
"Senang bisa berkenalan dengan lo Sen, "
"Iya gue juga,"
"Nico!"
"Oi ben,"
"Cepetan sini acaranya udah mau di mulai,"
"Gue ke sana dulu ya, gue pastikan kita bisa mengobrol lebih lama lagi nanti." ujarnya seraya tersenyum manis pada Sena.
Sena lebih memilih berdiri dari kejauhan bersama beberapa orang yang tidak ia kenali pasalnya ia tidak di cari untuk ikut berdiri di atas podium bersama mereka yang akan menyaksikan Maudy meniup lilinnya.
Dan saat ia melihat Maudy memberikan potongan kue pertamanya untuk Nico. Sena bisa menebak sepertinya saudara tirinya itu menyukai Nico.
Acara terus berlanjut tapi Sena sudah merasakan bosan pasalnya tidak ada satupun yang ia kenali di sini, coba saja Resti dan Flo berada di sini mungkin ia tidak akan merasa bosan seperti ini.
Sena memilih keluar dari dalam hall yang di mana di sana terdapat balkon. Di sini, terasa nyaman dari pada di dalam hall yang terasa terlalu ramai tapi ia merasa kesepian di sana.
Sebuah tangan memeluknya dari belakang berhasil membuatnya terkejut dan menoleh melihat siapa yang memeluknya.
"Mas Dirga, mas ngapain lagi sih. Lepasin enggak!"
"Kalau saya enggak mau gimana?"
"Mas Dirga jangan kurang ajar ya,"
"Siapa yang kurang ajar?" Dirga membalik tubuh Sena untuk saling berhadapan dengannya.
Deg! Jantung Sena berdegup lebih kencang dari seperti biasanya. Sena memalingkan wajahnya saat Dirga menatapnya.
"Siapa pria barusan itu?"
"Siapa?"
"Yang tadi mengobrol denganmu,"
"Nico maksudnya,"
"Oh jadi Nico namanya,"
"Kenapa memangnya?"
"Saya tidak suka melihat kamu terlalu dekat dengannya,"
Sena mencoba mendorong tubuh Dirga tapi semakin ia mendorongnya semakin kuat Dirga merengkuh pinggangnya untuk saling berhadapan.
__ADS_1
"Mas Dirga ngapain sih, lepasin enggak nanti kalau orang lihat bisa salah paham."
"Enggak akan ada yang lihat,"
Benar kata Dirga tidak akan ada yang melihat pasalnya hall dan balkon terpisah karena tertutup dengan pintu kaca yang menghalanginya.
***
Daripada terus memaksa Dirga melepaskan pelukannya percuma juga, semakin erat di peluknya alhasil Sena mengalah dan terdiam pasrah bahkan sekarang Dirga membalikkan tubuhnya kembali mereka melihat langit bersama sambil tangan Dirga yang masih memeluknya.
"Kamu lihat langitnya warnanya cerah bukan?"
"Iya, terus kenapa?"
"Saya suka melihat langit seperti ini,"
Sena menatap tangan Dirga yang masih memeluknya, maksudnya Dirga suka melihat langit dengan berpelukan begitu.
Tapi hal yang tidak waras sedang ia lakukan adalah mau saja di peluk suami orang seperti ini, apalagi pria ini adalah kakak iparnya sendiri.
"Mas lepasin ah,"
"Saya enggak mau biarkan seperti ini dulu, nanti jika sudah pulang rumah saya sulit bersama kamu."
Sena benar-benar tidak bisa memahami ucapan Dirga barusan, otaknya benar-benar terkontaminasi sulit untuk memahami kalimat seseorang.
"Saya akan melepaskan kamu, asal kamu mau menuruti perintah saya."
"Apa cepat katakan dan lepasin aku mas,"
"Apapun itu,"
"Iya!"
Sena kesal pria ini benar-benar menguji kesabarannya. Apa susahnya mengatakan dengan begitu ia bisa lepas dan cepat pulang.
Dirga membalikkan tubuhnya menatapnya kembali.
Cup! Sebuah ciuman mendarat sempurna di bibir Sena, Sena cukup tersentak mendapatkan ciuman itu ia berusaha menutup bibirnya tapi Dirga lebih pintar darinya ia mengigit bibir bawahnya membuat bibirnya terbuka berhasil membuat lidah Dirga masuk mengeksplornya lebih dalam.
Persetan! Dengan semuanya mari kita selesaikan. Agar dirinya secepatnya terlepas dan bisa cepat pulang, Sena mengalungkan tangannya ia sebenarnya tidak terlalu mengerti akan berciuman tapi semakin lama ia memahami dan mengikuti gerakannya.
Sena mendorong tubuh Dirga ia membutuhkan oksigen lebih.
"Sudah puas!"
Sena langsung pergi keluar dari dalam gedung itu ia langsung terburu-buru untuk pulang tidak memperdulikan Dirga yang masih terdiam di balkon merasa bersalah dengan apa yang ia lakukan.
__ADS_1
***
Sena menatap dirinya di depan cermin, pagi ini ia harus berangkat ke sekolah tapi rasanya ia malas turun ke bawah takut berpapasan dengan Dirga.
Bibirnya bawahnya bengkak bagaimana jika ada yang bertanya kepadanya, bagaimana ia menyangkalnya.
Dan benar saja ia berpapasan dengan Dirga kembali, pria itu menatapnya dengan tatapan bersalahnya tapi Sena langsung memalingkan wajahnya ia buru-buru keluar.
Di sekolah Sena tampak lebih banyak diam, ia kesal karena sedari otaknya selalu mengingat ciuman tadi malam sebenarnya ia tidak memungkirinya Sena juga menikmati ciuman itu tapi yang ia sesali kenapa ia harus melakukannya dengan kakak iparnya sendiri.
Tidak tahu malu, ya dia pantas di sebut seperti itu.
"Sena pulang sekolah lo sibuk enggak kalau free kita nongkrong bentar yuk," ujar Flo antusias.
"Lihat nanti aja ya.. Mood gue lagi enggak fresh."
Resti menangkup wajah Sena berhasil membuat sang empu mengerutkan dahinya.
"Bibir lo kenapa? Bengkak kayak gini."
"Lo habis ciuman ya," Sena gelagapan mendengarnya ia berpikir keras.
"Apaan sih siapa juga yang ciuman, ini semalam gue enggak sengaja jatuh gara-gara pakai high heels,"
"Lagian lo habis dari mana pakai high heels segala,"
"Gue semalam menghadiri pesta ulang tahun saudara tiri gue,"
Mereka berdua ber-ohria menanggapi ucapan Sena barusan tapi tidak dengan Resti ia tidak bisa di bohongi ia bisa membedakan mana bekas ciuman dan mana luka sehabis jatuh.
Saat Flo keluar beralasan membeli minuman sebentar untuk mereka, Resti yang sekarang bersama Sena ia langsung menggoda temannya itu.
"Sen gimana rasanya?"
"Rasa apa?"
"Ayolah Sena, gue tuh bukan Flo ya yang polos enggak tau apa-apa,"
"Luka di bibir lo itu bukan karena jatuh kan tapi karena di gigit manusia," ujarnya pelan sambil tertawa renyah.
"Lo bisa diem enggak jangan bikin mood gue tambah buruk tau enggak,"
"Duh sensi amat si bu, udah sejauh mana ciumannya."
"Resti!" Sena menggeplak kepala temannya itu, berharap Resti amnesia setelah di geplaknya.
Dari situlah, hanya seorang Resti yang tidak bisa Sena bohongi tapi ia bersyukur Resti teman yang mau di ajak kerjasama.
__ADS_1
TO BE CONTINUED..