
Rania yang sudah kembali ke kantor ia pun di buat terkejut pasalnya Sena sekarang tengah berada di ruangan bersama Dirga, pria itu sudah meninggalkannya sendirian di Cafe dan sekarang membawa seorang wanita di ruangan kerjanya.
"Ga, kenapa Sena bisa ada disini?" Rania masuk tanpa mengetuk pintu sama sekali.
"Ran bisa kan lain kali kalau masuk ketuk pintu dulu," Dirga berujar seraya berdiri.
"Iya ok, sorry tapi kok Sena bisa ada disini?" tanyanya seraya menunjuk Sena yang masih duduk tanpa bergeming sama sekali.
"Iya dia kesini aku yang ajak, udah ya ran dan aku minta sama kamu tolong kamu keluar dulu ya,"
"Kenapa aku harus keluar, aku kan disini lagi kerja dan aku juga sekretaris kamu ga, kamu enggak lupakan sore ini kita ada kunjungan ke salah satu perusahaan cabang kamu," Dirga memijit pelipisnya, susah sekali menyuruh Rania untuk pergi.
"Iya aku enggak akan lupa, aku cuma mau minta waktu bisa kan kamu keluar dulu dari ruangan aku?"
"Kamu minta waktu untuk berduaan sana Sena ga? Ga, kamu enggak lupakan kalau dia itu adik dari istri kamu,"
"Ran udah ya please, aku lagi enggak mau berdebat sama siapapun bisa kan kamu keluar sekarang, mau aku antar ke ruangan kamu?"
"Enggak perlu, aku bisa ke ruangan aku sendiri." sebelum Rania keluar ia sempat melirik kearah Sena dan wanita itu menunjukan senyum manisnya dengan segala kekesalannya.
Sekarang Rania mulai yakin jika keduanya memang saling menjalin hubungan, ia hanya bingung dengan pikiran Dirga jika keyakinannya benar. Sena adalah adik dari istrinya dan mereka menjalin hubungan. Sudah gila mereka berdua.
"Mas,"
"Udah kamu tenang aja, enggak usah khawatir bukannya kamu senang kan kalau dia tahu hubungan kita."
Ya, Sena senang tapi ia juga merasa khawatir jika nanti Rania mengadukannya pada Sarah ia tidak bisa membayangkan jika Sarah tahu semuanya.
"Mas kamu tau kan Rania deket sama mba Sarah kalau Rania cerita soal kita gimana?" Dirga menatapnya.
"Ya baguslah kalau nanti Sarah juga ikut tau, kita enggak perlu sembunyi-sembunyi lagi kan." Sena menggelengkan kepalanya ia tidak mengerti dengan jalan pikiran Dirga.
__ADS_1
Yang Dirga lakukan sekarang hanyalah mementingkan perasaannya dan perasaan wanitanya itu saja, kalaupun jika mereka tahu semua ia tidak memperdulikan dengan resiko kedepannya.
***
"Setelah kamu lulus sekolah nanti, kita menikah." ucapan Dirga barusan berhasil membuat Sena tak percaya.
"Kenapa kamu diam aja enggak jawab apapun, kamu enggak mau menikah dengan mas?"
Sena benar-benar di buat bingung bukannya tidak mau tapi bagaimana jika ayahnya mengetahui prilakunya selama ini, bagaimana jika nanti orang tua Dirga juga tidak setuju, apalagi di usianya yang masih terbilang masih muda untuk berpikir tentang menikah saja tidak ada di pikirannya sama sekali, Sena berpikiran jika setelah lulus sekolah nanti ia ingin bekerja dan melanjutkan pendidikannya.
"Sena kamu di tanya malam ngelamun," seketika Sena berhamburan ke dalam pelukan Dirga.
"Mas bukannya aku enggak mau menikah sama kamu, aku mau kok tapi apa kamu yakin kalau orang tua kamu setuju dan ayah ku juga pasti dia sangat marah kalau tau aku.. " Dirga membungkam bibir Sena dengan bibirnya ia tak mau mendengarkan kata apapun.
Dirga menangkup wajah Sena, "Dengerin mas ya, kita udah sejauh ini terus kita mau begini aja terus emang kamu terus-terusan kayak gini?" Sena menggeleng.
"Udah sekarang mendingan fokus ke sekolah kamu, beberapa bulan lagi kan kamu lulus dan untuk masalah dan resiko kedepannya itu semua biar nanti mas ya pikirin."
