
Kebahagiaan bagi Sena sekarang adalah dapat diterima di keluarga Sebastian dan rasa bahagia karena pria yang di cintai nya pada akhirnya mau mengakui segala kebenarannya.
"Sen besok lo enggak sibukkan, gue pengen ketemu sama lo."
Pesan singkat dari Nico berhasil membuat Sena merasa gundah, dia pun ingin menemui pria yang selama ini telah berjasa dalam hidupnya tapi selama dua minggu lebih ini Sena bahkan tidak pernah keluar dari rumahnya sama sekali. Mungkinkah ia harus izin terlebih dahulu pada Dirga tapi rasanya mustahil pria itu memberikannya izin.
Dirga yang sekarang melihat Sena tengah duduk di sofa yang berada di kamar mereka, ia bisa melihat dengan jelas jika istrinya itu seperti sedang memikirkan sesuatu haruskah dia bertanya atau tetap berdiam saja.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Dirga seraya memeluk istrinya dari belakang.
"Aku enggak mikirin apa-apa," jawabnya yang semakin membuat Dirga tak percaya.
"Kalau ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan sama aku, omongin aja." ujarnya seraya menyelipkan anak rambut di telinga Sena.
Senyum tulusnya terpancar begitu jelas dan rasa kedamaian bisa Sena rasakan di antara keduanya.
"Mas enggak akan marah kan kalau aku ngomongin tentang hal ini," kata Sena berkata pelan dan seketika Dirga tersenyum mengangguk dengan pelan.
"Ngomong aja, aku janji enggak akan marah lagi maaf untuk segala hal yang pernah aku perbuat sampai ngebuat kamu ketakutan kayak gini sama aku, sekarang bilang kamu mau ngomong apa sama mas?" ujar Dirga menumpukan kedua tangannya dengan tangan Sena.
"Nico ngajakin aku ketemuan.. Aku mau minta izin sama kamu untuk bertemu dengannya, aku hanya mau bilang makasih sama Nico karena selama sebulan lebih ini dia yang selalu bantu aku." ujar Sena yang berhasil membuat Dirga menghela nafasnya sejenak sampai akhirnya suaminya itu tersenyum kembali.
"Ya, aku mengizinkanmu bahkan kalau kamu mau mas akan akan temani kamu." Sena mengangguk dan memeluk Dirga tak percaya jika pria itu bisa menahan emosinya saat dia mengucapkan nama pria lain di hadapannya, apalagi sampai berani meminta untuk bertemu.
Ya, Dirga seperti ini karena ia benar-benar ingin memulai hidup baru dengan Sena, ia harus mengembalikan rasa berani dan kepercayaan diri pada wanitanya agar seperti dulu kembali.
***
__ADS_1
Nico telah menunggu Sena di tempat biasa mereka bertemu dan sekarang wanita itu benar-benar menampakkan dirinya dia sendiri tidak di temani Dirga pria itu tetap memilih untuk menunggu di tempat parkiran demi menghargai pertemuan mereka.
"Hai bumil gimana kabarnya sehatkan?" Sena mengangguk dan mengambil duduk di depannya.
Nico telah memesankan makanan untuknya.
"Sen lo bisa keluar dengan mudah ketemu sama gue, apa si Dirga enggak bakalan curiga nantinya?"
"Tenang aja gue udah izin sama dia," katanya seraya memakan makanannya.
"Jangan bilang lo udah baikan sama si Dirga?" Sena mengangguk dan jawaban itu berhasil membuat Nico tak senang.
"Sen lo yakin mau balikan lagi sama dia setelah apa yang dia udah selama ini dia perbuat sama lo? Lo yakin, please Sen pikirin semua ini dengan baik," ujar Nico. Sena paham kekhawatiran Nico kepadanya tapi mau bagaimana pun ia tidak mau egois hanya memikirkan dirinya sendiri.
"Gue ngelakuin ini karena demi kebaikan anak gue nantinya Nic,"
"Kebaikan lo apa karena lo masih cinta sama si Dirga?" Sena meletakkan sendok dan garpu nya dia tak suka dengan pembicaraan mereka kali ini.
