
"Sena mana dia enggak ikut sarapan?" tanya Renata yang melihat Dirga ikut bergabung di meja makan.
"Dia masih ngantuk," jawabnya yang sama juga masih merasakan kantuk.
"Kamu keliatannya kurang tidur banget, udah mandi belum sih kamu?" tanya Renata kembali yang mengamati wajah kusam putranya.
"Semalam Sena ngidam minta makan Mie Yamin pas udah aku beliin dia malah bilangnya ngantuk," ujarnya yang merasakan lelah di tubuhnya.
"Maklum perempuan hamil emang suka begitu moodnya, kamu harus ekstra lebih sabar lagi menghadapinya dan ingat jangan pakai emosi," Dirga mengangguk.
Ya, maklum saja mood perempuan hamil memang cepat sekali berubah-ubah apalagi Sena yang termasuk nya perempuan yang baru saja hamil di usia remajanya.
"Kemarin Sarah dan Maudy berpamitan sama kami," ujar Bastian dan Dirga menganggukkan kepalanya tanpa bertanya balik.
"Kamu enggak mau nanya kenapa mereka pamit pergi dari rumah atau bagaimana gitu," tanya Renata.
"Mama kan udah tau Sarah itu bukan siapa-siapa aku jadi untuk apa lagi sih aku bertanya," sahut Dirga.
Renata tak suka mendengar jawaban dari putranya itu karena bagaimana pun Sarah sudah pernah ia anggap seperti menantunya sendiri.
"Kamu enggak boleh bersikap acuh seperti itu sama Sarah karena bagaimana pun Sarah sudah mama anggap seperti menantu mama sendiri, selama ini juga dia selalu bersikap sangat baik sama mama dan papa." ujarnya.
Dirga memaklumi setiap perkataan Renata karena bagaimana pun akting Sarah sebagai seorang menantu cukup Dirga acungi jempol karena sudah berhasil menaklukkan hati kedua orang tuanya.
***
Mereka sampai di tanah kosong yaitu tempat untuk di jadikan proyek pembangunan vila yang akan di garap oleh perusahaan Dirga, ia baru saja menapaki kakinya di tempat proyek tapi ia tak sengaja di pertemukan dengan Sarah dan juga atasannya dari cabang perusahaan Dirga juga yang sedang ikut berkunjung.
"Ga, itu bukannya Sarah ya kok dia bisa ada disini?" tanya Rania yang sekarang ikut menemani Dirga.
"Proyek ini akan dialihkan pengurusannya ke kantor cabang kita yang di sebelah dan Sarah bekerja di sana sebagai sekretaris Dion pimpinan di kantor cabang itu jadi wajar saja jika dia ada disini," ujarnya.
Sarah yang melihat kedatangan Dirga dia langsung merapikan tatanan rambutnya meskipun sekarang dia sudah tahu jika Dirga adalah suami dari Sena tapi entah mengapa perasaannya masih mengharapkan yang lebih dari pria itu.
__ADS_1
"Selamat siang Pak Dirga," kata Dion dengan hormat ketika ia melihat atasannya menghampirinya, tapi sayangnya atasannya itu terlalu to the point tanpa membalas ucapannya sama sekali.
"Jadi bagaimana, kamu sudah melihat tanah luas ini kan sudah siap untuk menjalankan proyek sebesar ini?" tanya Dirga pada Dion.
"Ya saya sangat siap Pak,"
"Baguslah saya senang mendengarnya, saya harap kamu bisa menangani proyek ini dengan baik ingat carikan pegawai bangunan yang berkualitas jangan asal-asalan lebih baik sedikit lama tapi berkualitas." ujarnya dengan tegas.
Dirga berbicara tanpa mengalihkan pandangannya dari juntaian luasnya tanah lahan kosong itu, ia bahkan tak berniat untuk melirik Sarah yang ada di samping dekat Dion.
"Ya sudah kalau begitu saya harus kembali ke kantor," kata Dirga yang berbalik berjalan terlebih dahulu ke mobilnya sedangkan Rania ia masih berdiri tak jauh dari jarak antara dirinya dan Sarah.
Melihat wajah kesal Sarah yang berhasil di acuhkan oleh Dirga berhasil membuat Rania senang bahkan sebelum melangkah pergi menyusul Dirga di mobilnya Rania tampak menyunggingkan senyumnya yang berhasil semakin membuat Sarah kesal melihatnya.