Apa Dirga yakin ingin menikahi wanita berusia 19 tahun nanti jarak usianya dengan usia Sena saja terpaut 9 tahun, bukankah setiap pria selalu menginginkan menikah dengan wanita yang bisa bersikap dewasa. Tapi, Sena sangat jauh dari kata dewasa perawakannya saja yang selalu berdandan seperti orang dewasa.
***
Rania menggebrak mejanya sendiri ia kesal karena Dirga lebih memilih Sena di bandingkan dia.
"Aku enggak mungkin kalah hanya dengan seorang bocah seperti dia,"
"Kita lihat nanti siapa yang akan jadi pemenangnya." Rania sangat yakin dia pasti akan merebut Dirga dari Sena dan Sarah.
Selama ini ia sangat tahu apa kelemahan Dirga, apa lagi kalau bukan kedua orang tuanya. Dirga selama ini selalu menuruti apapun yang di inginkan orang tuanya bahkan pernikahannya dengan Sarah pun kalau bukan keinginan kedua orang tuanya mungkin Dirga tidak akan mengadakan pernikahan palsu itu dan Rania akan memprovokasi kedua orang tua Dirga mengenai tingkah putranya yang diam-diam menjalin hubungan dengan adik iparnya sendiri.
"Permisi bu Rania, ini proposal untuk kunjungan sore ini."
__ADS_1
"Taruh saja disitu,"
Gita salah satu bawahannya ia sebenarnya tidak terlalu suka dengan gaya dan sikap Rania yang seenaknya di kantor hanya karena Rania dekat dengan CEO dan sekaligus menjabat sebagai sekretaris dia selalu bersikap angkuh di kantor.
Karyawan lain juga mengetahui scandal Dirga yang sering mengajak masuk seorang gadis SMA di ruangannya, tapi beberapa dari mereka tidak berani membicarakan scandal bos nya karena pernah ada karyawan yang membicarakan scandal itu saat itu juga Dirga yang mengetahui ia langsung memecat karyawannya.
Tapi, sekarang melihat Rania yang sedang merasa kesal hanya karena diusir dari ruangan Dirga berhasil membuat beberapa karyawan merasa senang melihatnya.
***
"Ga hari ini aku boleh kan menginap di rumah kamu lagi?" tanya Rania seraya berjalan menelusuri koridor kantor cabang Dirga.
"Jangan tiap hari lah Ran nanti apa kata Sarah coba," Dirga sebenarnya tak suka dengan keberadaan Rania di rumahnya.
"Kata Sarah apa kata Sena nanti," cibir Rania berhasil membuat Dirga menghentikan langkahnya.
"Aku enggak suka ya kamu bawa-bawa nama Sena," Rania menelan salivanya mendengar Dirga tak suka dirinya membawa nama Sena.
"Kamu suka ga sama dia? Kamu tau kan Sena pernah bilang ke aku kalau dia enggak suka dengan keberadaan aku di rumah kamu, kamu tau ga ucapannya itu berhasil buat aku sakit hati."
Rania tak mau kalah dan ia berusaha membuat Dirga merasa tak enak hati dan kasihan padanya.
"Ya makannya kamu jangan tiap hari nginepnya, kamu tau kan Sena enggak suka coba dong kamu menghargai apa yang dia enggak suka."
"Kok kamu malah belain dia sih ga, kamu tau kan sikapnya itu udah kurang ajar sama aku."
"Ran please jangan buat aku marah kita lagi kunjungan di kantor cabang aku jangan buat yang lain merasa terganggu dengan segala ucapan kamu." Dirga melanjutkan langkahnya tak perduli dengan Rania yang berada di belakangnya.
Setelah ini ia harus tetap berusaha tegas pada wanita mana pun dan ia benar-benar tidak suka jika ada wanita lain yang berbicara tidak baik tentang Sena di hadapannya.
Dirga jauh lebih mengetahui segalanya tentang Sena di bandingkan mereka, mengingat tentang Sena membuatnya ingin segera pulang andai saja masa menstruasi wanitanya sudah selesai ia bisa menyalurkan hasratnya yang selama ini ia tahan beberapa hari.
__ADS_1
TBC.
Di harap memberikan Like, Vote dan Komentarnya ya prend memberikan keempat poin itu sangat gratis. :)