
Saat berada di perpustakaan Sena yang menemani Flo berniat meminjam buku di sana ia bertemu dengan Juan kembali, sebenarnya Sena mera risih pasalnya Juan selalu mencari cela untuk berbicara dengannya meskipun Sena memang mengiyakan pertemanan dengan Juan.
Dan feeling nya benar saja Juan menghampirinya.
"Lo disini mau pinjam buku?"
"Enggak, ini nemenin Flo katanya dia mau pinjam buku." Flo tersenyum ramah saat Sena menunjuknya.
"Oh gitu,"
"Lo sendiri mau pinjem buku di perpustakaan juga?" tanya Sena berbasa-basi.
"Iya, btw habis pulang sekolah lo sibuk enggak? Kalau enggak niatannya gue mau ngajakin lo lihat pameran lukisan di tebet,"
"Ya, sori Juan gue udah ada janji sama seseorang,"
"Seseorang?"
"Iya, Eh Flo lo udah kan pinjam bukunya?"
"Udah,"
"Ya udah ayo balik ke kelas bentar lagi kan udah mau masuk,"
"Juan kita duluan ya," Juan mengangguk.
Juan merasa terpukul akan penolakan dari Sena ia juga merasa sepertinya Sena tidak terlalu menyukainya, bahkan saat ia menawarkan dirinya sebagai teman tapi tetap saja sikapnya terlalu dingin.
***
Saat berjalan di Koridor bersama Flo mereka tak sengaja bertemu dengan Angel beserta kedua temannya yang sekarang tengah mencibirnya.
"Temenan sama lo*te jadi ikut-ikutan suka tebar-tebar pesona sama cowok,"
"Ih najis munafik banget ya," sambung Rinda dan Chika bersamaan.
Sena berhenti tepat di hadapan mereka ia benar-benar kesal dengan ucapan kedua genk tidak waras itu.
"Maksud kalian apa?"
"Eh girls ada yang merasa tersindir nih sama ucapan gue barusan," ujar Angel seraya mengejek.
"Kenapa lo ngerasa tersindir?"
"Gue enggak suka ya sama orang yang cuma beraninya kebanyakan ngebacot di belakang,"
__ADS_1
"Kenapa lo enggak suka sama bacotan gue tapi emang itu kenyataannya kan, lo bilang sendiri sama gue kalau lo enggak suka sama Juan tapi nyatanya lo sering jalan berdua sama Juan kan,"
"Huh.. munafik!" timpal Chika.
"Jaga ya ucapan lo,"
Baru saja Sena hendak melayangkan pukulan tapi keburu di hentikan oleh Flo, Flo langsung mengajak Sena untuk pergi dan berhenti meladeni Angel. Flo tahu betul Angel hanya sedang memancing Sena untuk melawannya dan pasti akan berujung perkelahian.
Sena sudah berada di kelasnya dan Resti yang baru saja mendengar cerita dari Flo ia langsung meminta maaf kepada Sena jika bukan karena ulahnya yang kemarin mengiyakan ajakan Juan, mungkin ceritanya tidak akan seperti ini.
"Lo enggak salah kok Res, emang salah gue yang kurang tegas sama diri gue sendiri." Sena sadar harusnya ia tidak terus-terusan merasa tak enak hati, harusnya ia lebih tegas jika nanti Juan mendekatinya kembali.
***
Jam pulang sekolah Sena sudah bersiap untuk pulang ia tak sengaja saat di lapangan berpapasan dengan Juan ia langsung menghindari kontak mata dengannya.
"Sena,"
Juan memanggilnya ia tahu betul suaranya, seketika Sena buru-buru keluar ke arah gerbang sekolah. Di sana ia sudah melihat Dirga yang bersandar di samping mobilnya seraya melambaikan tangannya Sena langsung berjalan cepat ke arahnya tanpa berbasa-basi ia langsung mengajak Dirga secepatnya masuk ke mobil.
Dirga yang melihat perubahan Sena ia senang melihatnya.
