
Dirga menunggu Sena di depan gerbang sekolahnya sudah setengah jam lebih ia menunggunya tapi gadis itu belum muncul jua, bagaimana belum melihatnya pasalnya Dirga menjemput Sena di waktu yang salah sudah tahu jam pulang sekolah masih satu jam lagi tapi Dirga sudah menunggunya.
Dan saat bel sekolah bergema semua siswa berhamburan keluar termasuk Sena yang keluar dari pintu gerbang sekolahannya.
"Gue duluan ya, udah di jemput."
"Cie di jemput sama siapa sih doi ya," cibir Resti juga Flo sudah tahu Sena di jemput kakak iparnya tapi masih bisa-bisanya mereka menyebutnya doi.
"Gue duluan, pulang sana lo semua."
"Sen jangan lupa pas pesta ulang tahun gue nanti ajak pacar lo ya," Sena mengangguk dan ia segera berlari ke arah mobil Dirga.
Sena masuk ke dalam mobilnya ia mendapati Dirga dengan kaca mata hitamnya yang bertengger.
"Maaf lama ya mas?" Dirga menggeleng ia menjalankan mobilnya menjauh dari area sekolah.
"Mau langsung pulang atau mau kemana dulu?" tanya Dirga yang berhasil membuat Sena menaikan satu alisnya sedang kerasukan apa Dirga sekarang biasanya pria tua itu akan langsung mengajaknya ke kantornya.
"Aku enggak mau pulang ah males!"
Ya, Sena tidak ingin langsung pulang karena apa ia malas dengan Sarah yang pasti akan menyuruhnya untuk membersihkan ini dan itu jika ia berada di rumah tanpa Dirga.
"Jadi mau kemana?"
"Mas enggak ada meeting emangnya?"
"Ada sih tapi nanti jam 2 siangan," Sena tampak berpikir keras.
"Ya udah kita ke kantor mas aja, aku mau rebahan dulu capek dari pada di rumah nanti enggak bisa istirahat dengan tenang," Dirga mengangguk.
"Mm.. Aku mau ganti baju dulu deh bosen masa iya ke kantor selalu pakai seragam sekolah nanti di kira apaan lagi sekali-sekali kan,"
"Ya udah terserah kamu aja, mau kamu pakai baju apapun juga mas sih enggak masalah,"
"Enggak masalah buat mas, masalah buat aku nanti. Mas aja enggak tau kalau mereka ngomongin apa tentang aku." Sena menggerutu, Dirga tersenyum senang karena sekarang Sena sudah mulai terbuka dengannya.
"Aku mau ganti baju ingat ya jangan ngintip, lihat ke depan fokus nyetir." Dirga terkekeh mendengarnya.
Sena pindah ke jok belakang, ia mengeluarkan pakaian yang ia bawa dalam di tasnya dan secepat mungkin ia menanggalkan seragamnya, Dirga yang tadinya fokus menyetir ia akhirnya tak tahan dan mengintip Sena yang sedang melepas pakaian dari balik cermin di atasnya.
"Aw kamu apa-apaan sih!" kepalanya terasa sakit saat Sena menjambak rambut Dirga.
"Fokus nyetir, matanya jangan kemana-mana."
"Iya-iya ini fokus nyetir, lepasin dulu ini sakit tau." Sena melepaskan tangannya dari rambut Dirga.
Dirga mencabikan bibirnya ia kesal karena sedang asik-asiknya melihat Sena yang melepas pakaiannya, ia malah terkena jambakan dari sang empunya.
***
Sena yang sedang rebahan di sofa dan Dirga yang sedang fokus pada laptopnya merasa perutnya sudah berbunyi ia langsung meminta makan kepada Dirga.
"Mas pesanin makanan dong, aku lapar nih,"
"Cium dulu, baru nanti mas pesankan makanannya." Sena menatapnya horor.
"Cium yang bagaimana?" Dirga terkekeh dan mendekatinya selepasnya ia mencium bibir Sena karena saking gemasnya dengan pertanyaan Sena barusan.
"Menurut kamu cium yang seperti apa?"
"Mana aku tau, cium versi aku sama cium versi mas tuh beda."
