
"Mas kita makan dulu ya," Dirga mengangguk.
Sena terus berjalan di belakang keduanya bersama Maudy sejujurnya Sena merasa tidak suka dengan sikap Sarah yang sekarang memeluk tangan Dirga, ia tahu betul jika sedang berada di luar sebisa mungkin Dirga harus bersikap layaknya seorang suami kepada Sarah pasalnya ia khawatir jika ada kerabat dekatnya yang melihat mereka.
Mereka sekarang berada di restoran yang ada mall tersebut, baik Sarah dan Maudy mereka memesan berbagai makanan lain hal dengan Sena ia hanya memesan pasta.
Meskipun semua makanan yang mereka pesan Dirga yang membayarnya rasanya jika sedang tidak berdua Sena merasa tidak leluasa dalam melakukan apa yang dia inginkan.
"Kamu pesan itu aja?" Dirga bertanya seraya melihat mie pasta yang sedang Sena makanan.
"Enggak mau pesan yang lain, lihat Maudy dia pesan beberapa makanan. Kalau mau makan yang lain pesan aja,"
"Makasih mas tapi ini udah cukup kok. Lagi pula aku juga masih kenyang," jawabnya beralibi padahal tadi pagi Sena bahkan belum sempat sarapan dan ia hanya baru minum air putih.
"Udahlah mas dia masih kenyang katanya," Sarah menyela obrolan keduanya.
Entahlah Dirga merasa bingung dengan sikap Sena selalu merasa tak enak hati padahal saudaranya saja tidak ada yang tahu malu.
***
Sena dan Dirga memutuskan menunggu Sarah dan Maudy yang setelah makan mereka tak sengaja melihat toko perhiasan dan akhirnya mereka meminta izin untuk membeli perhiasan sebentar karena Dirga yang sudah kesal ia memutuskan menunggu di lobby parkiran.
Suara kecupan terdengar jelas di dalam mobil lidah keduanya saling berbelit lipstick yang di gunakan nya memudar kemana-mana. Ciuman Dirga saat ini sangat terasa manis dan tanpa ada tuntutan apapun.
Wanitanya mencium leher jenjang Dirga membuat sang empu mengerang, mereka akhiri dengan satu kecupan manis di bibir keduanya.
"Udah mas nanti kalau mereka tiba-tiba datang gimana coba?" Sena mendorong tubuh Dirga yang berniat menciumnya kembali, saat ini mereka sedang duduk di jok depan itupun juga karena Dirga yang memaksa Sena untuk duduk di depan.
"Ya enggak gimana-gimana lagian mereka itu kalau belanja pasti lama," Dirga melepas sabuk celananya ia juga membuka resletingnya.
"Mas mau ngapain?" tanya Sena yang melihat tindakan Dirga sekarang.
"Kita main sebentar ya.. " jawabnya dengan suara seraknya ia mengeluarkan kepemilikannya dengan jelas.
"Mas ini di parkiran,"
"Enggak bakalan ada yang lihat juga, kaca mobilku enggak tembus pandang."
__ADS_1
"Ayolah sayang sebentar aja, keburu mereka datang.. " pintanya frustasi menahan gejolak libidonya.
"Ya udah iya ok, cuma satu ronde enggak ada dua dan ketiga." Dirga mengangguk ia langsung menyambar bibir wanitanya.
Sena melepaskan cdnya ia menyingkap roknya keatas beruntung ia memakai rok bukan jeans. Sena langsung mengangkangi Dirga memasukkan milik pria itu.
Dan akhirnya mereka bercinta di dalam mobil, bermain cepat karena khawatir orang lain atau bahkan Sarah dan Maudy tiba-tiba datang mengejutkan aktivitas panas mereka.
***
"Ehemm.. " Dirga berdehem menetralkan pikirannya setelah percintaan panas mereka yang berlangsung dua ronde.
"Kalian berdua kebiasaan banget sih kalau belanja enggak tau waktu aku ngasih waktu 15 menit malah sampai setengah jam lebih sendiri!" ujarnya murka sedangkan Sena telah kembali duduk di jok belakang dengan tenang bersikap se-rileks mungkin bersyukur pria itu tidak meninggal kissmark di lehernya.
Sebenarnya Dirga merasa senang karena ternyata Sarah dan Maudy lama datangnya pasalnya ia bisa meluangkan waktunya untuk bercinta dengan wanitanya.
