
Mereka telah sampai di kota kelahiran Sena, baik dari mereka berdua tidak langsung mengunjungi rumah kedua orang tua Sena melainkan mereka berdua telah memesan salah satu penginap yang ada di daerah itu.
Dan barulah untuk keesokan harinya mereka berdua mengunjungi rumah kedua orang tua Sena, bukannya langsung masuk dan mengetuk pintu rumah kedua orang tuanya ia masih memilih untuk terus berdiam diri memandangi rumah yang sangat sederhana itu.
"Kamu mau sampai kapan berdiri disini terus," kata Dirga yang berhasil membuatnya melangkah kakinya untuk menaiki anak tangga yang ada di depan rumahnya.
"Biar aku aja yang ketuk pintunya," hanya dengan beberapa ketukan saja pintu rumah itu mulai terbuka menampakkan wajah seorang wanita cantik.
"Mba Sarah,"
"Sena.. Mas Dirga kalian ngapain kesini?" tanya Sarah yang langsung menutup pintu rumahnya.
"Aku mau ketemu sama Papa mba,"
"Udah deh mendingan kamu balik ke Jakarta lagi ngapain sih kesini segala, enggak perlu ketemu sama Papa." ujar Sarah seraya mendorong Sena berhasil membuat Dirga marah melihat tindakan Sarah barusan.
"Sarah! Kamu ini enggak pernah berubah ya, Jangan bersikap kasar terhadap istri saya." ujar Dirga tegas dengan suara lantangnya.
"Mas udah jangan keras gitu ngomongnya," kata Sena.
"ADA TAMU SIAPA SARAH KENAPA ENGGAK LANGSUNG DIAJAK MASUK?" ujar seseorang yang seraya ikut menghampiri mereka, tubuhnya terdiam membisu saat untuk pertama kalinya dia melihat anak kesayangannya kini ada di hadapannya dan yang membuatnya shock anaknya itu tengah berbadan dua.
"Papa?"
"Sena kamu hamil? Hamil dengan siapa?" tanya Fahri yang masih belum percaya dengan apa yang dia lihat sekarang.
"Dengan saya Pak," kata Dirga yang berhasil membuat Fahri menatapnya.
"APA DENGAN KAMU? KAMU KAN SUAMINYA SARAH," Dirga menggeleng dan menatap Sarah jadi sampai sekarang Sarah belum menceritakan kebenarannya.
"Sebelumnya saya ingin meminta maaf terlebih dahulu kepada Pak Fahri karena saya dan Sarah sebenarnya tidak benar-benar menikah itu semua rencananya saya, dan saya minta maaf karena telah menikahi Sena tanpa sepengetahuan Pak Fahri." ujar Dirga tanpa ragu mengungkapkannya.
Bug! Fahri memukul wajah Dirga ia ingin memukulnya kembali tapi seketika dadanya terasa sesak, tubuhnya jatuh ke lantai tak kuat menahan rasa sakitnya.
"Papa.. Mas tolongin Papa," meskipun wajahnya sudah di pukul keras oleh Fahri tapi mau bagaimana pun Fahri adalah mertuanya, jadi dengan sigap Dirga membantu Fahri membawanya masuk ke dalam.
"Ya ampun Sarah ada apa ini, kenapa dengan papa kamu?" tanya Dila yang mulai panik melihat suaminya kesakitan.
"Mendingan mama panggilkan dokter biar papa secepatnya di tangani." kata Sarah saat melihat Fahri telah di baringkan di kasur.
__ADS_1
"Pa, Sena minta maaf," kata Sena seraya memeluk tubuh Fahri.
"Sekarang kamu puas udah buat Papa kayak gini huh?"
"Maksud mba apa?" Sena menatap Sarah dengan mata sembabnya.
"Sarah kenapa kamu jadi menyalahkan Sena sudah jelas saya yang salah disini," ujar Dirga tak terima Sena di salahkan.
"SUDAH CUKUP! KALIAN SEMUA JANGAN BERTENGKAR," kata Dila yang sekarang ikut menangis.
Sarah menatap Dirga sesaat sebelum sampai akhirnya dia keluar dari kamar itu, memberikan waktu untuk mereka.
***
Setelah di tangani oleh dokter ternyata Fahri hampir terkena serangan jantung tapi beruntungnya pria itu masih mau menstabilkan pikirannya kembali dan sekarang keadaannya sudah lumayan membaik ya walaupun harus mendapatkan perawatan di dalam rumah. Dan karena keterbatasan biaya pada akhirnya Dirga lah yang akan kembali membiayai segala pengobatannya.
"Kenapa kamu bohongi kami Sarah?" tanya Fahri dengan tatapan kosongnya.
