Love Toxic

Love Toxic
Bab 42 - Select


__ADS_3

Dirga baru saja mengirimkan pesan untuknya, yang mana dia mengatakan jika siang ini Dirga tidak bisa menjemputnya karena masih ada banyak pekerjaan yang tak bisa dia tinggalkan.


"Dia enggak jemput lo Sen?" Sena mengangguk.


"Lo samperin aja kata lo kan, lo udah biasa diajak ke kantornya." Sena berpikir keras mencoba mengikuti saran Resti.


Berbeda dengan Dirga yang sekarang berada di kantornya ia tengah kebingungan dengan perasaannya sekarang, memikirkan kejadian tadi pagi ia sebenarnya ingin sekali memihak pada Sena tapi melihat sikap Sena yang begitu berani membuatnya memilih diam karena memang tidak seharusnya Sena bersikap kurang sopan kepada Rania.


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya Kahfi asisten pribadinya menghampirinya, ia memberitahu jika Sena sedang berada di luar berdebat dengan seorang resepsionis karena tidak di beri izin masuk ke ruangan CEO.


"Sena," Dirga menghampiri Sena yang berada di lobby.


"Kamu ngapain disini?" pertanyaan Dirga barusan membuat Sena mengerutkan dahinya.


"Kan aku biasanya kesini tumben banget sih enggak di bolehin masuk," Dirga melihat sekitarnya beberapa karyawan memperhatikan keduanya.


"Ikut mas sekarang juga," Dirga menarik Sena membawanya ke ruangannya.


Sena merasa senang tapi rasa senangnya itu hanya sesaat ketika pria itu berbicara seakan ia tak suka akan kedatangannya di kantornya.


"Kamu ngapain sih kesini, mendingan kamu pulang ya biar nanti Kahfi yang anterin kamu pulang."


"Mas kamu kenapa sih biasanya juga aku sering kesini kan,"


"Bukan sekarang waktunya enggak tepat,"


"Waktunya enggak tepat karena mantan kamu sekarang jadi sekretaris kamu iya?" Dirga terkejut mendengarnya.


"Kamu bicara apa sih! Kamu pulang ya nanti kita omongin nya." Sena menggeleng, ia tak mau pergi sudah jauh kemari ia malah diusir pergi.


"Kamu lagi de javu mas huh? karena Rania disini," Sena mencoba menebaknya mungkin saja Dirga sedang mengenang masa lalunya bersama mantannya itu, jadi dia tak ingin di ganggu.


"Mas enggak mau berdebat sama kamu, lebih baik kamu pulang mas masih ada banyak pekerjaan." Sena mengalihkan pandangannya, dadanya terasa sakit karena diusir Dirga.


"Kamu pulang ya nanti Kahfi yang antar kamu,"


"Enggak perlu! Aku bisa pulang sendiri dan ini untuk terakhir kalinya aku menginjakkan kaki aku di kantor kamu,"


Sena keluar dari ruangan Dirga dan saat itu juga ia berpapasan dengan Rania yang terkejut melihat Sena baru saja keluar dari ruangan Dirga tapi sesaat itu juga Sena langsung mengalihkan pandangannya ia berjalan cepat keluar dari dalam gadung pencakar langit itu.


***

__ADS_1


Dirga memukul meja kerjanya ia merasa kesal pada dirinya sendiri karena sudah menyakiti perasaan Sena, harusnya tadi ia tak perlu menyuruh Sena untuk pergi, harusnya ia menyuruh wanitanya untuk tetap berada di ruangannya tapi keberadaan Rania membuatnya tak sebebas dulu karena bagaimana pun ia tahu Rania masih menyimpan rasa untuknya, ia tak tega jika sampai menyakiti hati Rania.


"Ga, kamu kenapa?" Rania masuk ke ruangannya dan terkejut melihat tangan Dirga yang memar akibat pukulannya di meja.


"Aku enggak apa-apa kok," Rania tidak percaya dengan ucapan Dirga barusan, bahkan wajah Dirga saat ini terlihat sangat frustasi.


"Tadi aku lihat Sena keluar dari ruangan kamu, dia apa perlu apa sampai ke kantor segala?"


"Kamu enggak perlu tau," katanya berhasil membuat Rania terpukul karena sikap dingin Dirga barusan.


"Aku tadi habis beli makanan di bawah kita makan bareng yuk," ujarnya seraya menunjuk satu kantong makanan.


"Aku masih kenyang dan Sorry Ran bisa enggak kamu keluar dulu dari ruangan aku, aku lagi pengen sendiri." kalimat itu barusan benar-benar berhasil membuat Rania merasa seperti pengganggu di mata Dirga.


"Iya sorry ga, aku akan keluar kamu tenangkan diri kamu aja dulu." Rania keluar dari dalam ruangan CEO meninggalkan Dirga yang masih dengan kekesalannya pada dirinya.


***


Nico senang karena tiba-tiba Sena menelponnya dan memintanya untuk menjemputnya dan disinilah sekarang ia menemani Sena yang sedang galau perasaannya.


"Lo kenapa sih Sen, cerita coba sama gue? Berantem sama pacar lo," Nico memakan kentang gorengnya.