"Emang cium versi kamu yang gimana?" Sena mencium pipi kanan Dirga.
"Oh jadi itu cium versi kamu, kalau cium yang versi mas kayak gimana?" Sena tersenyum devil ia tahu Dirga sedang menjebaknya.
__ADS_1
"Ih parah kamu mah, modusnya udah nyampe level 7." Dirga terbahak mendengarnya sejak kapan modus ada tingkatannya.
"Malah ketawa?" Sena terbengong melihat Dirga yang tertawa.
"Kamu bisa enggak sih sehari aja jangan nge-gemesin," ujarnya menangkup wajah Sena.
"Aku dari lahir emang udah di takdir kan se-menggemaskan ini mas," ujarnya dengan begitu percaya diri.
"Udah sana cepetan pesanin makanannya, mas mau aku mati kelaparan disini?" Sena menunjukkan pupil eyes-nya.
"Ok iya, bentar ya sayang." Dirga menciumnya.
Sena merasa senang karena bisa melihat Dirga tertawa seperti itu, pria itu memang sikapnya terkadang sering kali berubah-ubah tapi entah kenapa selalu di buat nyaman saat bersamanya.
***
Dirga memeluk Sena dari belakang membuat Sena yang sedang memainkan ponselnya langsung mengalihkan pandangannya pada pria itu.
"Kenapa?"
"Kamu bilang katanya mau ngasih sesuatu sama mas?" Dirga berbisik tepat di telinga Sena ia juga mengigit kecil telinga Sena membuat sang empu merasa geli.
Sena menatapnya balik ia seketika naik keatas pangkuan Dirga membuat sang empu merasa terkejut akan aksinya.
"Yakin mau sesuatu itu?" Dirga mengangguk.
"Yah udah jam 2 mas kan harus ada rapatkan sama kliennya mas," Dirga menggeleng.
"Jadwal rapatnya diundur besok pagi,"
"Kok tiba-tiba diundur sih kenapa?" Dirga menciuminya.
"Kenapa? Karena sesuatu itu," Sena memukul dada Dirga membuat sang empu terkekeh di buatnya.
"Sen.. " Sena menciumi leher jenjang Dirga tak lupa ia memberikan kissmark untuk lelakinya.
Sena menarik kerah kemeja Dirga berciuman se-intens mungkin dengannya, tangannya mengelus-elus dada bidang Dirga. Sekarang, Dirga tahu apa yang di maksud sesuatu itu.
"Kamu lagi menstruasi sayang?" Sena menutup bibir Dirga menyuruhnya untuk diam, Sena tahu betul Dirga sudah menahannya dari semalaman.
Ia membuka kencing kemeja Dirga satu persatu menunjukkan roti sobek lelakinya, seketika ia menciumi tubuh lelakinya. Dirga sedang berpikir keras sejak kapan wanitanya jadi pandai menggoda seperti ini.
Dirga terkejut saat Sena membuka sabuk celananya dan membuka resletingnya mengeluarkan kepemilikannya yang sudah menegak sempurna. Remasan dan Elusan tangannya berhasil membuat Dirga memejamkan matanya.
***
Sena terus menciumi dan menjilati kepemilikan lelakinya berhasil membuat Dirga memejamkan matanya menikmati setiap permainan wanitanya.
"Kamu suka sayang?" Dirga mengangguk.
"Uh! Teruskan sayang,"
Sena tersenyum senang mendengarnya ia baru hanya dengan memakainya dengan tangan dan mulutnya saja sudah berhasil membuat lelakinya keenakan, ternyata ia tidak sia-sia membaca buku novel yang di berikan Resti jadi ia bisa mempraktekkannya pada Dirga.
Dirga mengeluarkan pelepasannya di mulut wanitanya ia mengusap wajahnya dan menarik Sena yang berada di bawahnya untuk berciuman kembali dengannya.
"Sejak kapan kamu jadi pandai seperti ini huh?" Sena terkekeh mendengarnya.
"Sejak mengenalmu," Dirga mencium bibirnya kembali.
Suara ketukan dari pintunya membuyarkan pemikiran panas keduanya, Sena secepatnya berdiri dan ia segera berlari ke kamar mandi untuk membasuh wajah dan mulutnya.