"LO CUMA MIKIRIN PERASAAN DIA TAPI LO ENGGAK PERNAH MIKIRIN PERASAAN GUE," ucapnya yang berhasil membuat Sena yang mendengar ia mengerutkan dahinya.
"Maksud lo apa Nic?"
"GUE SUKA SAMA LO, GUE CINTA SAMA LO! Gue baik selama ini karena ada tujuan tertentu, Gue bukan orang munafik yang enggak berharap kalau hubungan lo sama dia berpisah!" Sena menggeleng ia tidak percaya Nico bisa berharap seperti itu kepada hubungannya dengan Dirga.
"Nic gue selama ini udah anggap lo seperti sahabat gue sendiri, dan sori gue enggak mungkin berpisah dengan mas Dirga," jawab Sena.
Nico menggeleng, "Lo lupa gue yang selama ini ada buat lo, gue rela di hajar sampai masuk rumah sakit demi lo, gue bahkan rela jadi tersangka saat lo bilang kalau gue yang menghamili lo padahal pelakunya si br*engsek itu." Sena terdiam mendengarkan segala penuturan Nico kepadanya.
__ADS_1
"Gue minta maaf karena udah melibatkan lo dalam permasalahan ini Nic dan thanks untuk segala kebaikan lo sama gue,"
Nico menghela nafasnya percuma juga dia mengucapkan kata segala sesuatu apapun itu, tidak akan pernah bisa merubah segalanya kenyataannya selama ini ia hanya di anggap sebagai sahabatnya dan sudah seharusnya dia merelakan perasaan bodohnya ini yang sudah mencintai wanita milik pria lain.
"Ok, gue enggak akan memaksa lo lagi untuk berpisah dengan Dirga itu hak lo Sen tapi sebelum makan malam ini berakhir boleh gue peluk lo untuk ke terakhir kalinya, pelukan persahabatan." ujar Nico yang langsung di beri pelukan persahabatan oleh Sena.
Sena sadar tidak ada persahabatan antara pria dan wanita karena pada akhirnya salah satu diantara mereka pasti ada yang memiliki perasaan lebih pada persahabatan mereka itu.
"Thanks Sen," katanya setelah pelukan itu terlepas.
"Gue yakin lo pasti bahagia bersama Dirga,"
"Gue juga yakin lo pasti bakalan bertemu dengan wanita yang tepat." Sena menepuk-nepuk pundak Nico dan sekarang Sena memilih untuk pulang karena ia tidak bisa berlama-lama membuat Dirga menunggunya lebih lama.
Nico mengantar Sena sampai depan dan ia bisa melihat dengan jelas Dirga yang telah menunggu Sena di depan mobilnya, pria itu pun menghampiri Sena dan Nico yang berada tak jauh darinya.
"Sudah?" Sena mengangguk seraya merangkul lengan Dirga.
"Ga, jaga dia dengan baik," kata Nico.
"Iya, saya pasti akan menjaga Sena dengan baik dan sori untuk kejadian kemarin," katanya seraya tersenyum dan Nico memaafkannya.
"Ayo mas kita pulang," Sena tersenyum pada Nico sebelum ia benar-benar pergi.
Setelah melihat keduanya masuk ke dalam mobil dan mobil itu telah melaju pergi dari pekarangan parkiran, seketika rasa sakit menyengat di dalam dada Nico perasaannya hancur seketika saat Sena lebih memilih untuk bersama Dirga.
Dari awal perasaannya memang sudah salah wanita itu hanya menganggapnya sebagai seorang teman tapi ia menganggapnya terlalu berlebihan, mau tidak mau Nico harus secepatnya melupakan perasaannya pada Sena karena bagaimana pun sekarang dia sudah tahu jika Sena telah menikah dengan Dirga dan ia tidak ingin terus-terusan menganggu rumah tangga wanita yang dicintainya.
__ADS_1
TBC.
Di harap memberikan Like, Vote dan Komentarnya ya prend memberikan keempat poin itu sangat gratis. :)