
Sena pulang bersama Dirga hal itu membuat Renata bertanya pada putranya karena sampai pulang tengah larut malam bersama Sena.
"Jam segini kamu baru pulang, habis dari mana kamu Dirga?"
"Di kantor banyak kerjaan Ma,"
"Mama tahu pekerjaan kamu itu banyak tapi kamu harus ingat Dirga ada istri yang nungguin kamu di rumah,"
"Dan sekarang kamu malah pulang bersama Sena,"
Bersyukur karena Sena sudah masuk ke dalam kamarnya lebih dulu.
"Aku pulang bareng Sena karena tadi enggak sengaja ketemu sama dia yang lagi nungguin bus di halte," ujarnya beralibi.
"Lagian Sena itu kok beda banget sih sama Maudy, mama jadi bingung memangnya ada ya sekolah pulang sampai larut malam,"
"Ma, Sena itu kerja dia punya kerja sampingan. Udah ya ma Dirga capek pengen istirahat,"
Dirga lebih memilih masuk ke kamarnya di bandingkan mendengarkan omongan ibunya, kepalanya sudah sangat penat akan pekerjaannya yang begitu padat. Dan sekarang, saat masuk ke dalam kamarnya ia sudah mendapati Sarah yang sudah menunggunya.
Bosan sekali rasanya melihat wajah Sarah andai Sena yang ada di kamarnya mungkin Dirga akan merasa lebih senang.
"Aku udah siapin air hangat buat kamu mandi mas, oh iya mas kalau kamu mau makan disini nanti aku bawain."
"Enggak perlu, aku udah makan tadi sama Sena." jawabnya seraya masuk ke dalam kamar mandi.
Mendengar nama wanita lain berhasil membuat Sarah merasa kesal, Dirga lebih memilih makan bersama Sena di bandingkan makan bersamanya.
***
Pelukan itu terasa hangat di balik selimut, dua insan anak manusia masih juga belum terlelap dari tidurnya keduanya sama-sama naked, masih menikmati sisa percintaan mereka. Dirga berhasil menyelinap masuk ke dalam kamar wanitanya malam ini.
"Mas,"
"Iya kenapa sayang?" Dirga menatapnya seraya memainkan anak rambut wanitanya.
__ADS_1
"Papa minta aku buat pulang ke Aceh," Sena mengigit bibir bawahnya ia takut akan respon Dirga.
"Apa Papa kamu minta kamu buat pulang, kenapa?"
"Papa udah tau tentang hubungan kita," Dirga di buat shock mendengarnya.
Sena mengangguk ia menenggelamkan kepalanya di dada bidang Dirga yang tak mengenakkan sehelai kain apapun.
"Aku bingung mas, harus bagaimana?"
"Jangan bingung biar nanti aku yang menyelesaikan semuanya, kamu tetap disini enggak perlu pulang." Dirga memeluknya erat.
"Tapi aku ada niatan untuk pulang mas,"
"Kamu jangan pulang tetap disini!" Dirga menaikan nada suaranya satu oktaf.
Dirga tidak akan membiarkan Sena pergi dari kehidupannya bagaimana pun caranya ia akan tetap mempertahankan Sena disisinya.
"Mas tapi aku enggak mungkin ngelawan perintah Papa,"
"Mendingan kita tidur," Dirga memeluknya, menyelimuti keduanya sungguh Dirga tak ingin mendengarkan apapun yang di bicarakan Sena saat ini.
Sena masih juga belum tertidur ia masih memikirkan apa yang di inginkan ayahnya, tapi Dirga juga pasti akan sangat marah jika dia pulang begitu saja. Kepalanya terasa penat memikirkan semua hal itu.
***
"Sena kamu kan masih sekolah lebih baik jangan bekerja dulu, nanti kamu repot lagi bagi waktu untuk kerja dan sekolah." ujar Renata pada saat mereka sedang berada di meja makan.
"Tapi selama ini Sena bisa kok tante bagi waktu antara kerja dan sekolah," jawab Sena.
"Kamu ini kalau di kasih tau Mama jangan jawab terus, dengerin aja apa yang di nasehatin," Sarah bersuara menyela pembicaraan.
Dirga berdeham menyenggol kaki Sarah yang berada di bawah, ia menatapnya berharap Sarah tak ikut campur dalam pembicaraan antara Sena dan ibunya. Dirga yang tahu betul Sarah hanya ikut campur untuk mencari perhatian dari Renata.
"Hoek.. " Seketika perut Sena terasa mual.
__ADS_1
"Maaf aku mau toilet dulu," ia berlari ke wastafel dapur memuntahkan isi perutnya.
"Kenapa atuh neng?" tanya bi Mina yang melihat Sena muntah-muntah, wajahnya pun terlihat pucat.
"Enggak apa-apa kok bi, kayaknya lagi enggak enak badan deh."
Badannya terasa lemas dan kepalanya juga pusing sepertinya untuk hari ini, Sena izin tidak masuk kelas ia khawatir jika di badannya paksakan keadaannya tambah tidak membaik.
Siang itu Dirga pulang ke rumah lebih awal dari biasanya keadaannya cukup bagus Renata dan Sarah sedang keluar bersama jadi ia punya kesempatan untuk menyelinap masuk ke kamar Sena, ia tahu betul wanitanya saat ini sedang merasa tidak enak badan.
"Mas kamu ngapain disini? Bukannya kamu harusnya ada kantor sekarang,"
"Aku pulang khawatir sama keadaan kamu," Dirga menyentuh wajah Sena membuat sang empu sedikit mundur karena keberadaan mereka saat ini bukan berada di kamar tapi ada di depan kamar Sena.
"Aku baik-baik aja mas,"
"Wajah kamu pucat kayak gini bilang baik, mending kita ke rumah sakit periksa kesehatan kamu." Sena menggeleng ia tidak mau.
Sena tidak suka dengan bau rumah sakit yang menurutinya hanya akan membuat kepalanya pusing.
"Udah ya enggak perlu ke rumah sakit lagian juga badan aku udah terasa mendingan,"
"Kamu yakin?" Sena mengangguk menarik Dirga untuk ikut masuk ke dalam kamarnya.
"Ayo masuk nanti ada yang liat lagi kita disini," Dirga senang karena diajak masuk ke dalam kamarnya.
Sampainya di dalam kamar Dirga langsung memeluk tubuh Sena dari belakang, Dirga paling suka saat mereka yang berdua seperti ini banyak hal yang nanti akan mereka lakukan bersama.
"Mas ini masih siang.. "
"Mau siang, pagi ataupun malam sekalipun emangnya enggak boleh kalau kita berduaan kayak gini,"
"Iya boleh iya," Sena mencium pipi Dirga membuat sang empu membalas ciumannya pada bibir manis wanitanya.
TBC.
__ADS_1
Di harap memberikan Like, Vote dan Komentarnya ya prend memberikan keempat poin itu sangat gratis :)