
Keesokan harinya, Dirga pulang ke rumahnya dan ia sempat berpapasan dengan Sena wanitanya melihat dengan jelas luka lebam di wajah Dirga dia ingin bertanya tapi ia rasa hal itu pasti akan terlihat sangat berlebihan jika ia bertanya itu pasti akan membuat pria itu merasa di perhatikan.
"Maaf kemarin aku enggak sempat pulang, kamu udah makan?"
"Belum," jawabnya yang merasa kesal pada lidahnya karena tidak bisa di kontrol.
"Ya udah ayo kita makan," Sena mengangguk dan ikut ke meja dapur bersama Dirga.
Entah mengapa Sena merasa kesal melihat sikap Dirga yang sekarang, bukannya pria memohon maaf kembali padanya tapi malah justru ikut bersikap acuh kepadanya.
"Kemarin kamu kemana?" tanya Sena di sela-sela makannya.
"Aku pulang ke rumah mama, maaf enggak ngabarin kamu sama sekali." Sena mengangguk.
Dirga menatap Sena dengan tatapan sendunya ia sangat berharap sikap wanitanya kembali seperti dulu lagi, wanita yang ceria di setiap harinya.
"Wajah kamu kenapa habis berantem?" Dirga menggeleng cepat.
__ADS_1
"Tadi aku enggak sengaja jatuh," jawabnya beralibi ia belum siap untuk mengakui segalanya mana mungkin ia to the point mengatakan jika dirinya di pukuli oleh ayahnya sendiri.
"Makasih karena kamu udah mau perhatian kembali sama aku," kata Dirga seraya menggenggam tangan wanitanya aksinya itu berhasil membuat degup jantung Sena tak karuan.
Sena masih sangat mencintai Dirga dan ia tidak pernah berpikir untuk berpaling sedikit pun dari pria itu, hanya saja sikap Dirga yang tidak pernah tegas membuatnya merasa jengah dengan sikapnya yang menyebalkan itu.
***
"Kamu mau tidur dimana?" tanya Sena saat melihat Dirga tidak ikut masuk ke kamarnya.
"Kamar sebelah," jawabnya.
Saat berada di kamar tidak ada obrolan apapun di antara keduanya, Dirga sibuk dengan laptopnya dan Sena tengah duduk di ranjang kasurnya kakinya terasa pegal walaupun hanya untuk naik turun tangga mungkin karena kehamilannya jadi semakin membuat berat badannya naik.
"Kaki kamu pegal-pegal?" Sena mengangguk dan Dirga bisa melihat jari-jari kaki Sena mulai sedikit membengkak.
"Sini biar mas pijitin," kata Dirga seraya mengalihkan laptopnya dan ia mulai memijit dengan pelan.
__ADS_1
Kakinya yang di pijat membuatnya jadi tambah mengantuk, "Kalau ngantuk tidur aja, nanti mas bakalan terus pijat kaki kamu sampai tidur," ujar Dirga yang tahu jika Sena sudah mulai mengantuk berat.
Dan benar saja beberapa menit kemudian Sena tertidur pulas, melihat Sena yang kelelahan seperti ini membuat Dirga merasa kasihan karenanya diusia ke 19 tahun seharusnya Sena masih merasakan masa remajanya bukan malah harus menjadi seorang ibu.
Dirga ikut merebahkan tubuhnya di samping Sena, dia pun sama sangat lelah juga. Ia memeluk Sena sudah beberapa hari ini tidur berpelukan seperti ini sudah sangat jarang mereka lakukan.
***
"Jadi kebohongan kamu dan Dirga sudah diketahui orang tua Dirga?" Sarah mengangguk, saat ia sedang bersama Samuel di restoran.
"Kamu yang sabar ya, aku yakin ini semua memang sudah jadi jalan takdirnya." tutur Samuel kembali.
Mendengar kabar itu Samuel sebenarnya merasa senang karena selama Samuel kenal dengan Sarah sebelum wanita itu menjadi istri pura-pura Dirga saat itu juga Samuel sudah dari dulu menyukai Sarah, jadi sebenarnya ia sengaja terus mendekati dan menjadi teman curhat wanita itu.
"Apa secinta itu kamu sama Dirga?" Sarah menatap Samuel akan pertanyaannya barusan.
"Aku enggak tau Sam cinta atau enggaknya, hanya saja sampai sekarang aku belum siap sendiri tanpa dia." jawab Sarah.
__ADS_1
Samuel paham jika Sarah memang masih ada sedikit rasa pada Dirga lagi pula siapa wanita yang tidak jatuh cinta jika bisa sedekat itu dengan pria seperti Dirga. Dan sekarang Samuel merasa tidak pernah percaya diri jika pria yang di sukai Sarah adalah Dirga sulit untuk menyaingi seorang Dirga dari dulu pria itu sudah sangat banyak di cintai para wanita jadi tak heran jika Sarah pun menyukai Dirga.
TBC