***
Bahkan saat di mobil sekarang pun giliran Rania yang di acuhkan oleh Dirga pria itu sibuk dengan ponselnya, mereka duduk di jok belakang dan ada supir pribadi kantor yang di depannya.
"Ga, kita makan dulu ya,"
"Makan di restoran biasa kita makan aja gimana,"
"Ya boleh," katanya yang tak sedikit pun mengalihkan pandangannya pada ponselnya.
"DIRGA AKU TUH LAGI NGOMONG SAMA KAMU TOLONG DONG HARGAI AKU," ucapannya barusan berhasil membuat Dirga menatapnya.
"Rani kamu kenapa sih, ini masih di jam kerja bisa enggak jangan bawa perasaan kamu saat lagi kerja," Rania mengerutkan dahinya mendengar jawaban Dirga barusan.
"Kalau mau ngomong ya ngomong aja, aku dengerin kok!" sambungnya.
Rania menatapnya sebal dia kesal dengan sikap Dirga yang sekarang sulit sekali untuk diatasi tidak seperti dulu, Dirga selalu mau mendengarkannya tapi yang sekarang Dirga selalu bersikap tidak perduli padanya.
Sebenarnya Dirga mengacuhkan Rania karena dia tengah meladeni chat dari Sena yang terus mengomelinya karena semalam tidak memakan makanan yang dia pesan, dan sekarang wanitanya itu memintanya untuk pulang lebih awal.
__ADS_1
"Ayo turun kita udah sampai di resto hati-hati nanti kejedot pintu mobil lagi," cercah Rania mengingat Dirga yang terus fokus pada ponselnya.
Dirga menggelengkan kepalanya melihat respon Rania sekarang, dia tahu Rania sedang merasa kesal padanya mau bagaimana lagi jika dia meladeni Rania itu artinya dia akan membuat Sena marah karena tidak merespon chat darinya.
"Kamu mau pesan apa ga?"
"Pasta," katanya.
Saat makanan telah tiba mereka makan dengan tenang tidak ada obrolan di antara mereka berdua, Rania sibuk menyantap makanannya begitu juga dengan Dirga yang sibuk dengan makanannya.
Melihat Dirga yang sedang makan dengan tenang dengan penuh hati-hati Rania memotret Dirga sang empu menatapnya merasakan ada sesuatu yang sedang Rania lakukan.
"Kamu foto aku ya?" Rania mengangguk.
"Hapus sekarang juga," katanya seraya hendak mengambil ponsel Rania tapi dengan sigap Rania menjauhkan ponselnya.
"RANIA HAPUS FOTONYA!" katanya dengan nada naik satu oktaf.
Karena sudah saking kesalnya Dirga langsung merebut paksa ponsel Rania dan menghapus beberapa foto dirinya, bahkan yang buat Dirga terkejut ada foto dirinya dengan Rania yang sedang berada di dalam mobil pintar sekali Rania memotretnya secara diam-diam seperti ini.
"Dirga jangan di hapus semua, sekali-kali kan aku fotoin kamu lagi biar estetik gitu,"
"Kamu tahukan Rania dari dulu aku enggak suka yang namanya paparazi," Dirga mengembalikan ponsel Rania setelah berhasil menghapus foto-fotonya.
Ya, Rania tahu Dirga dulu tidak suka di foto tapi dulu Dirga tidak pernah setajam ini menatapnya hanya karena ia memotret nya.
"Terus kamu anggap aku paparazi gitu ga? Perasaan dulu kamu enggak sedingin ini sama aku setelah kamu kenal dan menikah sama dia kamu jadi bersikap kayak gini sama aku," ujar Rania.
"Jangan bawa-bawa dia, jangan menyalahkan orang lain salahkan aja diri kamu sendiri," kata Dirga semakin membuat Rania kesal, Sena sudah benar-benar berhasil membuat Dirga berujar seperti itu kepadanya.
Akan ada sesuatu hal yang akan nanti Rania perbuat sampai membuat keduanya terpecah belah, ia tidak suka di kalahkan oleh seorang bocah seperti Sena.
TBC.
__ADS_1
Di harap memberikan Like, Vote dan Komentarnya ya prend memberikan keempat poin itu sangat gratis. :)