"Maaf Pa ini semua Sena lakukan demi kebutuhan hidup kita semua," ujarnya yang tak berbohong sama sekali.
"Sena kenapa kamu menikah tanpa sepengetahuan Papa?" tanya Fahri pada Sena kali ini.
Fahri masih tidak percaya dengan segala kebenarannya dan kali ini ia harus mau menerima segala keadaannya seperti apa karena bagaimana pun semuanya telah terjadi tapi hal yang membuatnya masih tidak habis pikir adalah dengan jalan pikiran kedua putrinya sama-sama membohonginya.
"Jadi kamu pulang karena ingin menjelaskan semua ini Sena?" tanya Dila.
"Iya Ma,"
"Kamu dari dulu selalu membuat masalah di keluarga ini, apalagi sekarang kamu pulang tengah berbadan dua bikin malu nama baik keluarga saja."
"Maafin aku ma pa kalau selama ini, aku selalu membuat masalah di keluarga ini,"
"APA MAKSUD ANDA? KAMI KESINI DATANG DENGAN NIAT BAIK TAPI ANDA MALAH MENGHINA ISTRI SAYA," ujar Dirga murka.
"Mas udah, apa yang dikatakan mama itu memang benar kok, udah ya lagian juga aku enggak apa-apa kok." Dirga menggeleng.
"Enggak sepantasnya dia menghina kamu, sebagai suami kamu aku enggak terima."
Ya, Dirga tidak akan pernah terima jika wanitanya di cap sebagai pembawa masalah di keluarganya sendiri dan apalagi dengan Dila yang barusan membawa-bawa kehamilan Sena.
__ADS_1
"Mas udah cukup mendingan ayo kita pulang ya," ujar Sena mencoba menenangkan suaminya yang keras kepala itu.
"Kalian menginaplah disini terlebih dahulu dan kamu Dila sudah cukup tidak perlu terus-terusan menyalahkan Sena," ujar Fahri yang berhasil membuat Dila kesal dan pada akhirnya memilih keluar diikuti dengan Sarah.
"Kalau aku dan mas Dirga menginap disini apa enggak jadi masalah pa buat mba Sarah dan mama?"
"Jangan pikirkan mereka, kalian menginap lah disini lagi pula masih ada beberapa hal yang nanti ingin Papa bicarakan dengan kamu Sena,"
"Kamu bisa tidur di kamar kamu Sena," sambungnya kembali.
Bukan hanya Fahri yang ingin berbicara perihal yang penting dengannya tapi sebenarnya Sena juga masih ingin terus disini beberapa hari bersama ayahnya karena bagaimana pun ia masih sangat merindukan Fahri--Ayahnya.
***
"Sebenernya aku malas banget menginap disini," kata Dirga yang sekarang tengah di kompres luka lebam akibat pukulan Fahri barusan.
"Ya udah kalau emang kamu enggak betah, balik aja sana sendirian ke penginapan,"
"Gitu aja langsung marah," cibir Dirga.
"Ya katanya males nginep disini," Sena menaruh kain kompres barusan ke wadahnya.
"Enggak, aku tadi bercanda ngomong kayak gitu. Jadi, ini kamar kamu dulu," Sena mengangguk.
Kamar Sena tak seluas kamarnya dulu saat di rumah Dirga, kamarnya sekarang hanya beberapa petak dan di dalamnya hanya ada satu ranjang berukuran sedang dengan lemari kayu kecil tua yang ada.
Dirga menarik Sena untuk ikut rebahan di kasur dengannya saat ini keduanya tengah saling pandang, luka lebam di wajah tampan Dirga masih terlihat jelas Sena menyentuhnya perlahan.
"Pasti sakit ya mas?" Dirga mengangguk
"Maaf ya gara-gara aku kamu jadi di pukul Papa,"
"Bukan gara-gara kamu tapi emang ini salahku mana ada seorang ayah yang tidak marah melihat anaknya di bikin bunting begini," Sena terkekeh mendengarnya.
Sena mengecup bibir Dirga sampai akhirnya mereka berpelukan saling memberikan kehangatan, Sena memang malu karena pulang ke rumahnya dengan keadaan berbadan tua tapi lebih malu lagi jika dia pulang dengan keadaan sedang hamil tanpa seorang suami beruntungnya sejauh apapun Sena ingin pergi tapi pria itu tidak pernah mau jauh darinya.
Memang benar kata orang dicintai jauh lebih baik di bandingkan mencintai tanpa balasan.
TBC.
__ADS_1
Di harap memberikan Like, Vote dan Komentarnya ya prend memberikan keempat poin itu sangat gratis. :)