Love Toxic

Love Toxic
Bab 95 - New Secretary


__ADS_3

Satu bulan kemudian..


Dirga kewalahan jika harus menanganinya sendirian, segala tugas di kantornya meskipun dia masih bisa di bantu oleh Kahfi asisten pribadinya tapi tetap saja dia membutuhkan seorang sekretaris untuk mengatur segala jadwal pekerjaannya dan sudah satu bulan ini Dirga membohongi Sena jika dia nyatanya telah memiliki seorang sekretaris baru di kantornya.


"Siang ini jadwal rapat dengan klien sudah saya siapkan pak proposal nya," Dirga mengangguk.


"Ok, thanks Dea. Silahkan kamu kembali ken ruangan kamu,"


Ya, sekretaris Dirga bernama Deana wanita itu berusia 23 tahun dan masih single selain itu, Deana juga termasuk wanita yang good attitude dan good looking pastinya. Tapi, sayangnya Dirga sudah beristri  jika tidak mungkin pria itu menyukainya.


"Mas siang ini kamu pulangkan? Makan siang di rumah?" pesan singkat itu selalu Dirga dapatkan dari istrinya yaitu Sena yang akhir-akhir ini terus sering meminta untuk makan siang di rumah dan pulang kerja lebih awal dari biasanya.


"Pak Dirga mau pulang dulu?" kata Dea yang melihat Dirga keluar dari ruangan.


 


"Iya tapi nanti saya balik lagi kok kalau seandainya saya datangnya agak telat dikit kamu yang handle rapat dulu ya," Dea mengangguk seraya tersenyum manis.


Kehidupannya semakin hari sebenarnya semakin banyak perubahan Dirga yang sekarang bukan lagi seperti Dirga yang dulu, pria itu jadi pria yang sangat penurut akan apa kata istrinya yaitu Sena.


Ya, meskipun terkadang Sena sering memperbesar masalah sepele diantara mereka tapi tetap saja Dirga selalu tidak bisa jauh dari Sena bahkan sekarang Dirga rela jika Sena terus mengomelinya asalkan wanita itu terus berada di sampingnya.


"Aku pulang sayang.. " ujar Dirga seraya menerima pelukan dari Sena.


"Bukan pulang tapi kamu kan mau makan siang di rumah,"


"Oh iya-iya aku lupa," katanya seraya terkekeh.

__ADS_1


"Kamu sih enggak bolehin aku ke kantor kamu," Sena cemberut.


"Bukannya enggak nge-bolehin sayang sekarang kan kehamilan kamu tinggal menunggu dua bulan lagi, aku enggak mau nanti kamu kenapa-napa, udah di rumah aja yang pentingkan kalau makan siang aku pulang ke rumah ya kan," Sena mengangguk tapi entah mengapa ia merasa ada sedikit hal yang janggal menurutnya.


"Tapi kan aku bosen terus juga papa nanyain terus kapan aku pulang ke Aceh," Dirga yang akan bersiap untuk makan, ia menundanya dengan menatap Sena sejenak.


"Sebenarnya aku tuh bingung kalau kita ke Aceh, apa kandungan kamu bakalan kuat nantinya perjalanannya cukup jauh lho sayang,"


"Aku kuat kok, lagian selama ini aku udah rutin minum obat penguat kandungan dari dokter Raisa bilang aja kalau  kamu enggak mau ikut, aku bisa kok pulang ke Aceh sendirian."


"Lho kok kamu jadi mikirnya gitu sih bukannya enggak mau tapi aku khawatir aja sama kandungan kamu sayang," Sena mengangguk ia tidak ingin melanjutkan perdebatan mereka di depan makanan, lagi pula ia bosan juga terus mendengar alasan yang sama dari Dirga.


Sebenarnya Dirga tidak berbohong sama sekali ia benar-benar mengkhawatirkan kehamilan Sena nanti tapi disisi lain pekerjaan kantornya pun akhir-akhir ini cukup sangatlah padat dan ia juga sebenarnya sedikit malas untuk pergi jauh ke Aceh.


"Kamu jangan cemberut kayak gitu nanti aku pikirin lagi keinginan kamu untuk pulang ke Aceh," katanya dan Sena memaksakan bibirnya untuk tersenyum.