"Maaf mas aku lupa ini Maudy beli sesuatu kebanyakan mikir,"
"Lho kok malah nyalahin aku sih mba, mba Sarah juga kan sama kebanyakan mikir." jawabnya yang tak terima dengan tuduhan Sarah.
Sena ingin sekali tertawa melihat Dirga yang memarahi mereka padahal ia tahu betul sebenarnya Dirga merasa senang, padahal ia sudah memberikan kepuasan tapi masih saja bisa marah-marah.
***
Rania duduk di ruang tengah berharap Dirga benar-benar datang ke apartemennya ia sudah mengirimkan pesan untuk Dirga dan pria itu bilang ia akan datang mengunjunginya.
Ting tong.. Suara bel berbunyi sebenarnya Dirga tidak perlu menekan bel segala padahal ia tahu apa password masuk ke apartemennya tapi ia masih menghargai Rania.
What! Menghargai berbeda jika yang di dalam itu Sena mungkin pria itu tidak akan bersikap se-sopan itu.
"Hay ga akhirnya kamu beneran datang juga,"
"Malam Ran," Rania mempersilahkan Dirga masuk ia sudah menyiapkan makan malam untuk Dirga.
"Ada acara apa ini kamu sampai nyuruh aku buat kesini?" tanyanya yang tak perduli dengan tangan Rania yang sekarang merangkul tangannya membawanya ke meja makan.
"Enggak ada acara apa-apa sih cuma aku lagi pengen masak dan mengundang Dirgantara Sebastian untuk makan malam bersama," Dirga terkekeh mendengarnya ia di buat takjub dengan segala macam menu yang di masak Rania, wanita itu benar-benar sangat hebat.
__ADS_1
Mereka berdua menikmati makan malam mereka dengan di temani satu botol wine yang Rania pesan lewat online.
"Apa kamu enggak ada niatan untuk pulang?"
"Kamu ngusir aku ga," Dirga menggeleng ia tidak bermaksud berbicara seperti itu.
"Aku bercanda ga jangan terlalu serius, aku enggak niatan untuk pulang. Aku udah mengirim e-mail ke beberapa perusahaan."
"Kamu cari kerjaan?" Rania mengangguk seraya menuangkan ketiga kalinya wine ke gelas Dirga.
Kadar alkohol wine yang Rania beli sangat tinggi berhasil membuat Dirga beberapa kali menetralkan tubuhnya saat wine itu ia minum.
***
Setelah satu jam makan malam sambil menikmati sebotol Wine yang sekarang sudah habis di minum keduanya, keduanya sama-sama mabuk berat baik dari keduanya memang tidak pandai dalam minum alkohol.
"Kepala aku pusing banget ga," Dirga membopong tubuh Rania untuk masuk ke dalam kamarnya pasalnya Rania bahkan sudah sangat mabuk berat.
Saat sudah merebahkan tubuh Rania di kasur, Dirga hendak keluar tapi tangannya sudah di tahan.
"Ga jangan tinggalin aku, disini aja temani aku." Rania berusaha duduk dan memeluk tubuh Dirga.
Kepala Dirga sudah sangat terasa pusing tapi ia masih bisa berjalan karena bagaimana pun ia harus pulang.
"Ran kamu mabuk, udah sekarang kamu tidur ya."
"Kamu jangan pergi, tetap disini ga, temani aku," Rania terus memeluk erat Dirga.
"Ok iya aku temani kamu tapi sekarang kamu tidur," Rania mengangguk ia menarik Dirga untuk ikut ke ranjangnya dan pria itu menurutinya.
Rania memeluk erat Dirga seraya membenamkan wajahnya di dada bidang Dirga bahkan sesekali tangannya mengelus dada bidang Dirga berhasil membuat sang empu harus menahan sentuhan tangan Rania.
Tetapi bagaimana pun juga Dirga adalah seorang pria normal, pria mana yang dapat menahan sebuah sentuhan dari seorang wanita. Apalagi sekarang mereka sedang berada berdua di dalam satu ranjang yang sama.
Bahkan sekarang Rania duduk di pangkuan Dirga mencium leher jenjang sang pria, Dirga sudah tidak bisa menahannya ini semua di luar kendalinya ia benar-benar sudah tidak waras.
TO BE CONTINUED..
__ADS_1