Love Toxic

Love Toxic
Bab 22 - Groin


__ADS_3

Dari satu jam lebih mereka masih tak berhenti dari aktivitas panasnya bahkan sekarang wanitanya berada diatasnya menaik turun kan pinggangnya.Baik dari keduanya tak menyangka jika melakukan *** ternyata senikmat ini.


"Mas aku.. " Sena terus mempercepat gerakannya.


"Tahan kita bersama," Sena mengeluarkan pelepasannya lebih dulu tapi Dirga masih saja belum kunjung keluar.


Dirga menarik dirinya membalikkan posisi ia harus menuntaskannya, mempercepat gerakannya, "Oh so hot!" Plak! Dirga menampar pantat wanitanya.


"Aku.. sayang.." Dirga mengusap wajahnya melepaskan pelepasannya dengan sempurna di dalam milik Sena.


Rasanya Dirga ingin melanjutkannya kembali di ronde ketiganya tapi ia masih ingat waktu besok pagi Sena harus berangkat sekolah jadi ia tak ingin membuat Sena kesakitan saat berjalan nanti.


"Maafkan saya yang tidak dapat mengontrol diri," katanya seraya mencium bibir Sena sebelum menarik diri Sena langsung memeluk leher Dirga mengajaknya berciuman lebih.


Harusnya Sena menolak dari awal tapi ia sudah menerima segala resikonya jadi lagi pula untuk apa menyesali apa yang sudah mereka perbuat.


Sena mengangkang mencoba menyatukan kembali milik keduanya tidak perduli besok bagaimana keadaannya yang jelas ini benar-benar sangat nikmat.


"Kamu yakin?" tanya Dirga melihat Sena yang memejamkan matanya saat penyatuan milik keduanya.


"Sena terus sayang,"


Baik dari keduanya sama-sama menikmati permainannya, Mereka melakukannya lagi dan lagi sampai jam 3 dini malam.


***


Sena terbangun dari tidurnya kepalanya terasa pusing jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi ia melihat dirinya yang tak ternyata Naked. Sena pikir semalam itu mimpi ternyata nyata dan dimana pria itu sepertinya Dirga sudah kembali ke kamarnya.


Selangkangannya terasa perih, Sena menarik selimutnya untuk menutupi tubuhnya ia segera memasuki kamar mandi melepaskan selimutnya ia melihat dengan jelas begitu banyak kissmark di tubuhnya terutama di bagian kedua ***********.


Sena merasa dirinya sudah tidak waras karena berani bercinta dengan kakak iparnya sendiri.Ia langsung menjalankan shower mengguyur tubuhnya dengan air dingin.


Badannya terasa pegal akibat percintaan panasnya dengan Dirga bahkan sekarang Sena masih ingat dengan jelas setiap adegan yang mereka lakukan.


"Ayolah Sena berhenti berpikiran kotor,"

__ADS_1


Secepatnya Sena membersihkan tubuhnya bisa-bisa ia telat karena terlalu banyak melamun di dalam kamar mandi, menyesal itu pasti tapi semuanya sudah terlanjur lagi pula Sena tidak munafik ia bahkan masih ingat ketika dirinya terus meminta Dirga melakukannya kembali, Jadi mari lupakan penyesalan itu.


***


"Sena kaki lo kenapa?" tanya Flo seketika saat ia melihat cara jalan Sena yang sedikit aneh.


"Kepleset di kamar mandi," Flo terkejut mendengarnya beruntung Sena masih baik-baik saja.


Sena duduk diam dengan tenang di bangkunya baru saja Sena merasakan ketenangan seketika ia melihat Juan di ambang pintu menghampirinya.


"Sena,"


"Juan ada apa?" tanya Sena bingung.


"Sen tolong jelasin sama gue kalau waktu kemarin itu lo berbohong kan sama gue tentang lo yang mengiyakan gosip lo punya pacar?" Sena menatapnya kasihan.


"Sorry Juan tapi emang kenyataannya gue udah punya pacar jadi gue minta sama lo please berhenti ganggu gue, apa enggak cukup dengan kita berteman." Juan menggeleng ia tidak mau sekedar berteman.


Resti ikut membantu Sena, ia hanya bingung sejak kapan seorang Juan jadi orang yang pemaksa dan tidak tau diri seperti ini.


