Love Toxic

Love Toxic
Bab 89 - Out


__ADS_3

..."Aku mau ke kantor kamu bawain makanan jadi siang ini jangan makan siang di luar," pesan itu Sena kirimkan tapi belum juga Dirga membaca dan membalasnya. ...


Sekarang Sena sudah berada di jalan menuju kantor Dirga dia membawa makanan yang tadi ia buat dengan susah payah kata Renata selain suka Capcay udang Dirga pun suka dengan Ayam gulai Jawa jadi sebisa mungkin Sena menyontek resep yang di berikan mertuanya itu.


"Sudah sampai mba,"


"Oh, berapa pak?"


"35 ribu mba,"


"Kembaliannya bapak ambil aja, terimakasih pak." katanya dengan ramah.


Ya, Sena berangkat ke kantor Dirga dengan menaiki taksi karena Pak Rizal sedang mengambil libur beberapa hari. Jadi, terpaksa dia harus kemana-mana tanpa menaiki mobil mewah kalau Dirga tahu hal ini pasti dia akan mengamuk karena Sena beraninya mengambil langkah resiko berbahaya dengan keluar sendirian.


Beberapa karyawan yang berlalu lalang memperhatikannya ya rumor mengenai perpisahan Dirga dan Sarah sudah tersebar di perusahaannya dan rumor tentang Dirga yang telah menikah kembali itupun sudah menjadi bahan pembicaraan tapi sekarang tentang mengenai Sena hamil mereka belum mengetahui sama sekali dan mereka yang melihat Sena datang ke kantor dengan penampilan tubuh gemuknya berhasil mendapatkan pemandangan cibiran dari karyawan lainnya.


"Kenapa pada ngeliatin aku kayak gitu sih?" batinnya berbicara tapi Sena mencoba menghiraukannya ia tetap memasuki lift menuju ke ruangan Dirga.


Sesampainya di depan pintu ruangan CEO dia bingung mengetuk pintu terlebih dahulu atau langsung masuk saja tapi bukankah dirinya adalah istri sah Dirga jadi untuk apa dia permisi masuk ke dalam ruangan suaminya sendiri.


"Mas Dirga.. " Sena membuka pintu nya perlahan dan saat ia masuk ke dalam dia mendapati pemandangan yang tidak seharusnya dia lihat, Sena melihat Dirga yang sedang di pijat bahunya oleh Rania.


"Sayang kamu kok bisa ada disini?" tanya Dirga seraya langsung menepis tangan Rania dari bahunya.


"Kamu lagi ngapain mas sama dia? Kenapa Rania pegang-pegang bahu kamu?" cerca nya dan Dirga langsung menghampiri Sena.


"Dirga itu kecapean jadi dia minta aku pijat, oh iya katanya dia sering begadang demi menemani kamu ya, Dirga juga capek dengan sikap kamu yang akhir-akhir ini bertingkah seperti seorang bocah," ujar Rania seraya tersenyum manis.


"Rania! Aku kamu ngomong apaan sih?"


"Aku kan ngomongin hal yang jelas kamu ceritakan sama aku tadi,"

__ADS_1


Sena yang mendengarnya emosinya semakin memuncak bahkan sekarang matanya memerah menahan tangisnya, jika yang di katakan Rania itu benar jadi selama ini Dirga merasa terbebani olehnya.


"Sayang kamu dengerin aku dulu ya, aku bisa jelasin semuanya,"


"Kamu mau jelasin apa lagi mas? Kalau emang kamu merasa terbebani karena aku seharusnya kamu bilang dari awal sama aku mas,"


"Bahkan kamu mau aja di sentuh sama dia,"


"Enggak aku enggak pernah merasa terbebani sama sekali, dan aku bisa jelasin semuanya." Dirga menyentuh tangan Sena tapi di tepis oleh Sena.


Sena keluar dari dalam ruangan itu ia sudah tidak mood untuk bertemu dengan Dirga bahkan sekarang pria itu mencoba terus mengejarnya tapi sayangnya Sena sudah lebih dulu masuk ke dalam lift, Sena yang di dalam lift ia mencoba menahan tangisnya karena ada beberapa karyawan di dalam lift itu juga.


Dirga yang kembali ke ruangannya ia langsung menyuruh Rania untuk keluar dari ruangannya, ia sudah sangat kesal tapi ia juga tidak memungkiri ucapan Rania barusan Dirga memang bercerita kepada Rania akan hal itu tapi ia tidak pernah merasa terbebani tapi Sena malah berpikir jika Dirga merasa terbebani karena dirinya.


