
Entah kenapa Dirga merasa perasannya begitu terasa nyaman saat dirinya bersama gadis kecil itu--Sena. Tidak biasanya, ia merasa nyaman dengan perempuan selain dengan seseorang di masa lalunya dan baru kali ini ia merasakan kenyamanan itu kembali.
Dirga sendiri tidak tau bagaimana mendeskripsikan perasaannya hanya saja entah mengapa perasaannya selalu tidak merasa tega jika melihat Sena berada dalam situasi yang tidak baik, rasanya ia ingin selalu menjaganya, di matanya dia gadis yang pemberani tapi cukup lemah menghadapi situasi.
Dirga mengelap secuil bawang goreng yang menempel di sudut bibir Sena, ia menyekanya dengan jari jempolnya.
"Kalau makan pelan-pelan sampai belepotan gini," Sena langsung mundur akan jarak keduanya yang begitu dekat ia langsung mengambil tisu membersihkan bibirnya sendiri.
Selesai makan, mereka berdua langsung pulang ke rumah beruntung Sarah dan Maudy juga belum tiba di rumah, keduanya masih bersikap saling acuh begitupun juga dengan Dirga yang langsung memasuki kamarnya tanpa membalas ucapan terimakasih dari Sena.
"Dasar es batu diajak ngomong malah pergi gitu aja, kok bisa sih mba Sarah nikah sama manusia kulkas kayak dia."
Seketika Sena terdiam ketika ia menyadari kalimatnya barusan pasalnya selama ini ia sering memperhatikan Dirga dan Sarah yang tidak satu kamar. Tapi, Sena tidak ingin ikut campur dalam hal tersebut meskipun ia sedikit penasaran.
***
Keesokan harinya Sena yang sudah berada di kelasnya seketika ia melihat seorang cewek yang baru ia lihat duduk di belakang bangkunya tak lupa ia tersenyum seraya mengulurkan tangannya mengajaknya berkenalan.
"Hay lo anak baru ya disini kenalin gue Resti," ujar seseorang yang baru saja di ketahui namanya Resti.
"Gue Sena, lo juga anak baru disini?"
"Bukan, gue udah lama sekolah disini."
"Oh gitu tapi kok gue baru ngeliat ya,"
"Iya ada masalah dikit lah," Sena menanggapinya dengan ber-oh ria.
Flo yang baru saja datang dia langsung heboh menyapa Resti dan ternyata mereka berdua memang berteman hanya saja Resti yang sedikit mempunyai masalah sampai mengakibatkan ia harus terkena hukuman yaitu di skors selama dua minggu, bukannya sampai dua minggu ia malah tidak berangkat sampai satu bulan dengan santainya ia berangkat sekolah tanpa rasa beban.
"Lo gila ya Res di skors dua minggu malah enggak berangkat satu bulan," kata Flo.
"Suruh siapa nge-skors gue,"
Sena yang mendengar ia hanya bisa diam tertegun dalam pikirannya sekarang apakah Resti termasuk murid nakal di sekolah.
__ADS_1
"Kalian udah kenalan belum?" tanya Flo.
"Udah tadi barusan ya kan Sena,"
"Iya udah kok Flo,"
"Syukurlah, sekarang kita nambah teman ya Res,"
Resti tersenyum dan baru saja guru BK memasuki kelas mereka langsung memanggil Resti menghadap ke ruang guru karena ulahnya yang sudah tidak masuk sekolah selama satu bulan.
Sena merasa kasihan juga dengan Flo baru saja Resti masuk sekolah tapi sudah kena teguran kembali tapi mau bagaimana lagi itu perbuatannya sendiri.
Setelah selesai di sidang di ruang guru beruntung Resti masih di beri kesempatan kembali dan saat ini mereka sedang berada di kantin menikmati jajanan mereka tapi beberapa murid membicarakan Resti.
"Kok bisa sih orang kayak dia masih di kasih kesempatan sekolah disini,"
"Tau! profesinya aja udah bejat kayak gitu masih aja layak sekolah di sekolahan kita,"
Sena yang mendengar di buat bingung apalagi saat beberapa murid mengatakan profesi bejat memangnya profesi apa yang di kerjakan Resti. Tapi saat Sena melihat Resti dia terlihat sangat santai dan tidak memperdulikan ucapan beberapa orang yang membicarakannya.