"Menurut lo gue keliatan banget kayak orang lagi galaunya ya?" Nico mengangguk.


"Kalau lo mau gue bisa kok jadi yang kedua buat lo," Nico tersenyum dan Sena menaikan satu alisnya penawaran konyol apa yang barusan Nico tawarkan untuknya.


Sena hanya ingin menenangkan pikirannya ia masih kesal karena Dirga yang sekarang bersikap tidak perduli lagi padanya, tidak seperti Dirga yang biasanya.


"Gue pengen cari kerjaan deh Nic, kalau lo tau ada info loker kabari gue ya?"


"Lo yakin mau cari kerjaan? Gue ada nih kerjaan sampingan buat lo itupun kalau lo mau, gajinya enggak sesuai UMR."


"Gue mau Nic, kerja apaan?"


"Jadi waiters di Cafe tante gue, nanti lo gue rekomendasiin ke tante gue kan lo masih sekolah biar di kasih waktu kerjanya pas pulang sekolah,"


"Oh waiters enggak gue mau kok yang penting kerja dari pada gue habis pulang sekolah waktu gue sia-sian mendingan buat kerja," Sena tersenyum kecil.


Nico heran bukannya Sena tinggal di rumah yang mewah dan punya saudara Maudy yang setiap harinya selalu diantar ke sekolah dengan mobil mewah tapi kenapa Sena terlihat sangat berbeda ia jauh dari kata mewah dan lebih sederhana.


"Ok deh nanti gue kabarin lo siapin aja berkas lamaran kerjanya,"

__ADS_1


Sena memilih untuk mencari pekerjaan mungkin dengan nanti ia bekerja, ia tak ingin terus-terusan memikirkan Dirga, ia juga tak ingin terus mengandalkan uang Dirga, jika ia bisa bekerja kemungkinan besar ia tak akan lagi tinggal di rumah milik Dirga ia nanti akan lebih memilih mengontrak.


***


Maudy yang melihat Sena untuk kesekian kalinya pulang diantar Nico cowok yang dia sukai, ia heran kenapa hal yang dia sukai selalu harus berhadapan dengan Sena.


"Pulang sama siapa lo?" tanya Maudy seraya melipat kedua tangannya di dada.


"Nico, lo kenal kan sama dia kenapa pakai nanya lagi sih."


"Sena, gue ingetin ya sama lo. Jauhi Nico gue enggak suka ngeliat lo deket-deket sama Nico." Sena tersenyum mendengarnya.


"Lo suka sama Nico?"


"Kalau iya kenapa, gue emang suka sama Nico jadi gue minta sama lo jauhi Nico,"


"Ck! Maudy-maudy mendingan lo ngomongnya sama Nico sana, bilang ke dia suruh jauhi gue berani enggak? Enggak berani ya uh kasian cinta bertepuk sebelah tangan."


Maudy di buat skakmat oleh ucapan Sena barusan ia ingin sekali memukul wajah songong Sena yang dengan angkuhnya dia berbicara seakan-akan Nico lah yang mendekatinya. Tapi, memang kenyataannya Nico lah yang mendekati Sena.


Daripada berdebat dengan Sena, Maudy memilih untuk pergi dan meninggalkan Sena yang sedang menggelengkan kepalanya melihat tingkah Maudy barusan. Sudah jelas, Nico mana mungkin mau menjauhi Sena.


***


Malamnya kembali Sena melihat Rania menginap di rumah Dirga, jika ia punya banyak uang mungkin ia sudah keluar dari rumah ini.


"Sena, kamu jangan bersikap kurang ajar lagi ya. Jangan kamu bilang kalau Rania menganggu di mata kamu," Sarah mengingatkannya.


Dan kali ini baik Rania dan Sena mereka saling pandang entah mengapa Rania selalu berakting seakan dirinyalah orang yang paling tak suka disini dengannya.


Sena putuskan untuk tidak ikut makan malam ia lebih memilih duduk di luar menikmati udara malam hari, percuma juga ia ikut makan malam karena pasti ia tidak akan di berikan makanan juga dan beruntungnya saat tadi bersama Nico, ia sudah makan banyak jadi perutnya masih terasa kenyang.


"Kenapa duduk di luar, kenapa enggak masuk ikut makan malam bersama?" suara itu milik Dirga untuk apa pria itu menghampirinya bahkan sekarang Dirga ikut duduk di sampingnya.


Dirga menatap Sena tapi wanita itu ia lebih memilih mengalihkan pandangannya, Dirga tau Sena masih marah kepadanya.


"Maaf untuk kejadian tadi siang, mas enggak bermaksud buat mengusir kamu." katanya seraya menundukkan wajahnya.


Bukannya merespon ucapan Dirga, Sena lebih memilih berdiri dan masuk ke dalam ia benar-benar tak ingin berbicara dengan Dirga pria itu sudah sering sekali mengucapkan kata maaf padanya dan untuk kedua kalinya pria itu mengecewakannya.


TO BE CONTINUED..

__ADS_1


Bantu Vote, Like dan Komentarnya ya prend karena dukungan dari kalian sangat membantu agar semangat author kembali membara :)


__ADS_2