***


Sena menangis di dalam kamarnya makanan yang tadinya ia sudah siapkan untuk Dirga, ia taruh balik di dapur dan sekitarnya ia memilih mengurung diri di dalam kamar. Ponselnya bergetar layarnya menampilkan nama Dirga di sana tapi ia menghiraukannya.


Sena mendapatkan telepon dari ibu tiri nya Ardila mau tidak mau Sena harus mengangkatnya dan di sebrang sana terdengar suara Fahri ayahnya seketika Sena menjadi gugup entah apa yang akan ayahnya tanyakan sekarang padanya apakah Sarah dan Maudy sudah menceritakan segalanya.


"Kenapa kamu belum pulang juga Sena? Bukannya kamu sudah menyelesaikan sekolah kamu," ternyata Fahri mempertanyakan kepulangannya, jadi Sarah belum cerita apapun tentang dirinya.


"Iya Pa secepatnya Sena bakalan pulang kok," ujar Sena.


"Kamu jangan terus-terusan di rumah Dirga, cepat pulang Sena."


"Iya Pa bulan depan Sena pulang," seketika panggilannya terputus ayahnya hanya memintanya untuk pulang belum juga Sena bertanya tentang kabar ayahnya tapi panggilannya sudah di matikan sepertinya ibu tirinya yang mematikan sambungannya.


Bagaimana nanti Sena menceritakan segalanya sekarang saja baik dirinya dan Dirga sering sekali bertengkar lagi pula belum tentu Dirga mengizinkan Sena untuk pulang ke Aceh.


***

__ADS_1


Sorenya.. Sena masih asyik menonton acara televisi kartun kesukaannya sebenarnya ia sedikit merasa bosan karena dari tadi setelah pulang dari kantor Dirga aktivitasnya begitu-begitu saja kalau bukan tidur di kamar ya menonton TV.


"Aku pulang sayang,"


Suara itu sangat Sena kenali tapi ia enggan untuk menghampirinya ia masih kesal mengingat kejadian tadi siang di kantor. Ya, saat ini Dirga melihat dengan jelas Sena yang sedang menonton TV di ruang living room sendirian kemarin kedua orang tuanya sudah pulang dan sekarang tinggal mereka berdua.


"Kok cuek gitu sih? aku pulang harusnya di sambut dengan pelukan dong," Sena melirik Dirga sekilas sampai akhirnya ia kembali menatap layar TV.


Dirga menghela nafasnya ia tahu Sena masih marah kepadanya, "Ya udah aku mandi dulu ya," katanya seraya mencium kening Sena tapi masih juga tidak ada respon balik darinya.


Tubuhnya yang lelah karena bekerja dari tadi pagi di kantornya bahkan ia sempatkan untuk pulang lebih cepat tapi sesampainya di rumah Sena bersikap acuh seperti ini kepadanya, haruskah Dirga marah kepada wanitanya.


Dirga secepatnya menyelesaikan aktivitas mandinya dan setelah tubuhnya sudah merasa segar ia secepatnya turun ke bawah menghampiri Sena yang masih duduk sendirian di sana.


"Aku lapar nih temani makan yuk," Sena menggeleng.


"Makan sendirian juga bisa kan, aku lagi males." sahut Sena.


"Kok kamu gitu sih? Suaminya minta di temenin bukannya nemenin malah bilangnya males," ujar Dirga menatap Sena yang tidak menatapnya balik.


"Ya lagian mas kenapa enggak makan dulu aja pas mau pulang ke rumah, kalau mau pulang enggak usah terburu-buru biasanya juga kamu kan kalau pulang selalu telat makan aja dulu sama Rania harusnya," ujar Sena kesal.


Dirga mencabik kan bibirnya dia kesal lagi-lagi Sena mempermasalahkan masalah yang sepele seperti ini.


"Rania lagi, Rania lagi kamu kalau marah jangan kayak gini dong sayang,"


"Ck! Udah deh mendingan mas sana makan katanya lapar ngomong mulu dari tadi,"


"Ya udahlah terserah kamu lagi capek kayak gini masih aja bahas kejadian tadi siang," kata Dirga yang ikutan kesal dan ia langsung memilih untuk pergi ke dapur karena perutnya sudah sangatlah lapar ketimbang harus meladeni Sena yang terus-terusan bersikap acuh kepadanya.


TBC.

__ADS_1


Di harap memberikan Like, Vote dan Komentarnya ya prend memberikan keempat poin itu sangat gratis. :)


__ADS_2