Juan menatapnya, "Sen gue masih yakin kalau lo itu sedang berbohong sama gue, sebelum gue ngeliat dengan jelas siapa tuh cowok gue baru beneran bakalan percaya kalau lo udah punya pacar tapi jika sekedar foto sorry gue enggak percaya." ujarnya seraya membalikkan badan dan keluar dari kelas Sena.


Sena benar-benar di buat bingung akan sikap Juan yang keras kepala Sena tahu Juan menyukainya tapi ia juga tidak mungkin menjalin hubungan dengan Juan, bisa berangkat dan belajar di sekolah dengan nyaman adalah keinginannya.


"Lo tenang aja Sen, nanti juga si Juan bakalan bosen sendiri ngejar-ngejar lo tapi terus pertahanin sikap cuek lo jangan kasih kendor." Sena mengangguk saran dari Resti memang ada benarnya toh suatu saat nanti Juan pasti akan bosan dengan sendirinya.


***


Sena sudah bisa menebak jika Dirga pasti akan menjemputnya lagi, Sena mengira jika Dirga adalah seorang pengusaha pasti waktunya sangat sibuk tapi sekarang lihatlah pria itu hampir setiap hari mengantar dan menjemputnya pulang sekolah.


"Apa kamu enggak punya kesibukan huh, setiap hari selalu menjemput ku. Aku bisa pulang sendiri tau.. "


"Apa masih terasa sakit?" Dirga mengubah topik pembicaraan mereka.


"APA! Apanya yang sakit, mas ini lagi bahas apa sih."

__ADS_1


"Tadi aku melihat cara jalanmu, maaf semalam aku terlalu bersemangat." Sena memukul lengan Dirga berharap pria itu mengerti jika dirinya tak terlalu menyukai obrolan mereka di siang hari ini.


Dirga tersenyum senang karena berhasil membuat Sena malu akan godaannya.


"Apa kamu mau periksa ke dokter mungkin bisa mengurangi rasa sakitnya,"


"Mas bisa enggak diam, fokus nyetir dan enggak perlu bahas-bahas hal itu lagi." Sena merasa menyesal harusnya tadi ia langsung pulang naik bus di bandingkan harus satu mobil dengan Dirga.


Bukannya pulang Dirga mengajaknya ke Vila nya hal ini berhasil membuat Sena berpikiran yang tidak baik tentang pria itu, apa mungkin Dirga akan mengajaknya melakukan aktivitas seperti malam waktu itu.


Sungguh demi apapun, di bawah dana masih terasa sakit.


"Apa yang kamu pikirkan, jangan bilang kamu memikirkan tentang semalam?"


"APA! TIDAK!" Sena menggelengkan kepalanya mencoba menghilangkan pikiran kotornya.


Keduanya masuk ke dalam Vila dan sekarang degup jantung Sena berdegup tidak karuan, ia mencoba merilekskan pikirannya dan mencoba bersikap santai duduk di ruang tengah yang menghadap langsung dengan pemandangan indah di depannya.


"Kamu bisa bersantai disini.. Kamu mau makan?" Sena mengangguk Dirga langsung memesankan makanan untuknya.


Sena menatap Dirga yang sekarang tengah memejamkan matanya pikirannya terlalu lelah akibat permasalahan di kantornya. Dirga baru saja kerugian besar.


"Mas kenapa, ada masalah?" Dirga membuka matanya ia melemparkan senyum manis akan pertanyaan Sena barusan.


"Tidak ada masalah apapun, oh iya aku mendapat kabar dari ibumu jika operasi ayahmu berjalan cukup baik." katanya seraya bangun dari tidurnya dan memeluk Sena dari samping membenamkan kepalanya di pundak Sena.


"Syukurlah aku lega dengernya,"


"Apa ibumu tidak memberikan kabar tentang ayahmu?" Sena menggeleng.


"Mama enggak pernah menelepon ku sama sekali, aku aja denger kabar papa sakit pas enggak sengaja denger obrolan mba Sarah sama Maudy."


Jangankan memberitahu tentang kondisi ayahnya menanyakan kabar pun tidak pernah, bahkan setiap kali Sena mengirimkan pesan pada ibu tirinya itu tidak pernah di respon.


Mendengar ucapan Sena barusan membuat Dirga semakin merasa ia ingin memberikan seluruh kebahagiaanya untuk Sena. Gadis itu selama ini tidak pernah merasakan kasih sayang seutuhnya dari kedua orang tuanya masih bisa hidup di dunia ini saja sudah membuatnya merasa sangat bersyukur.

__ADS_1


TO BE CONTINUED..


__ADS_2