"Kamu pasti belum makan siang kan? Kita makan dulu ya,"
Saat mobilnya berjalan, Sena menghembuskan nafas panjangnya beruntung Dirga datang tepat waktu jika tidak entah harus bagaimana nanti ia menolak ajakan Juan. Sepertinya, Juan adalah salah satu manusia yang harus ia hindari.
Saking terlalu bergulat dengan batinnya sampai ia baru sadar Dirga menatapnya begitu intens.
"Mas Dirga ngapain sih ngeliatin aku kayak gitu banget,"
"Habisnya kamu aneh, kayak orang habis ngeliat setan." ujarnya seraya terkekeh.
"Mas tolong ya semalam aku baru aja maafin mas Dirga jadi jangan bikin mood aku tambah buruk deh,"
"Iya sori."
Tapi tunggu, ini untuk pertama kalinya Sena melihat Dirga tertawa ya walaupun tidak sampai terbahak-bahak, perasaan kemarin-kemarin ia rasa Dirga seperti pria kulkas yang selalu berbicara datar.
Mereka sampai di cafe sejenak mengisi perut begitu juga dengan Dirga yang menikmati kopi panasnya.
"Enak nasi gorengnya?" tanyanya dan Sena manggut-manggut.
"Kamu enggak berniat nawarin saya?"
"Kenapa enggak dari tadi ikutan pesan aja, malah pesan kopi." katanya cemberut merasa terganggu karena ia sedang menikmati nasi gorengnya tapi karena Sena kasihan ia menodongkan satu sendok nasi goreng kepadanya dan Dirga menerima suapannya.
__ADS_1
"Udah ya satu sendok aja," Dirga manggut-manggut seraya menikmati nasi goreng di mulutnya.
Selesai menghabiskan nasi gorengnya, Dirga memesankan nya satu cup cake untuk dessertnya. Dan lagi-lagi selalu habis di makan Sena.
Di sudut sana seseorang tengah memperhatikan keduanya, mereka langsung saling menatap dan mantap untuk menghampiri keduanya.
"Hay Sena.. Hello Kak" sapa mereka lembut yang langsung berhasil membuat Sena terkejut.
"Kalian?" katanya seraya berdiri, Dirga juga ikut berdiri di sampingnya.
"Sena ini siapa lo tadi kita perhatiin romantis banget," ujarnya.
Sena gelagapan ia berpikir keras untuk menjawab pertanyaannya Angel dan buntutnya.
"Dia.. dia pacar gue," katanya seraya merangkul tangan Dirga sontak berhasil membuat mata Dirga menatapnya.
"Iya kan mas?" Sena menatap kembali mencoba memberi kode agar Dirga mengerti.
"I-iya saya pacarnya Sena."
"Oh jadi kalian pacaran, sori ya Sen atas kejadian di sekolah tadi kalau aja lo ngasih tau ke kita kalau lo udah punya pacar," ujarnya berpura-pura bersikap baik.
"Ternyata tipe lo suka yang lebih dewasa ya sen, pilihan yang tepat," timpal Chika.
Sena hanya menanggapinya dengan cengengesan ia bingung harus menjawab apa lagi setidaknya hanya inilah yang harus ia lakukan, agar mereka tidak lagi mengganggunya.
"Oh ya udah sori ya kita udah ganggu kalian,"
"Have a fun ya Sena,"
Saat melihat mereka bertiga sudah benar-benar keluar dari dalam cafe Sena menghembuskan nafas leganya. Tapi, sekarang Dirga sedang menatapnya dengan tatapan penuh penjelasan darinya.
"Sori mas, aku bisa jelasin semuanya."
Dirga mendengarkan semua penjelasan Sena dan entah mengapa ia jadi merasa kasihan pasalnya apa yang Sena ceritakan itu sama saja dengan tindak pembullyan.
"Mereka sering gangguin kamu,"
"Enggak sering sih, tapi ya udahlah enggak usah di bahas. Oh iya, ini udah jam 2 lebih lho mas."
"Mas Dirga enggak balik ke kantor?"
Dirga melihat jam tangannya, terlalu menghabiskan waktunya sampai ia lupa banyak pekerjaan kantor yang belum ia selesaikan tapi Dirga harus terlebih dahulu mengantarkan Sena pulang.
TO BE CONTINUED..
__ADS_1