Love Toxic

Love Toxic
Bab 18 - Repeat


__ADS_3

Satu minggu setelah kejadian itu mereka kedekatan mereka semakin jauh, dan selalu Dirga mengutuk dirinya sendiri bagaimana mana bisa ia bersikap kurang ajar pada Sena dengan memaksanya berciuman dengannya.


"Ah! Dasar bodoh, dia pasti ketakutan."


Dirga harus secepatnya meminta maaf kepada Sena ya walaupun ia tahu betul Sena pasti akan menghindarinya.


Seperti sekarang di rumah Dirga melihat situasinya berharap Sarah dan Maudy keluar pergi tapi hasilnya nihil, mereka masih di ruang tengah membicarakan sesuatu yang tidak ada gunanya begitu juga dengan Sena yang setiap menatapnya hanya sekilas saja.


Sena sebenarnya ia sudah tidak terlalu marah, ia hanya merasa masih canggung untuk berhadapan langsung dengan Dirga.


"Bi Mina apa Sena sudah makan?" tanya Dirga pada pembantunya.


Bi Mina yang mendengar pertanyaan tuannya ia bertanya-tanya sejak kapan tuannya itu jadi perhatian pada orang-orang di sekitarnya.


"Sudah tuan," Dirga langsung pergi ia memutuskan untuk ke ruang kerjanya.


***


Maudy sedang menceritakan kekesalannya pada Sarah mengenai kejadian di pestanya kemarin.


"Lagian siapa sih mba yang nyuruh Sena datang ke acara aku, apa jangan-jangan mas Dirga lagi yang ngajakin Sena."

__ADS_1


"Feeling mba juga gitu,"


"Ya udahlah yang terpenting pesta kamu lalu berjalan dengan lancar,"


"Makasih ya mba karena udah buatin acara itu untuk aku," Sarah tersenyum mendengar kata terimakasih dari adiknya.


Selama ada Maudy ia terkadang sudah tidak lagi merasakan kesepian seperti dulu, dulu sebelum kedatangan Maudy dirinya selalu merasa sendiri karena Dirga tidak pernah menganggap keberadaannya di rumah ini.


Sarah berpikir keras ia harus dengan cara apalagi menaklukkan hati Dirga pria itu terlalu dingin kepadanya padahal ia sering kali menggoda Dirga tapi hasilnya tidak ada perubahan, untuk masuk ke kamarnya saja Dirga selalu mengusirnya dengan membawa embel-embel bahwasanya pernikahan mereka tidak pernah ada.


Sakit hati itu pasti yang sekarang di rasakan Sarah akan sikap Dirga yang tidak bisa mau menerimanya.


***


Sena memukul pelan kepalanya, "Kenapa sih bayang-bayang itu selalu muncul,"


Sena sekarang bahkan berpikir haruskah ia membenturkan kepalanya ke tembok agar bisa melupakan bayangan kejadian itu.


Sena merasa malu setiap kali mengingatnya, apakah pria itu juga merasakan hal yang sama menyesalinya atau bersikap biasa.


"Bisa kita bertemu? di tempat gym saya." Sena membaca pesan itu, ia bingung harus bagaimana menjawabnya tapi pasti Dirga sudah menunggunya.

__ADS_1


Untuk menjawab ok saja ia membutuhkan waktu satu jam lebih dan sekarang kakinya terasa berat akan melangkah masuk ke ruangan itu, terakhir kali ia ingat betul kapan masuk ke ruangan khusus ini. Dimana ia bertemu Dirga untuk pertama kalinya.


"Ada apa?"


Dirga menatapnya ia pikir Sena tidak akan sudi menemuinya tapi perempuan itu mau menemuinya, dia memang baik.


"Maaf untuk kejadian kemarin,"


Dugaan Sena benar pria itu pasti akan meminta maaf kepadanya dan terlalu sombong jika Sena tidak memaafkannya.


"Ya udah aku maafin,"


"Kamu beneran mau maafin saya?"


"Iya,"


Tatapan sendu itu berhasil membuatnya merasa gugup entah ada apa dengan dirinya sekarang, di bawah cahaya penerangan yang kurang. Sena melangkah lebih maju dan berani mencium Dirga tubuh lawannya yang terlalu tinggi membuatnya harus berjinjit untuk mengamankan tingginya.


Awalnya Dirga diam memberikan Sena mencium bibirnya tapi saat pikiran Sena menarik dirinya ia tidak membiarkan hal itu begitu saja, ia menginginkannya juga. Jadilah, mereka berciuman tanpa sebuah paksaan menikmati setiap inci dari bibir masing-masing.


TO BE CONTINUED..

__ADS_1


__ADS_2