"Lo pasti bingung ya kenapa mereka ngomongin gue?" tanya Resti yang berhasil membuat Sena menganggukkan kepalanya.
Beberapa jam kemudian jam pelajaran sekolah telah usai dan saatnya mereka untuk pulang Sena bersama kedua temannya yang sedang berjalan di Koridor sekolah bertemu Angel dan kedua temannya Chika dan Rinda.
"OMG ternyata si anak baru temenan sama lo*te," kata Angel.
"Jangan-jangan mereka satu profesi lagi ngel," sahut Chika.
Mereka tidak ada satupun yang meladeni ucapan Angel bersama kedua temannya mereka berjalan begitu saja tanpa memperdulikan ucapan mereka sama sekali.
"Jadi lo*te aja belagu!"
"Ups! Lo*te hahaha"
Sena benar-benar di buat bingung apalagi saat Angel mengucapkan kalimat itu barusan membuatnya semakin penasaran sebenarnya apa profesi Resti sampai-sampai ia di jadikan bahan pembicaraan satu sekolah.
__ADS_1
***
Mereka berpisah di halte bus disini seperti biasa Sena sudah di jemput oleh seseorang tapi saat ia melihat isi dalam mobilnya ternyata bukan Dirga melainkan supir pribadi Dirga yang menjemputnya.
"Lho kok tumben bukan mas Dirga, orangnya kemana pak?"
"Pak Dirga hari ini ada meeting penting non jadi beliau menyuruh saya untuk menjemput non Sena,"
Sena terdiam di dalam mobil pikirannya masih memikirkan Resti teman barunya itu yang jadi pusat hujatan semua murid tapi raut wajahnya tidak pernah merasa kesal akan hujatan yang di layangkan padanya itu hal yang membuat Sena kagum, Resti mampu mengontrol dirinya.
"Pak, mas Dirga meeting selesai sampai jam berapa?"
"Saya kurang tau non,"
"Kalau gitu tolong anterin saya ke suatu tempat dulu ya pak,"
"Baik non,"
Sena mampir ke sebuah warung Mie yang kemarin ia kunjungi bersama Dirga ia membeli dua mie Yamin di bungkus hari ini ia sengaja ingin berkunjung ke kantor Dirga karena ia penasaran seperti apa dalamnya sebuah perusahaan.
Mobilnya memasuki halaman parkiran dan supir pribadi Dirga hanya bisa mengantarkannya sampai depan karena ia tidak mempunyai wewenang lebih dalam peraturan perusahaan.
Saat Sena memasuki kantornya hawa dingin AC langsung terasa di kulitnya langkahnya langsung terhenti saat ia menghadap Resepsionis.
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya ingin bertemu dengan mas Dirga, ada kan?"
"Pak Dirga iya ada beliau sedang ada meeting, maaf sebelumnya apa mba sudah ada janji dengan pak Dirga untuk bertemu?"
"Belum ada sih,"
"Maaf mba disini peraturannya harus ada izin terlebih dahulu, jika tidak ada maaf kami tidak bisa memberikan izin mba untuk bertemu dengan pak Dirga,"
Entah mengapa Sena merasa kesal karena tidak dapat bertemu dengan Dirga sampai akhirnya ia hanya bisa menitipkan makanan yang barusan ia beli untuk Dirga kepada Resepsionis. Sena memilih pulang sendiri tanpa diantar supir pribadi kantor Dirga, sesampainya di rumah ia langsung memakan mie Yamin miliknya harapannya bisa makan siang bersama berakhir dengan makan sendirian di rumah.
__ADS_1
Sena sendiri bingung dengan perasaannya sekarang, mengapa ia harus merasa kesal pasalnya Dirga adalah kakak iparnya bukan seseorang yang spesial baginya tapi cara perhatian Dirga berhasil membuat seorang Sena merasakan kenyamanan tersendiri, entah rasa nyaman itu diartikan sebagai apa. Mungkin sebagai seorang kakak laki-laki kepada adik perempuannya.
TO BE CONTINUED..