
Satu minggu kemudian..
Setelah memutuskan membawa Sena ke rumah barunya Dirga jadi harus bolak-balik antara ke rumahnya yang lama dengan yang sekarang, dia juga harus sering mencari alasan baru kenapa ia tak pulang seharian. Dan saat ini, dia baru saja memasuki kamarnya tapi ia kembali di suguhkan melihat dengan jelas wanitanya tengah asik mengobrol via telepon dengan seseorang yang pastinya sangat Dirga kenal.
Kesabaran Dirga sudah habis, sudah cukup dia memilih untuk diam dan memberikan ketenangan untuk Sena tapi kali ini wanita itu benar-benar tidak menganggap keberadaannya sama sekali.
"Hah.. Mas kamu apa-apaan sih!"
Sena kesal dengan tindakan Dirga yang merebut paksa ponselnya dan langsung memutuskan sambungan teleponnya.
"Kamu yang apa-apaan hah! Satu minggu ini aku coba ngertiin kamu tapi kamu bahkan enggak anggap keberadaan aku sama sekali disini," Sena memalingkan wajahnya.
"Kamu sadar enggak sih mas yang bawa paksa aku kesini siapa? Kamu kan! Jadi, kalau kamu marah karena sikap aku sekarang yang enggak perduli sama keberadaan kamu disini, kamu harusnya sadar dari awal aku menolak untuk pulang sama kamu." tegas Sena dia pun sama sudah sama kesalnya pada sikap Dirga.
"Aku ini suami kamu Sena! Sudah seharusnya kamu menuruti perkataan aku,"
"AKU ENGGAK PERNAH MINTA BUAT KAMU NIKAHIN AKU MAS!"
__ADS_1
Plak! Dirga menampar wajah Sena dengan keras berhasil membuat sang empu terkejut akan aksi Dirga barusan.
Dirga menatap telapak tangannya yang secara tidak sengaja menampar wanitanya, "Aku minta maaf sayang, maaf aku benar-benar enggak bermaksud buat nampar kamu," sentuhan tangannya di tepis oleh Sena.
Sena memegangi wajahnya yang terasa sakit akan tamparan keras dari suaminya sendiri.
"AKU BENCI SAMA KAMU!"
"LEBIH BAIK KAMU KELUAR DARI KAMAR INI MAS, AKU ENGGAK MAU LIHAT MUKA KAMU!"
"AKU MINTA MAAF, AKU ENGGAK SENGAJA," Dirga memohon, dia benar-benar refleks melakukan hal bodoh itu barusan.
"Kamu jangan bicara seperti itu Sena, kamu lebih baik tampar muka aku aja, tampar aja."
"KELUAR MAS!" Dirga menyerah dan ia memilih untuk keluar, dia sadar dia salah.
Setelah Dirga benar-benar keluar sedetik itu juga Sena menangis tak menyangka jika Dirga akan bersikap kasar seperti itu padanya.
__ADS_1
***
Dirga pun sama matanya memerah ia menahan tangisannya, dia masih ingat jelas tangan kanan sialannya ini sudah berani menampar wanitanya sendiri.
"Maaf.. Aku minta maaf," katanya seraya menjambak frustasi rambutnya.
Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam dan dari tadi sore Sena masih belum juga keluar dari kamarnya padahal Dirga sudah menyeluruh pembantunya untuk menyiapkan makanan untuk mereka.
"Sena.. Sayang tolong kamu buka pintunya dari tadi sore kamu belum makan, kamu buka pintunya ya kamu harus makan dulu," Dirga mengetuk pintu kamarnya tapi tidak ada respon apapun dari dalam.
"Sayang aku minta maaf, tadi itu aku enggak sengaja, aku menyesal udah ngelakuin itu aku minta maaf sama kamu,"
"AKU ENGGAK LAPAR DAN AKU ENGGAK MAU DI GANGGU!" teriak Sena dari dalam berhasil membuat Dirga semakin merasa gusar pada dirinya sendiri.
Kalau tahu begini keadaannya lebih baik dari awal Dirga memilih untuk terus diam dengan begitu ia bisa tidur, makan, duduk berdua dengan Sena walaupun terus di acuhkan dari pada dengan sekarang keadaannya malah tambah semakin berantakan.
"Aku minta maaf sayang dan iya aku janji enggak akan ganggu kamu," kata Dirga yang memilih untuk masuk ke dalam kamar sebelahnya.
__ADS_1
Dirga pun sudah lelah memang sudah seharusnya dia mengalah dan mengikuti apa yang diinginkan Sena kepadanya, dan ia pun sadar jika disini yang membutuhkan keberadaan Sena adalah dirinya bukan karena keduanya saling menginginkan. Ya, Dirga harus sadar sekarang selama ini hanya dia yang terus mengikat Sena untuk terus berada di sampingnya.
TBC