"Gimana dengan rapat kita hari ini, semua klien setuju untuk bergabung dengan kita?" Dea mengangguk seraya menunjukkan beberapa berkas dokumen penting yang baru saja telah berhasil di tanda tangani oleh beberapa investor.


"Kamu hebat bisa meng-handle rapat ini dengan baik, saya enggak salah menjadikan kamu sebagai sekretaris saya." tutur Dirga.


"Terimakasih pak Dirga atas kepercayaannya," katanya serata tersenyum manis kearah Dirga.


"Saya meminta maaf karena akhir-akhir ini saya terus pulang lebih awal  jadinya kamu terus kerja lembur karena harus mengurus semuanya sendiri," ujarnya kembali.


"Tidak apa-apa pak saya merasa senang dengan tugas-tugas yang di berikan pak Dirga pada saya dan terimakasih juga untuk traktiran makan malam hari ini Pak,"


Ya, saat ini keduanya sedang berada di sebuah restoran yang tempatnya tidak jauh dari kantor. Dirga memang sengaja mengajak Dea untuk makan bersamanya pasalnya wanita itu sudah sangat ekstra bekerja keras untuk membantunya dalam urusan kantor.

__ADS_1


"KAYAKNYA LAGI ADA YANG DINNER NIH," ujar seseorang yang berhasil membuat keduanya melihat kearah sumber suara.


"Rania.. Kamu ngapain disini?" tanya Dirga.


"Ini restoran milik orang lain bukan milik kamu Dirga emangnya aku enggak boleh kesini," katanya dengan melipat kedua tangan di dadanya.


"Ini Dea sekretaris baru kamu ya kan ga? Wah kalian lagi makan bareng ya tadi dari kejauhan aku pikir kamu lagi sama Sena lho ternyata sama sekretaris kamu," ujar Rania kembali.


"Ya aku disini lagi traktir dia makan karena sudah berhasil menghandle rapat penting di kantor," kata Dirga kembali yang merasa keadaannya saat ini sedang tidak baik pastinya.


"Oh di traktir ya, perasaan dulu pas aku jadi sekretaris kamu se-berhasil apapun aku dalam menangani urusan kantor, kamu enggak pernah tuh traktir aku," katanya sekali lagi.


Ya, apa yang di katakan Rania memang benar selama dia bekerja menjadi sekretaris Dirga dia belum pernah diajak pria itu untuk makan di luar bersama palingan dirinyalah yang sering meminta Dirga untuk ikut bersamanya makan di luar.


"Ini bukan urusan kamu lagian kamu ngapain sih terlalu banyak nanya, aku sama Dea enggak ada hubungan apapun kita disini murni karena aku pengen traktir dia jadi enggak perlu berpikiran yang aneh-aneh," ujar Dirga yang berhasil membuat Dea mengangguk membenarkan ucapan atasannya barusan.


"Oh iya? Aku enggak percaya tuh, Dea kamu harus hati-hati kalau mau deketin atasan kamu nanti kalau istrinya tahu posisi kamu sekarang bisa langsung di geser," Dirga menggelengkan kepalanya merasa geli dengan tingkah Rania yang sekarang.


"Udah ngomongnya Ran? Dea ayo kita balik ke kantor enggak usah dengerin omongan dia yang enggak ada gunanya sama sekali untuk di dengar." Dea mengangguk dan mengikuti langkah Dirga keluar dari dalam restoran itu.


Rania tersenyum puas setelah berhasil memergoki mereka berdua, ia juga puas bisa melihat wajah Dirga kembali andaikan jika pria itu tidak memindahkannya dengan seenaknya mungkin dia masih bisa bersama terus dengannya tapi sialnya Dirga selalu menuruti perkataan Sena.


"Kita lihat aja ga sampai kapan pernikahan kalian bisa bertahan, Kamu terlalu baik sama orang sampai terkadang kamu lupa jika kebaikan kamu itu bisa membuat boomerang di hubungan kamu sendiri dengannya," ujarnya dengan percaya dirinya.


TBC.


Di harap memberikan Like, Vote dan Komentarnya ya prend memberikan keempat poin itu sangat gratis. :)

__ADS_1


__ADS_2