Dirga membuka pintunya ternyata Kahfi asisten pribadinya, memberikan makanan yang ia pesankan barusan. Kahfi menatap bosnya itu dengan tatapan aneh karena resleting celananya belum sempat ia tutup sempurna.
"Ngapain kamu ngeliatin saya kayak gitu,"
__ADS_1
"Maaf Pak, saya permisi kembali ke pekerjaan saya." Dirga mengangguk dan mengunci pintu ruangannya dengan rapat.
Dirga meletakkan makanannya di meja dan Sena telah duduk di sofa dengan tenang.
"Wah makannya datang tepat waktu,"
"Mas sana deh ke kamar mandi, cuci muka dulu." Dirga mengangguk.
Di dalam kamar mandi ia membasuh wajahnya dan menatap dirinya, barusan itu benar-benar sangat nikmat biasanya ia melakukan dengan sendiri dan sekarang ia baru mengetahui ternyata oral sx sangat senikmat ini.
Tapi ia bersyukur akhirnya libido nya terpenuhi sudah.
"Mas lama banget sih, ayo cepetan kita makan."
"Iya bentar," teriaknya dari dalam.
Sena sudah melahap ayam bakarnya ia sudah kelaparan apalagi tadi dengan aktivitas panasnya semakin menambah kelaparan nya dan bersyukur makanan datang tepat waktu.
"Pelan-pelan aja makannya," katanya seraya ikut duduk makan di samping Sena.
"Mas kelamaan, jangan bilang mas di dalam sana.. "
"Jangan berpikiran yang aneh-aneh," Sena tersenyum devil padahal ia hanya mengerjai Dirga.
Dirga ikut melahap ayam bakar miliknya dan selepas makan mereka kembali duduk bermesraan seperti sekarang Sena yang duduk di pangkuan Dirga seraya mengalungkan tangannya.
"Mas,"
"Kenapa?"
"Aku boleh enggak minta sesuatu sama kamu?"
"Kamu mau minta apa, bilang aja. Mau satu paket Make Up, Skincare, atau kamu mau mas beliin mobil?" Sena berdecak mendengarnya.
"No! Aku enggak minta hal itu," Dirga memeluknya gemas.
"Terus kamu minta apa?" Sena mencium pipinya.
"Nanti malam aku tuh pengen makan capcay udang yang kayak kemarin itu lho tapi jangan mba Sarah yang bikin, buatan mba Sarah keasinan. Bi Mina aja yang buat,"
"Terus.. "
"Ya mas mau kan nyuruh bi Mina buatin capcay udang buat aku, soalnya kalau aku yang nyuruh nanti mba Sarah ngomel lagi." Dirga terkekeh, sekecil itu permintaan Sena tapi wanitanya sampai merajuk bak anak kecil pada bapaknya.
"Ya udah iya nanti mas suruh bi Mina buat bikinin capcay udang tiap hari buat kamu,"
"Buat mas juga dong, emang mas enggak mau apa?"
"Enggak!"
"Kenapa?" Sena menatapnya polos.
"Mas maunya kamu," Dirga menyambar bibir wanitanya.
Sena menggelengkan kepalanya, jika di pikir-pikir jadi Dirga ternyata enak juga, tidak perlu pusing memikirkan pekerjaannya lihat saja sekarang dari tadi mereka terus berada di dalam ruangan dan Dirga mengundurkan jadwal rapatnya.
Sena benar-benar iri di buatnya tapi Dirga seperti ini juga karena dirinya, mungkin jika Sena tidak ada di kantornya pria itu pasti akan fokus pada pekerjaannya. Tapi, Sena juga merasa senang ternyata sebegitu cintanya kah Dirga padanya atau Jangan-jangan Dirga hanya sedang terobsesi padanya saja.
Entah Sena bingung memikirkannya.
TO BE CONTINUED..
Minta Vote, Like dan Komentarnya ya prend karena dukungan dari kalian sangat membantu agar semangat author kembali membara :)
Updatenya segini dulu ya, author lagi enggak enak badan sebenarnya jadi buat mikir aja kepala pusing banget prend :D
__ADS_1