katanya seraya menyingkirkan guling yang ada di tengah-tengah ranjang, ia tak ingin seperti malam kemarin harus tidur tanpa berpelukan dengan wanitanya.
Sena merebahkan tubuhnya dan saat itu juga Dirga memeluknya tapi anehnya keduanya masih juga belum tidur, Dirga masih dengan pikirannya yang kesal akan kata pengecut dari Sarah dan Sena pun dengan pikirannya sendiri yang menyesali perbuatannya karena mau saja menikah secara diam-diam.
"Kamu belum tidur?"
__ADS_1
"Iya mas sendiri kenapa belum tidur?"
"Enggak tau kenapa,"
"Oh,"
"Berapa bulan lagi kamu akan lulu sekolah?"
"Sekitar 3 bulanan lagi mas kenapa?"
"Emang kamu bisa menutupinya?"
Yang di maksud menutupi ialah menutupi perutnya yang pasti usia kehamilan 3 bulan lebih pasti akan lumayan besar.
"Bisa, aku bakalan tetap menyelesaikan sekolah aku sekalipun harus menutupi kehamilan ini." katanya yang berhasil membuat Dirga merasa lega.
"Baguslah, kalau kamu bisa menutupinya." jawabnya seraya mempererat pelukan dari tidurnya, sesekali Dirga menciumi puncak kepala istrinya.
Terkadang Sena pun merasa aneh pada dirinya sendiri, ia terkadang begitu sensitif pada Dirga tapi terkadang ia pun sangat merasa nyaman saat pria itu terus memeluknya seperti ada ketenangan tersendiri dari hangatnya pelukan yang di berikan Dirga padanya.
TBC.
__ADS_1